15.01 – 15.46
Setiap yang bermula pasti memiliki akhir. Akhir dunia dan zaman adalah sebuah keniscayaan. Sedangkan malaikat maut adalah kepastian yang akan tersenyum padamu.
Tanganku jauh dari kepalan untuk memekakan telinga kalian sembari berteriak, “Mari rebut masa depan”.
Masa depan bukanlah milik saya saja. Masa depan adalah milik siapa saja yang memiliki kesempatan dan kemauan untuk maju, melangkah dalam derau kendaraan dan senyap nyanyian surau yang usang tergigit elegi modernitas dan sang Leviathan.
Seberapa jauh masa lalu bagi kamu?
Seberapa dekat masa depan dengan kamu?
Seberapa dahsyat detik ini dan saat ini juga bagi kamu?
Kemarin aku menyusuri hari yang teramat sangat panas sembari duduk manis di kendaraan roda dua temanku. Matahari sangat menyengat, bagai ratusan lebah gila yang hilang arah pulang.
Aku menjemput memori kegilaan di ruang penuh buku usang dan tawa orang-orang yang tak kukenal. Mencoba mengembalikan ingatan lalu yang tidak lagi sarat makna.
Loh. Aku tidak menuntut makna. Aku menuntut bentuk yang nyata.
Sorenya. Langit muram dan tampak awan kelabu mewarnai senja.
Aku menyebrangi rel ganda. Menyusup di antara kendaraan yang beringas seperti anjing gila yang tak berhenti berlari mengejar mainan yang dilempar sang majikan.
Aku sendiri. Dan aku tak membutuhkan teman selain bayanganku yang menjorok kearah barat. Lelaki tanpa kerah dan dasi yang menyesaki ibu kota dan tamu bagi tuan rumah yang tak murah senyum.
Seperti biasa. Kereta tua berdesakan. Kereta sumbangan kali ini nampak lebih parah lagi. Kereta berikutnya yang kunaiki justru terlihat sedikit lebih manusiawi.
Keputusan tak penah bergantung sendiri. Keputusan selalu berawal dari timbangan bulan libra yang tak juga pernah setara, tak juga mungkin setara.
Sudahlah. Aku menyerah kali ini. Seperti takluk pada serangan massa 1 mei.
Semua berbeda. Dan akan tetap begitu.
Untuk kesekian rotasi mentari dan rembulan aku meludahi mimpi yang tak terwujud setiap hari.
Semalam aku menikmati setiap langkah sang pejalankaki menyusuri hamparan aspal, tanah, beton, dan tanah.
Semalam aku menengadah ke angkasa, “Oh, langit malam ini nampak cantik sekali. Bulan sabit terlihat manis, sang bintang-bintang kecil menatapku penuh tingkah.”
Aku ingin bertanya beberapa pada mereka:
“Apakah kamu tidak bosan bergantung dilangit?”
“Apakah kamu tidak bosan sendiri wahai bintang tunggal?”
“Apakah kamu tidak bosan berevolusi duhai bulan sabit yang kelak menjadi purnama?”
Aku membayangkan jawaban mereka. Ya, aku mampu sedikit saja membayangkan jawaban mereka!!!
Mereka akan menjawab:
Sang bintang, “Tidak. Aku tidak bosan. Aku terlahir dan tercipta seperti ini. Dan aku tak menyesal. Justru aku bahagia karena dapat berbagi dan memantulkan cahaya pada bintang lainnya.”
Sang bintang terdiam sejenak.
Kemudian dia berkata lagi, “Kebahagiaan terbesarku adalah saat manusia melihat kerlipku, mencintai, dan memberi nama padaku seperti nama orang yang mereka cintai. Kebahagiaanku yang lain adalah saat manusia menggantungkan harapan dilangit, maka itulah yang menyebabkan kami akan tetap ada, istimewa dan bersinar dengan kerlip nan menawan.”
Sang bulan menyahut, “Dan satu yang harus kau tahu wahai pejalankaki, wahai penyendiri yang agung!!! Bahwa, kau tidak sendirian. Tapi jika kau memilih untuk sendiri, jadilah seperti kami, jadilah cahaya bagi orang-orang disekitarmu.”
Sembunyilah saat kau perlu waktu untuk sendiri. Dan berlarilah telanjang bebas dalam hujan deras saat kau butuh ruang riuh dan ramai.
Resapi hidup. Seperti dahan kering yang meminta untuk kembali hidup.
Hiruplah nafas walau dalam kekangan, namun ingatlah bahwa udara yang kau miliki tetap bebas dan udara yang sama yang mengekangmu hirup kelak akan membebaskanmu.
Ya. Membebaskanmu dari hidup. Memerdekakan jiwamu yang agung yang tenggelam dalam tubuh rapuh yang kian membusuk.
Aku tak perlu diajari oleh siapapun. Apapun yang hendak kau katakan merupakan nyanyian dalam kepalaku yang terus dan tak pernah bosan mengetuk jiwa ini untuk terus sadar dan tak terpejam sebelum waktunya.
Wajah lelah dan khawatir para peserta sidang skripsi sekejap sirna mendengar keputusan tersebut. Kami segera menghampiri dan bersalam dengan ketiga penguji, kemudian saling bersalaman satu sama lain.
Ruang tersebut segera dipenuhi aura positif dari kebahagian semua yang ada di dalamnya. Kami mendapat salam dan ucapan selamat dari teman, sahabat, dan orang-orang tercinta yang menonton sidang skripsi hari itu.
Sekarang saya menganggur dirumah. Menunggu saat wisuda. Menuju dunia yang sesungguhnya!!
_________________________________________________________________
6 tahun lalu saya mencoba peruntungan SPMB di Universitas Indonesia jurusan Humas dan Filsafat, hasilnya nihil, gagal. Walhasil, saya memilih untuk masuk kampus yang sama dengan kakak saya di Kampus Tercinta IISIP Jakarta. Mencoba ikut ujian gelombang ke dua dengan pilihan Jurusan Hubungan Masyarakat dan Hubungan Internasional. Dan akhirnya saya diterima di Jurusan Hubungan Masyarakat.
Di 2 tahun pertama, kuliah terasa berat dan tidak menyenangkan karena naik turunnya IP dan IPK akibat masih terbawa kebiasaan semasa SMA dulu. Banyak pengalaman buruk dan lucu disini mulai dari di usir dosen, mengulang mata kuliah, di sebut tukang “obras” oleh dosen, bolos kuliah, patah hati lagi dan lagi, jatuh cinta lagi dan lagi, termasuk yang jarang membuat “batik” ujian, ditegur Ibu Rektor akibat tidak cross check sebelum membuat statement di Epicentrum tahun lalu, dan masih banyak lagi.
Oh,iya. Setiap hari saya pulang pergi dari Bogor menuju kampus menggunakan jasa perkeretaapian Indonesia yang sangat nyaman sekali! Mulai dari adegan berdesakan yang lebih ganas daripada moshpit di gigs hardcore/punk, menjadi saksi adegan pencopetan, penjambretan, hingga modus esek-esek lelaki kurang kerjaan.
Satu hal sangat berkesan adalah saat hari pertama saya masuk kuliah, berangkat menggunakan kereta pukul 7.20. Itu pertama kali saya berangkat kuliah sendiri, lupa harus turun di stasiun mana. Karena panik, saya turun di stasiun Universitas Pancasila, parahnya karena saya pengguna kereta amatir, saat turun saya terdorong dan jatuh jungkir balik, otomatis ada yang teriak histeris dan juga ada yang menertawakan haha. Bingung harus naik apa, saya memutuskan naik bus kearah pasar minggu, untung saja bus itu tepat menngantar saya ke depan kampus.
Sesampainya, saya mencari ruang kuliah di mading. Kuliah pertama di ruangan 2-4, tapi saya kurang yakin itu pelajaran agama atau pancasila yang di ajar oleh Pak Yafiz. Saya terlambat. Bodohnya, karena masih terbawa kebiasaan kala SMU, saya mengetuk pintu dan mengucapkan “Assalammualaikum wr.wb.”, serentak seisi kelas tertawa, karena setelah saya tahu, telat ataupun tidak kala masuk kelas salam bukanlah hal yang lumrah dilakukan mahasiswa/i. Walaupun demikian, masih ada beberapa teman yang tetap mengucapkan salam saat masuk kelas.
Selanjutnya, saya tidak pernah mengucapkan salam saat terlambat masuk kelas!
Intermezo.
Siapa yang belum pernah menikmati aroma khas toilet pria di depan Mushola? Beruntung sekarang sudah agak wangi dan lebih bersih.
Siapa juga yang masih buang sampah sembarangan? Jangan nakal, sekarang sudah banyak tong sampah loh!
Rasanya ada yang kurang menjadi mahasiswa jika belum pernah berpartisipasi dalam demonstrasi sebagai aksi solidaritas menyuarakan aspirasi. Saya pernah ikut demo akbar anti kenaikan harga BBM tahun 2008 kalau tidak salah. Berkeringat, bau badan, tapi lucunya ada beberapa teman wanita yang ikut justru malah berfoto-foto.
Saya pernah mengalami setiap jenjang IP, mulai dari 0.69, 1.5, 2.8, 3.8. Lucunya saya masih bermimpi bisa Cum Laude. Sempat berpikir menjadi seorang aktivis, tapi saya justru menjadi pasivis yang tidak terlalu ambil pusing pada apa yang terjadi pada Negara, dan memilih untuk memulai dari diri sendiri, rumah, teman, dan lingkungan sekitar dengan membentuk Kolektif berdasarkan ide Do It Yourself (DIY) dengan beberapa teman-teman di Bogor.
Di perpustakaan yang kalau hujan sering bocor atapnya, saya menemukan kolksi buku langka yang jarang di cetak ulang seperti karya Albert Camus berjudul Krisis Kebebasan dan juga Sampar, karya Nietzsche berjudul Kehendak Untuk Berkuasa yang mungkin jarang di baca oleh teman-teman lainnya. Karya-karya Hemingway dan Habermas yang sepertinya masih berdoa untuk dilirik, dan buku-buku berkualitas lainnya yang jarang di sentuh. Selain karena perpustakaan hanya dianggap sebagai sarana untuk mendapatkan buku terkait dengan teori penelitian, atau sekedar untuk menjangkau fasilitas hotspot, jarang di antara teman-teman yang membaca buku-buku diluar buku pegangan kuliah dan teori.
Itulah berbagai pengalaman saya selama di kampus tercinta ini. Sayangnya tidak banyak yang bisa diceritakan. Karena terlalu banyak pengalaman yang rasanya tidak akan cukup saya sampaikan dalam kesempatan ini dan saya juga tidak bisa merangkai kalimat yang tepat untuk menjabarkannya.
_________________________________________________________________
Yang jelas, selama 6 tahun kuliah disini saya mendapatkan banyak pengalaman baru baik di dalam dan di luar kelas. Saya mengamini pepatah bahwa “pengalaman adalah guru terbaik”, banyak hal berharga yang saya dapatkan dari luar kelas kuliah, bukan hanya sekedar mengejar nilai. Kuliah membutuhkan tanggungjawab, kemandirian dan sedapat mungkin membuang jauh rasa putus asa. Masih banyak di luar sana yang tidak mampu merasakan pelajaran dari bangku kuliah.
Persetan gaya politik. Persetan juga dengan romantisme.
Kamu teriakkan saja persetan dengan diriku.
Dia berseragam putih biru saat berkenalan. Ini bukan kisah cinta.
Ini hanya bentuk apresiasi pada adik kecil ku yang kini telah harum, wangi dan menjadi pujaan.
Ini bukan curhatan individu teralienasi. Oh. Aku sangat suka hidup terasing.
Dia banyak mengajari aku menjadi orang yang tetap percaya pada harapan.
Dulu lidahnya kelu dan bibirnya malu untuk mengumpat. Tapi bunga lili kecil itu kini telah jauh lebih pandai daripada aku si penjahat dari kaum despotic.
Aku pengidap neurosis, aku tantangan bagi diriku sendiri.
Obsesif kompulsif kalau orang bilang.
Kaumku dulu cukup besar dan sangat menyebalkan. Kini ego membunuh satu persatu.
Dia juga mengalami hal yang sama.
Senyumnya menghilang dari layar monitor dengan program Fruity Loops 3.
Abstrak. Aku suka kisah perjalanannya dan setiap antusiasme yang dia tunjukkan kala bercerita pengalaman dari kota ke kota.
Sejak pertama. Aku sudah menduga dia akan menjadi bunga yang cantik dan manis dalam kubangan pencaci, pengumpat dan fanatik misogini.
Aku percaya apa yang pernah kusampaikan padanya tidak terbuang percuma olehnya.
Hanya saja aku tidak bisa memastikannya untuk saat ini.
Entah dia akan berbelok kemana. Toh dia masih terlalu muda untuk berontak mungkin.
Demi Freud dan Simone de Beauvoir. Jangan jadikan dia santapan bagi para begundal pseudo~reality.
Demi 2pac dan Biggie Jangan biarkan dia terjebak dalam punchline dan rima berbau emas.
Dan wahai warna merah! Lindungi telinganya dari bisikan dajal bermata berlian.
Demi tarian tuhan dan para atheis. Jaga dia Dari siksa yang sengaja dan tidak sengaja aku tanam.
Ide ini sudah terkumpul sejak 2 hari yang lalu setelah mendengar lagu Sade-Bullet Proof Soul.mp3 ditambah pengaruh film CLOSER dan diskusi dengan Peri Kecil saya. Baru terealisasi sekarang ditengah kesibukan skripsi yang menggila.
Lagi-lagi saya merasa tulisan ini penting untuk dibaca/mungkin tidak juga.
Ada yang mengatakan kalau hidup ini seperti permainan catur. Setiap langkah harus dipikirkan dengan seksama dan hati-hati.
Baiklah. Cukup basa-basi di atas basa-basi.
Pernahkah kamu membayangkan sebuah kehidupan. Ya. Sebuah dunia tanpa cermin.
Kamu tidak tahu seperti apa wajah kamu. Dunia tanpa pantulan wajah. Air tanpa pantulan wajah. Narcissus tenggelam di danau akibat kekagumannya pada wajah sendiri.
Coba sekarang kamu berkaca. Atau kamui boleh lihat gaya andalan foto kamu di HP, folder foto di computer atau album foto jaman dahulu.
Nikmati metamorfosa wajah, mimic dan gesture yang kamu punya.
Saya bisa membayangkan dunia tanpa cermin.
Saya, kamu, kita: tidak tahu seperti apa wujud maupun wajah sendiri.
Saya, kamu, kita: hanya bias melihat wajah orang lain.
Lupakan ratu kecantikan dan pria idaman.
Lupakan gadis sampul dan iklan macho celana dalam pria.
Satu-satunya cara untuk melihat wajah kamu adalah dengan melihat focus, dalam, dan sangat dalam kedalam mata lawan bicara kamu.
Kamu akan tahu seburuk apa wajah kamu.
Lupakan selera. Tampan>Jelek, Cantik>Jelek.
Toh, kamu tidak bisa melihat wajah kamu sendiri.
Kamu akan lebih memperhatikan orang lain daripada diri sendiri.
Kamu akan merasa lebih merdeka. Seperti orang gila yang telanjang dipinggir jalan.
Ya. Kemerdekaan yang absolute hanya saya rasakan dalam kamar mandi.
TELANJANG. Saya tinggalkan semua atribut, pakaian, gengsi, hasrat, kehendak.
Hanya saya yang tahu apa yang terjadi di dalam situ.
Saya tidak bisa melihat hidung, pipi, dagu, alis, gigi, lidah, rambut, telinga dan bahkan mata saya sendiri. Kepala kalian saja yang saya lihat.
Kepala-kepala kalian berbeda bentuk, bervariasi. Seperti pelangi.
Saya berpikir, kalian juga pasti ingin tahu bentuk wajah kalian.
Maaf. Karena saya lancing dengan mudah bisa melihat wujud wajah kalian tanpa susah payah.
Maaf. Saya hanya bisa menceritakan wajah kalian kamu: pipi seperti si A, mulut seperti si B, mata si C, hidung si D.
Tapi tetap saja kamu tidak bisa membayangkannya, meskipun saya membuatkan lukisan atau sketsa wajah kamu. Beruntung bagi yang terlahir kembar. Kamu bisa melihat wajahmu dalam wajah kembaranmu.
Malam ini. Aku menceritakan dunia ini pada wanita yang ingin kupinjam hidupnya.
Lalu akau bertanya: “Siapa yang menuliskan sejarah? Yang menang atau yang kalah perang?”
Saat kamu memikirkan cinta. Itu hanya sebatas pikiran.
Cinta itu mesti dialami dan dihidupi, bukannya dipikirkan.
Kita sering meminjam waktu dari hidup orang. Bagi saya, setiap detik sangat berharga dalam hidup yang Cuma satu kali ini.
Saya tidak akan menghabiskan waktu dengan menabung. Saya tidak ingin membeli jaguar untuk liburan di Surga.
Saya melangkah tanpa tahu wajah saya sendiri. Tanpa pernah melihat wajah saya sendiri.
Tapi saya cukup bahagia dapat melihat kalian.
Tapi. Berikan saya sedikit waktu untuk ke kamar mandi.
Seorang gadis bercerita:
Dia berada di satu ruang kuliah. Bersama 99 mahasiswa/i. Seorang dosen lanjut usia bercerita didepan kelas tentang sebuah pelajaran berharga yang tidak bisa didapat dari ruang lainnya. Ruang itu begitu hening, membosankan, terang, terang dan terang. Rasanya semua ingin pergi ke toilet. Tapi ada sebuah daya magis, bandot tua itu menghipnotis hingga semua lekat di kursi masing-masing.
Gadis itu berpikir: “Lampu ruangan ini harus aku matikan supaya kejenuhan ini usai.”
Dia mematikan lampu.
Seisi kelas riuh, mengeluh. Pilihannya salah.
Dia mengira semua jenuh. Ya. Tapi mereka tidak lelah untuk menimba ilmu mata kuliah kehidupan.
Dia mengira. Dengan melihat wajah yang lainnya, ia bisa mewakilinya seperti sketsa.
Ya. Setiap hari adalah perang. Saya ingin selalu jadi pemenang. Maka saya mainkan peran dengan keras kepala. Terserah jika kalian punya pilihan lain.
Pernahkan terpikir? Setiap hari kita berfoya-foya! Bahkan tanpa uang sepeserpun. Nafas adalah harta.
Kita semua pernah lupa untuk bernafas. Tapi toh kita tetap hidup!!!
Oksigen masuk ke paru-paru, memompa jantung, memacu denyut nadi ke sekujur tubuh.
Hidup sangat layak untuk dijalani tanpa mengeluh. Walaupun saya masih suka mengeluh.
Terkadang saya merasa lelah membaca, karena semakin banyak saya membaca, ternyata semakin banyak hal yang tidak saya ketahui.
Apakah ilmu memiliki muara?
Seperti sisa hujan yang menyisakan pelangi.
Saya mengendap ke dalam jiwa-jiwa kalian hanya untuk mengatakan, “Sampai jumpa di dunia tanpa cermin.”
Saya ingin hidup merdeka di kamar mandi.
Tapi ruang itupun telah membatasi kemerdekaan saya.
Saya tidak memiliki kemerdekaan? Siapa yang memilikinya?
Oh, sungguh saya terkagum pada Albert Camus.
Jika cinta adalah senjata, maka manusia adalah martir.
Jika kejujuran hanya akan membuatmu punah, maka benar adanya bahwa kebohongan adalah mata uang dunia. Itu yang akan membuatmu kaya.
Tapi aku tidak ingin kaya. Aku hanya ingin menikmati hidup!!!
Mental Trip, Rock on!!!
Nb: di tulis di tengah kegalauan skripsi hehehe…
Seperempat Kebenaran. (Sebuah Percobaan ke Dua Merefleksi Pemikiran Albert Camus)
Minggu, 8 november 2009. (21.03-22.30).
“Tapi kita mungkin malah harus melawan kebohongan atas nama seperempat kebenaran”. Albert Camus.
Malam redup. Namun jiwaku sangat-sangat dan sunguh-sungguh terbakar dan bersemangat. Mungkin saja orang bisa jatuh cinta setiap saat, meskipun sebenarnya sekali saja cukup. Militansi dalam jiwa saya adalah sesuatu yang pasif dan laten, yang hanya muncul pada waktu-waktu senggang saja. Kebanyakan dalam keseharian walaupun beraktifitas super padat, jiwa saya tertidur. Mandul.
Saya lebih sibuk berpikir daripada berbuat. Pikiran saya jauh lebih luas dari perbuatan saya.
Berpikir sederhana tidak sama dengan berpikir pendek. Hidup terlalu singkat untuk membuang kesempatan pada satu jalan kebodohan yang tidak pernah kamu ketahui maknanya.
Siapa yang sungguh-sungguh suci untuk dapat menilai diri manusia lainnya? Kamu sekalian tidak pernah memiliki hak untuk itu.
Saya menghidupi zaman ini tidak seperti kawan-kawan sezaman saya menghidupi zaman ini. Terlalu banyak kekecewaan yang muncul setelah tumpukan buku-buku dan literature yang nyaris membusuk di sudut kamar membawa informasi dan angin segar bagi jiwa saya.
Entah apa gumpalan kertas itu membawa kebohongan atau hanya membawa seperempat kebenaran. Yang saya tahu saat ini saya memilih untuk menemukan kebahagiaan dan identitas diri yang beradaptasi, berasimilasi kemudia bermutasi menjadi makhluk pra-imitasi. Sekarang, saat skizoprenia kambuh, mulailah sedikit demi sedikit scopophilia menjangkiti pikiran.
Pseudo-reality. Oh, betapa serunya tayangan bertajuk “Reality Show”. Betapa memukaunya “Infotainment Gossip”. Setiap pagi, siang, sore dan malam menjejali pikiran.
Pada notes sebelum ini, saya menyatakan bahwa saya menemukan kemerdekaan di dalam kamar mandi. Saya bebas bertelanjang dan berbuat sesuka hati. Tapi hari ini saya berkata lain. Saya tidak pernah merasa menemukan kemerdekaan, apalagi kebebasanm dalam kamar mandi itu.
Kamar mandi dalam konteks ini bagi saya hanya menyajikan kemerdekaan semu. Selama ini saya salah dan telah membiarkan masyarakat yang gila ini tertawa di tanah lapang, sedangkan saya menyalurkan “kebebasan” hanya dalam petak-petak kamar mandi yang saya temui.
Seperempat kebenaran. Kurang dari satu, kurang dari setengah.
Saya nyaris selalu gagal menemukan kewarasan. Tapi toh saya telah memilih secara laten dan tidak terdefinisi apa yang saya perjuangkan (dan apa yang saya sangkalkan) dan pilihan criteria mengenai kewarasan secara personal di tengah masyarakat yang entah bagaimana awa mulanya hingga bisa mengidap penyakit kronis yang tak kunjung sembuh.
Bicara tentang kebebasan dan keadilan. Mereka adalah dua hal yang berkaitan. Saling mempengaruhi satu sama lain. Kebebasan tanpa keadilan akan menciptakan masyarakat barbar dan lebih dari setengah sinting daripada zaman ini. Sedangkan keadilan tanpa kebebasan adalah mimpi di siang bolong.
Kini saya memilih menuangkan air dalam kendi untuk bisa dinikmati seluruhnya oleh tanah, air, angin dan udara. Saya berharap bisa merdeka di luar kamar mandi.
Albert Camuys mengatakan dalam judul tulisan yang sama, “Jika kita harus gagal, akan lebih baik bila kita ada pada pihak yang memilih kehidupan daripada pihak yang memusnahkan kehidupan”.
Dunia ini memang harus dalam keadaan yang tetap mendidih agar selalu layak untuk dijalani. Setiap hari selalu menimbulkan alasan-alasan baru untuk menjalani hidup penuh dengan senyuman, bahkan pada kemunafikan sekalipun.
Saya juga bukan orang yang suci. Tulisan saya ini juga bekan sesuatu yang terlalu istimewa apa lagi saya banyak meminjam kutipan orang lain.
Tapi masalah kebebasan dan keadilan, kebenaran dan kebohongan tidak akan pernah berhenti, masyarakat harus terus maju dan diberi suplemen wacana meskipun hanya seperempat kebenaran saja. Selebihnya kita berikan kepada mereka ruang untuk mencari sesuatu yang ada diluar dirinya dan lingkungan terdekatnya tanpa paksaan dan tirani mayoritas.
Kompromi mutlak dilakukan?
Ya, untuk menerapkan seperempat kebenaran kita harus tetap hidup dan berbaur dengan masyarakat yang sakit ini. Seperti halnya manusia hidup untuk melanjutkan eksistensinya di dunia.
Menciptakan kebudayaan superorganic seperti yang disebutkan oleh Herskovits. Konstruksi realitas apa yang sebenarnya saya bayangkan? Entahlah. Dengan bersikap seperti ini saja toh akan adal orang yang menganggap saya menyimpang. Subversive. Padahal tidak juga. Saya ini pengecut koq!!!
Counter-culture seringkali dianggap sesuatu yang negative dalam masyarakat yang tunduk dan menyerahkan segala urusan keadilan dan kebebasan pada aparat. Maka tidak heran jika isu anarkisme sering di belokkan dan di pelesetkan oleh media sebagai sesuatu yang berbahaya, tindakan barbar, tidak bermoral dan merusak. Padahal tidak sepenuhnya benar.
Bahkan seperempat kebenaran saja sudah lebih dari cukup untuk mempengaruhi orang bukan??
Sedangkan Surjono Soekanto mengatakan dalam Pengantar Sosiologi, “Counter-Culture tidak harus diberi arti negative, karena adanya gejala tersebut dapat dijadikan petunjuk bahwa kebudayaan induk di anggap kurang dapat menyelaraskan diri dengan perkembangan kebutuhan-kebutuhan”. Dalam pengertian ini, ada sekelompok kecil elemen masyarakat yang mempunyai ide baru tentang kehidupan yang mereka serap dari budaya lain yang telah disesuaikan terlebih dahulu dengan budaya mereka sepenuhnya.
Karena kebudayaan merupakan sesuatu yang dinamis, maka perubahan yang terjadi di dalamnya merupakan sesuatu yang biasa.
Masyarakat, menurut Kingsley Davis, adalah sistem hubungan dalam arti hubungan organisasi-organisasi dan bukan hubungan antara sel-sel. Apabila mengambil definisi kebudayaan dari Tylor yang mengatakan bahwa kebudayaan adalah suatu kompleks yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat-istiadat dan setiap kemampuan serta kebiasaan manusia sebagai masyarakat. Maka perubahan-perubahan kebudayaan adalah setiap perubahan dari unsur-unsur tersebut. Lalu apa yang harus diatkuti dari perubahan sosial yang merupakan bagian dari perubahan kebudayaan?
Masalahnya kini, adalah bagaimana memadukan budaya-budaya yang ada agar “sesuai” dengan “selera” masyarakat?
Mengenai kebebasan. Dia bukanlah sesuatu yang tanpa batas. Kebebasan kita terbatas pada orang di sekitar kita sehingga kita harus terus beradaptasi agar tetap dapat menghidupkan ide-ide abru di tengah-tengah mereka.
Sebagai penutup, saya mengutip satu lagi quote Albert Camus, “Memilih kebebasan bukanlah memilih sesuatu melawan keadilan, seperti kata kebanyakan orang. Sebaliknya, saat ini kebebasan dipilih karena adanya orang-orang yang menderita dan berjuang dimana-mana dank arena hanya kebebasan seperti itulah yang patut diperjuangkan. Kebebasan dipilih pada saat yang sama dengan keadilan, dan dengan begitu kita tidak bisa memilih yang satu tanpa yang lain”.
Ya. Bahkan seperempat kebenaran telah lebih dari cukup untuk mempengaruhi orang lain. Seperempat dan setengah kebenaran lainnya, biarlah mereka yang mencari dan temukan dengan sendirinya.
wooHoow.. pernah dengar kalimat "tuhan telah mati, kita telah membunuhnya" haha..
semenjak manusia merasa mewakili tuhan di dunia, semenjak itu pula tuhan menjadi lemah. tuhan tidak butuh perpanjangan tangan.
jika para front~front theis, atheis dan anti~theis gemar membicarakan tuhan. mungkin si pria bijak di atas langit itu sedang tertawa terbahak~bahak.
tuhan adalah sebuah bola dalam pertandingan final antar keyakinan. siapapun yang menceploskan dia ke gawang, akan mendapat nilai 1.
tidak ada yang kalah di akhir pertandingan, sebab 22 pemain mendapat giliran menyepak bola dan menggiring ke arah yang pemain itu mau.
sedangkan wasit kita anggap sebagai pengamal kitab suci yang memberi hukuman kepada pemain yang melakukan tindakan curang. tapi terkadang tafsir wasit atas suatu aturan tentang pelanggaran tidak terjebak dalam teks yang tidak kontekstual. wasit butuh lebih banyak nurani daripada naluri menceploskan bola dan mencari kemenangan dalam satu pertandingan.
wufh. bola dunia berputar. berapa banyak warga dunia saat ini? siapa yang menjadi pemain? yang mana menjadi wasit?
jangan lupakan penonton. mereka netral saja, mungkin para agnostik dan atheis ada di dalamnya. tidak peduli siapa yang jadi pemenang. asalkan biasa sekedar menonton sepakbola atau membuat kericuhan dalam pertandingan.
lalu. apa peran kamu dalam stadion dunia mahabaratha ini? haha.
tuhan memang tidak gila. sebab dia tak mungkin dipelajari.
tapi kamu memang sinting, berusaha membelanya.
sudahlah. tinggalkan dia dalam kesendiriannya. yang walaupun karena kesendiriannya kita bisa tercipta.
poor human. poor hate. poor hope.
Tak apalah. Suara itu adalah panggilan yang baik.
Berminggu-minggu saya jarang berjumpa dengan pagi hari. Pagi dalam arti suasana. Saya kehilangan rasa peka untuk menikmati pagi hari.
Udara yang masih sejuk, embun, kabut, desir angin yang membuat tubuh merinding. Ada suatu kelembapan yang sulit untuk dijabarkan.
Matahari terbit dari belakang rumah saya. Terbenam di depan rumah saya. Menyengat di atas rumah saya.
Helios.
Energi murni yang sama yang telah menerangi hari-hari siang bertukar malam yang di alami nenek moyang manusia. Adam dan Hawa. Bagaimana mereka memaknai sifat matahari?
Matahari adalah saksi bisu dari milyaran sejarah manusia yang terjadi kala dia bersinar. Sisanya dia serahkan pada bulan yang selalu tak pernah bisa menepati tugasnya.
Matahari tentu tahu bahwa banyak hal keliru yang dilakukan manusia. Mungkin ini saat yang tepat mengganti lirik tembang lawas Doel Sumbang menjadi, "kalau matahari bisa ngomong".
Ya. Kalau saja begitu. Dia tentu akan memberitahu manusia bahwasanya kebencian itu tidaklah perlu diagungkan dalam kesumat hasrat yang tersumbat.
Bumi tidak sehebat itu.
Gandhi juga tahu. Kalau bumi mampu memenuhi kebutuhan manusia, tapi bumi tidak mampu mencukupi keserakahan manusia.
Para penulis sejarah mestinya sering-sering bertelepati dengan matahari. Karena sejarah-sejarah yang tak pernah tuntas membuat orang saling menikam.
Tulisan Sejarah mana yang kamu benarkan? Lukisan Sejarah mana yang kamu yakini?
Atau.
Apa kamu berani membuat sejarahmu sendiri?
Lahir, merangkak, berdiri, berjalan, berlari, istirahat, lalu mati. Siklus hidup yang nampaknya tak terelakkan.
Jadi kamu masih percaya sejarah 1 dimensi? Kamu masih saja mau jadi masyarakat tontonan? Masyarakat penonton. Pengikut tuan besar. Budak belian.
Saat kata direduksi maknanya. Disitu telah terjadi pengebirian logika.
Banyak istilah ekstrim yang bertendensi negatif perlu di redefinisi.
Temanku mengingatkanku dengan sebuah kutipan dari Munir, "ketakutan kita hari ini adalah tentang keberanian". Seingat saya seperti itu.
Kamu takut jadi pahlawan? Janganlah terlalu banyak menonton sinetron.
Jangan terlalu lama di cafe. Jangan terlalu banyak makan fastfood.
Jangan terlalu banyak teori.
Dan jangan terlalu percaya apa yang saya katakan.
Kamu cari bentukmu sendiri.
Mungkin di lain hari kita bisa merasakan suasana pagi yang setara, sama, namun tetap indah dengan harmoni perbedaan yang mutlak harus tetap terjaga.
Selamat menikmati pagimu.
Segelas teh hangat.
Obrolan santai dengan orang tua.
Mandi.
Sarapan.
Lalu?
Hadapi hari. Jadikan matahari sebagai pencatat sejarah hidupmu hari ini.
Bravo Helios!!....
< “Lingga, ini jam berapa? Kamu begadang terus!”
> “Ya, Ma! Sebentar lagi tidur.”
Semua ini gara-gara overdosis mie instant, dokter cantik diklinik 24 jam Jalan Jendral Sudirman sudah memperingatkan saya supaya tidak lagi mengkonsumsi mie instant.
“Tapi itu penyelamat di saat malam hari dok!”
Berani-beraninya saya melawan dokter. Dan sekarang mulai lagi terasa akibatnya, perut melilit, buang air besar tidak normal. What a great experience!
Dan salah satu penyakit saya yang paling parah adalah “menulis”, saya pernah mencoba beberapa hal yang bisa membuat orang mabuk. Tapi menulis adalah sesuatu yang benar-benar memabukkan.
Ini pagi yang gila. Sangat gila.
Hmm… setelah tadi saya chatting dengan seorang teman yang meminta kepada saya untuk memberikan doa yang super tulus untuk kakaknya yang baru saja selesai di operasi karena komplikasi (yang entah komplikasi apa itu!).
Saya tersentak.
Saya ini orang yang jarang berdoa. Jarang ke tempat ibadah. Bahkan saat ibu saya tercinta bertanya: “Kamu kenapa sih ga pernah solat lagi? Padahal dulu solatnya rajin!”.
Saya Cuma tersenyum dan diam. Saya tidak menjawab, takut-takut “pembenaran” saya menyakiti hatinya, dan saya tidak setega itu.
Oke, kalau di lanjutkan akan terlihat seperti curhatan.
Ditemani dengan lagu blues dari CD bajakan milik papa saya, kamar gelap ini semakin membuat saya ingin berteriak kencang.
Manusia memang tidak akan pernah bisa jauh dari penderitaan. Tapi juga manusia tidak bisa jauh dari rasa cinta.
Tahun lalu banyak saudara saya yang meninggal. Dan teman saya juga banyak yang ditinggalkan oleh orang-orang yang sangat mereka sayangi, bahkan ada sahabat saya yang kehilangan calon bayinya karena istrinya mengalami keguguran.
Kejadian. Kematian. Sebuah titik akhir dari hidup seorang manusia. Tapi merupakan sebuah awal dari perbaharuan hidup bagi orang yang ditinggalkan. Mereka harus mulai membiasakan diri untuk memulai lembar hidup baru tanpa orang yang berarti dalam hidupnya.
Saya belum pernah merasakan sedekat itu dengan kematian. Sekalipun saya pernah stress berat saat papa saya terkapar hampir selama 2 minggu akibat stroke ringan yang sedikit merusak penglihatannya sampai saat ini.
Saya belum pernah sedekat itu dengan kematian.
Sekali waktu saya datang ke tahlilan meninggalnya Ibunda dari sahabat saya. Teman adalah orang yang sangat ceria. Bahkan saat saya datang, dia menyambut saya dengan senyuman. Saya tidak tahu apa yang dia rasakan sesungguhnya, tapi saya senang sahabat saya itu tetap memiliki keceriaan dan “kepolosannya” haha.
Saya menulis ini bukan tentang saya. Tapi tentang semua orang terdekat saya yang sedang mengalami dahsyatnya gelombang cobaan.
Dan tulisan ini juga bukan untuk membuat mereka jauh lebih sedih dari saat ini. Tulisan ini justru ingin membuat mereka tersenyum. Bahwa manusia tidak sendirian dalam menghadapi cobaan. Kita masih punya teman, saudara, keluarga, kekasih dan lainnya untuk berbagi cerita.
Tulisan ini hanya kegiatan saya “pengantar sebelum tidur”.
Ya. Saya belum pernah berada sedekat itu dengan kematian.
Entah apa yang sedang saya pikirkan saat ini. Dengan segala ketakutan saya membuat tulisan ini. Takut-takut besok ada anggota keluarga saya yang meninggal.
Tapi entahlah. Kan kamu tahu sendiri kalau ketakutan itu justru bisa merangsang keberanian kamu yang terpendam.
Kata orang bijak, Saat seorang manusia telah melewati satu cobaan dalam hidupnya, dia telah berada dalam satu level yang lebih tinggi.
Ya, level kehidupan yang lebih tinggi. Dari penderitaam, kematian dan rasa kehilangan, kita justru seharusnya bisa lebih menghargai kehidupan yang masih kita miliki saat ini.
Saya yang belum pernah sedekat itu dengan kehilangan yang membuat rasa sedih tereksploitasi berani berkata, “Tetap jaga senyummu kawan!”.
Tidak ada yang jahat. Jangan juga kamu menyalahkan Tuhan. Ini dunia kita, ini hidup kita, jangan salahkan siapapun. Dan jangan pula menyalahkan dirimu sendiri saat kamu kehilangan sesuatu.
Saya teringat satu kalimat seorang penulis Bali, "Sebelum terlahir kita sudah di vonis untuk mati. Hanya masalah kapan dan dimana?"
Keep your head up!
Live life. Love life!
Saya memberanikan diri untuk posting note ini dengan rasa bersalah dan pertimbangan yang tidak mudah!!!
Kamis, 21 Januari 2010
03.59 - 04.50
Silahkan saja nyanyikan lagu cinta, lagu putus cinta, lagu jatuh cinta, lagu kebencian, lagu kekecewaan, lagu harapan dan lagu-lagu yang menurut kamu paling mematikan perihal cinta. Saya tidak akan terpengaruh.
Karena rasanya saya sudah mati rasa. Ini nafas seakan tidak berguna. Bukan tidak berguna dalam arti “tidak berguna” menurut kamu loh!
Saya menciptakan ruang kosong yang terbuka begitu luas dan lebarnya sampai-sampai saya kewalahan untuk mengisinya. Saya bingung. Apa yang harus saya bawa kedalam sana untuk kembali menghiasnya hingga bisa kembali terang benderang.
Hmm… saya sedang melukis saat itu. Saya melukis tentang sesuatu.
Suatu keindahan yang tidak pernah dapat kamu bayangkan kecuali saya jabarkan sejernih mungkin pada otakmu yang agak-agak terbelakang. Keindahan itu sungguh mempesona, sampai-sampai diri ini enggan berpaling barang sekejap saja.
Bahkan, lembar-lembar kertas yang mengandung kalimat-kalimat indah Kahlil Gibran pun seakan terbakar. Terlupa. Muak!
Saat saya sedang nikmat melukis. Ada yang mencuri tinta terakhir untuk warna terakhir yang akan saya goreskan. Kemurnian dari keindahan itu memudar perlahan.
Saya tinggalkan lukisan itu di ruang tanpa gembok dan kunci. Dengan frame terbuat dari besi yang makin lama kian berkarat. Dengan kanvas yang terbuat dari untaian sutra dan tembaga. Dengan kuas yang tercipta dari rambut halus Unicorn. Dengan cat yang terbuat dari air mata Leviathan. Dengan penglihatan yang lebih tajam dari Sauron. Dan dengan kepekaan nurani yang melebihi kearifan semua Agama.
Lukisan itu seakan tak pernah ada. Lukisan itu hanya sekedar gambar kartun sekelas Chibi Maruko Chan dan sekasar lukisan Sinchan yang paling halus.
Kamu tahu kisah cinta Caligula? Apa kamu tahu kisah mematikan Romeo dan Juliet?
Dulu aku adalah Romeo.
Tapi sekarang? Aku jauh lebih mirip Caligula.
Tapi aku bukan penggila Kamasutra. Saya lah yang sebenarnya menguasai jiwa ini dengan dominan, dan memilih menjerat Persephone hingga Demeter marah pada bumi.
Elok wajah dalam lukisan itu sungguh lebih mematikan dari tatapan Monalisa. Lebih bernuansa neraka ketimbang “Inferno” Dante sang Maestro.
Lidahku berbisik lebih memuakkan ketimbang suara ketukan palu di pengadilan.
Apa kamu tahu maksud semua ini?
Aku hanyalah jiwa yang tersesat dalam galaksi.
Jiwa yang mencari jalan kembali.
Mencari kembaran yang tak pernah terlahir.
Mencari separuh jiwa yang lenyap dalam setiap mimpi basah.
Mencari kenyataan jauh melebihi onani.
Ya. Sumpah mati saya lupa.
Seribu Cupid pun tidak akan mampu mengembalikan ingatan saya. Bahkan jutaan Cupid akan melepaskan sayapnya. Kemudian menancapkan sayap patahnya itu di pundakku. Jika aku adalah cinta, ya dewa cinta. Aku adalah cinta?
Tidak. Tapi kalian lah yang layak disebut cinta. Aku hanya anak nakal yang harus dihukum karena enggan membaca ayat-ayat suci. Aku hanya anak terlantar yang enggan membuka diri.
Cinta bukanlah apa yang kamu pikirkan ataupun yang kamu pikirkan. Cinta adalah apa yang kamu perbuat. Jika memang aku harus menjadi Cupid. Maka jadilah aku Cupid.
Siapa yang ingin menjadi korban panahku yang pertama? Korban panah dari si amatir. Hingga nanti kamu lupa baik-buruk, tampan-jelek, cantik-ganteng, dan jelita-korengan.
Ya. Saya kehilangan semua. Saya lupa semua rasa. Yang ada hanya pungguk yang merindukan bulan. Seperti air yang kehausan, seperti api yang kepanasan, seperti angin yang kedinginan, seperti cahaya yang kesilauan.
I really screwed up this time hahaha… Bitch ass muthefucker!!!
Don't show your love, i've feel enough. Show me pain, it will make me back to reality.
Let the star fall. let the sky cry over load. Love is an epilogue to hate something you can't reach. Sky is the limit.
For every bitch, for every hore, for every angel, for every skywalker. I trust to God, take care of their soul.
Love and hate? i prefer to hate. People got a lot of brave to love, but less to hate.
I'm a hawk looking for a nocturnal too eat.
Puberty is my liberty. For every psychoneurosis i ever had, i beg for cupid to send me a secret message under trough on a lost island.
Pigeon... Oo, Pigeon. You had to be my messenger, but why didn't you accomplish the secret message.
I dance in this music. Minor swing.
I swear to God. I throw the key to the deepest sea. I beg to every God, Goddess and devil, curse me badly.
I'm a huncbacked freak who knock a wrong door to get in.
And that blind woman said, "I knew when i saw you, you had opened the door!"
Thus.
I decided to go. Yeah, i must to go far, far away.
And i promise to my self, I would never ask her any question.
Exactly, I'm dreaming in a dream.
_Elias The Lost One_
27 January 2010
Wednesday 07.30 pm - 07.57 pm
Minggu, 21 februari 2010 (01.01-02.08)
Nampaknya ada suatu rasa yang mendidih di dalam jiwa saya.
Mari kita mengukir arti dari kelopak mawar terakhir yang kita petik. Apakah “ya” atau “tidak”. Jauh kamu mencoba mencari cahaya duhai kawanku! Padahal cukup kamu bangun pagi hari, hirup udara segar. Kemudian, cobalah menantap keangkasa yang berbuih awan tipis, biarkan sinar matahari ini menyentuh wajahmu dan tubuh rapuhmu.
Mencoba mengubah paradigma.
Andaikan saja Adam yang membuat Hawa turun ke bumi. Andaikan saja Gibran tak pernah berjumpa dengan Selma. Jika, saja siang adalah malam.
Sebuah ketidakmungkinan yang justru mengharuskan manusia menegakkan kepala, mencari jalan keluar dari pintu masuk yang tak pernah bisa kembali dibuka.
Siapa yang tidak membutuhkan pegangan? Siapa yang tidak tahu jika kehidupan adalah sandi-sandi yang harus dipecahkan seperti DaVinci Code. Holmes dan kaca pembesar.
Jika boleh jujur, yang tentu sudah kalian tahu, saya mencintai Aphrodite, di kemudian hari dia berubah rupa menjadi Selma. Dan di lain hari aku berubah menjadi Sisifus.
Hoho. Aku seperti Leo Tolstoy? Rupanya aku belum sejauh itu bisa melangkah. Libido tergerus dalam kerangka frame-frame kaku yang membuat jarak semakin berjarak, langit semakin melangit, tuhan semakin menuhan. Ini semua terjadi berkat Jumat-Jumat dan Sabtu-Sabtu dari para pesakitan yang terus menyiksa saya seperti bala raksasa yang merangsek Astina sebelum Bima mampu menjamah hati sang putri raksasa.
Yang paling mampu meredam semua kerikil abstrak ini hanyalah tiada. Bukan siapa-siapa. Aku tidak memuja. Bahkan hampir lupa cara bersujud. Baiknya saya masing ingat bagaimana cara bersyukur.
Tarik. Tarik. Menarik dan kemudian ulur benang merah itu duhai kawanku! Elegi yang cantik, amboi! Justru yang paling menarik adalah apa yang paling tidak menarik.
Silahkan kamu coba terbang ke langit ke tujuh. Aku tak akan melakukan itu. Aku tak akan pergi terlalu jauh dari rumah jika hanya untuk kembali membawa sakitnya rasa terjatuh sambil menangis.
Dunia ini luas. Tapi lusa tidak ada yang tahu kapan akan dating dan pergi. Aku lihat dari sisi lain, ternyata kamu seperti peri gigi. Harapan yang ditanamkan, rupanya hanya kosong, peri pembohong. Kalian pasti sering tertipu. Apalagi dalam arena perjudian.
Bangunlah. Bangunlah. Dan bangun! Ini hidup kamu. Kamu berdiri sendiri. Aku?? Ah, lupakan. Aku tak bisa banyak membantu, kecuali berdoa pada yang tuli. Berbisik pada yang peka.
Kita tidak pernah membuang waktu, karena memang tak pernah ada waktu yang terbuang jika itu maksudmu. Ya, karena. Eh, karena kita memang tidak memiliki waktu. Waktu adalah bebas, kebebasan, di akhir kata pembebasan. Waktu hanya akan mengungkung jika kamu percaya. Garis akhir di detik penentuan hidup atau mati dalam bujukan anarki yang pasif.
Mimpi dan biarkan mimpi tetap bermimpi. Manusia hidup untuk itu. Tapi terkadang bisa kita temukan orang yang sedang mewujudkan mimpinya saat oran lain masih bermimpi bahkan menyusun mimpinya. Di mana kamu akan menempatkan diri dalam ruang sempit yang membebaskan ini? Ruang bebas yang menyempitkan. Sesak hanya akal-akalan pikiran yang keruh.
Roda bergerigi. Roda dan jari-jari. Analogikan hidup itu seperti roda? Sebelumnya silahkan pikirkan apa saja yang membuat roda menjadi “ada”.
Makna-makna dunia belum semuanya tersingkap. Jangan lagi bertemu Selma.
Semoga di lusa dan lain hari cerita-cerita ini berubah menjadi kisah Janan dan Osman dalam cerahnya suram buku “Kehidupan Baru”.
Tulisan pendek ini bersumber dari sebuah artikel dalam CAKRAM, sebuah majalah periklanan, promosi dan kehumasan sebagai referensi bagi mahasiswa Jurusan Public Relations yang merupakan konsentrasi saya selama Kuliah di IISIP Jakarta.
Sebuah kajian feminis seperti ini mungkin seharusnya diangkat oleh perempuan, Bukan oleh laki-laki seperti saya, tapi dalam era postmodern sekarang ini rasanya sudah tidak terlalu penting lagi kita memperdebatkan masalah biasa atau tidak biasa, tapi pada masalah makna. Separuh dari tulisan ini merupakan isi dari artikel tersebut. Ditambah dari Averroes Community di situs www.averroes.or.id. Semoga tulisan saya ini memberi motivasi bagi para perempuan untuk menunjukan eksistensinya kembali. Dari dalam negeri mungkin kita bisa belajar dari R.A Kartini.
Mari kita mulai.
Pencitraan tubuh perempuan sudah lama menjadi perbincangan yang kompleks dalam diskursus media. Sejumlah kritik menyebutkan bahwa media telah mengeksploitasi tubuh perempuan semata-mata untuk manfaat komersial. Cyndi Tebel dalam bukunya “Body Snatchers” (2000) menggambarkan bagaimana perempuan berusaha habis-habisan agar tampil langsing dan memikat. Million of eager young girls are willing to sacrifice long-term mental and physical wellbeing, tulisnya, hanya demi suatu kesempatan yang sangat kecil untuk menjadi model terkenal.
Karena itu tak perlu heran jika industri kecantikan berkembang dengan pesat. Industri bedah plastic agar tampil cantik bahkan semakin digandrungi. Sarah Tippit dari kantor berita Reuters melaporkan bagaimana para Bintang terkenal berduyun-duyun mereparasi tampang mereka di dokter bedah plastic agar tampil sempurna di penyerahan hadiah Oscar.
Karena itu industri kecantikan dianggap sebagai pemicu yang menjadikan perempuan tak pernah puas dengan tampilan tubuh mereka. Dunia mode memang selalu bermain dengan trend, dan kini mengagungkan model yang betul-betul ramping.
Dalam konteks semacam ini, tudingan terarah ke para pria yang dianggap selalu memanipulasi perempuan untuk kepentingan dan kepuasan mereka. Naomi Wolf, salah satu tokoh feminis terkemuka, menyebutkan bahwa konsep cantik adalah senjata Terakhir yang dipakai oleh patriarkhi untuk menundukan perempuan. Walau dalam kenyataannya, sekian banyak produk kecantikan maupun media yang menampilkan pentingnya kecantikan, dikelola atau dikuasai oleh perempuan.
Pencitraan dalam iklan merupakan suatu kenyataan yang tidak dapat dihindari. Freud sudah menyebutkan bahwa banyak aktivitas manusia digerakkan oleh impuls seksual.
Untuk para laki-laki coba lihat perempuan disekitar kita. Apakah mereka menyembah berhala kecantikan? Selalu mengikuti fashion yang terkadang tidak mereka pahami, kenapa harus mereka ikuti?
Untuk para perempuan, sudahkah kalian menyadari bahwa kecantikan bukanlah sesuatu yang mutlak melinkan relative? Apakah kalian masih terjebak dalam pencitraan produk yang hanya menjanjikan sugesti seperti produk pemutih?
Bagaimana mungkin seorang yang dari kecil memiliki kulit hitam bisa berubah menjadi lebih putih dalam waktu 7 hari saja? Dan yang tidak habis pikirnya lagi, masih saja ada orang yang mengkonsumsi produk yang jelas-jelas tidak terbukti.
Lama sudah rasanya gaung emansipasi perempuan meredup (menurut saya), ingin juga kenal dengan seorang perempuan yang mempunyai prinsip kuat.
Banyak perempuan di kampus saya yang modis, tapi saying saat diskusi di dalam kelas gaya pakaiannya (yang serba wah dengan Brand internasional) melebihi eksistensi dirinya. Ini menurut versi saya, karena saya belum berdiskusi dengan beberapa dari mereka. Gengsi telah mereduksi eksistensi nalar mereka, hingga mungkin secara tidak sadar mereka tercebur dalam mainstream yang berkiblat pada rumah mode di eropa. Walaupun hal ini juga terjadi pada laki-laki. Banyak yang perilaku konsumsinya hanya berdasarkan pertimbangan emosional semata.
Memang dalam masyarakat industri ini media massa telah menjadi tuhan yang baru. Dimana nyaris segala “kebutuhan” manusia dapat dipenuhi melalui media massa tersebut.
Pada hakekatnya, pekerjaan media adalah mengkonstruksi realitas. Maka dari itu, seluruh isinya adalah hasil para pekerja media mengkonstruksikan berbagai realitas (constructed reality) yang dipilih dan diolah menjadi sebuah wacana yang bermakna (Sobur, 2004).
Tubuh perempuan selalu menjadi perdebatan. Perbedaan derajat menjadi salah satu sebab mengapa perempuan selalu memiliki posisi yang lebih lemah disbanding laki-laki. Hal ini terlahir sejak era kolonialisme dan feodalisme yang melegenda. Banyak perempuan mengalami serangan seksual, di eksploitasi dan di nafikan.
Bila memakai pendekatan postkolonial, semangat membalik dapat kita temukan pada isu pornografi. Pornografi banyak ditentang oleh kaum perempuan, dengan asumsi pornografi telah mengeksploitasi tubuh perempuan habis-habisan, dan hanya lelakilah yang mendapatkan keuntungan. Mereka menunjukan data bahwa lelakilah konsumen terbanyak dalam peredaran pornografi. Di situ perempuan merasa dirinya dipermalukan, ditelanjangi bahkan beberapa mengatakan film porno adalah bentuk perkosaan lain dalam dunia fiksi media visual.
Tetapi postkolonial, dan terutama yang seiring dengannya (postfeminis) dapat membaliknya bahwa pornografi dapat digunakan untuk kesadaran seksualitas perempuan itu sendiri. Perempuan memiliki hak untuk menunjukan hasrat seksualitas dirinya. Bahwa hasrat seks sangat manusiawi, tentunya juga bagi perempuan. Seperti tokoh Laila dalam Saman novel Ayu Utami, di balik perselingkuhannya ada pesan-pesan yang ia tunjukan, tentang ideologi patriarkhi, dan bagaimana seks, agama dan Tuhan dipandang dari sudut mata dan hati atau pengalaman perempuan.
Fenomena Madonna, adalah ikon dalam semangat membalik postkolonial. Kaptalisme dan tubuhnya ia gunakan utnuk menjai kekuasaannya. Di sini Madonna sebagai tubuh perempuan tidak lagi menjadi korban eksploitasi, ia mengeksploitasinya untuk menjadi kekuasaan menundukan wacana yang tidak membebaskan perempuan meraih diriya sendiri. Madonna adalah imaji atas dirinya sendiri, yang dapat memperlihatkan gender dan seksualitas kepada generasi pada waktu itu. Kebangkitan popularitasnya sejak 1980-an dengan smash hit lagunya Like A Virgin dan Material Girl di awal 90-an merupakan transformasi lambang tentang “kesadaran diri” atas kebingungan gender. Penggemarnya yang kebanyakan perempuan, dan kritik-kritik terhadapnya menajdi intelektual, bahkan banyak membawa studi tentang gender, seksualitas dan media massa. Madonna menjadi simbol perempuan dalam post-gender.
Semangat membalik Madonna menjadi semangat post dan menjadi contoh penting dalam melihat persoalan seks perempuan di tengah perlawanan dan kehadirannya. Gerakan-gerakan post memang menjadi kontroversial karena tidak sealur dengan standar nilai masyarakat dan agama, kemunculannya sering mengejutkan dan awalnya akan dianggap sebagai kehadiran yang melenceng. Namun bila dipahami dan dipelajari lebih dalam, pemahaman post termasuk postkolonial sesungguhnya melengkapi perlawanan kolonialisme itu sendiri.
Tetapi sebelum melakukan logika semangat pembalikan, para perempuan-perempuan juga harus menumbuhkan kesadaran dirinya dan bangun dari buai ilusi yang diciptakan media melalui pencitraan produk.
Anggap saja tuhan itu perempuan. AMIN.
Lama saya berpikir untuk membuat tulisan berikutnya. Kali ini saya mengajak kawan-kawan di layar komputer yang sedang mengakses dunia maya di seberang sana untuk berbagai sedikit kewarasan atau mungkin kegilaan. Sayapun masih ragu mengenai hal itu, segalanya nyaris terlihat absurd dan semakin tidak nyata di tengah riuhnya kehidupan masyarakat industri ini yang menyebut teknologi sebagai tuhan dan suatu keharusan.
Tulisan ini saya buat beberapa waktu dengan tergesa-gesa setelah saya membaca sekilas karya-karya Albert Camus yang menurut saya sangat luar biasa pemikirannya, walaupun saya belum sempat membaca kritikan dari Sartre, teman sekaligus musuh penalarannya.
Berikut adalah penjabaran tulisannya dengan versi saya dari salah satu sub judul tulisannya yaitu “Merenungkan Gilotin” dalam buku Krisis Kebebasan, beberapa kalimat saya kutip langsung sebagai pemikiran pokoknya. Di mana pada saat hidupnya banyak aksi pemancangan bagi pelaku kejahatan di masanya dan eksekusi dilakukan di hadapan orang banyak sebagai peringatan. Tapi justru di situ muncul sebuah logika terbalik dimana sikap tersebut menciptakan kritiknya sendiri. Hingga justru banyak orang yang memikirkan kembali arti sebuah nyawa.
Walaupun aksi hukum pancung sudah mulai pudar, namun pada masa sekarang dengan refleksi yang terlihat dalam segala bentuk kekuasaan khususnya di dalam negeri kita sendiri rasanya kita masih harus merenungkan gilotin yang hadir dalam wujudnya yang baru, yaitu otoritarian penguasa melalui aparat yang semakin menyegat rakyat dengan dalih untuk ketertiban umum maupun menjaga stabilitas. Rakyat yang memberi mereka pekerjaan dan gaji dari pajak yang mereka bayarkan malah harus menjadi “hamba” atas “budak”nya.
Berkenalan dengan pikiran Albert Camus mengajarkan kita humanisme, nihilisme dan absurditas, perlahan kita di biarkan merenungkan sendiri karyanya, karena beliau juga mengakui bahwa karyanya bukan sesuatu yang tanpa cela. Cukup relevan ditengah masyarakat kita saat ini.
Mari kita mulai.
Ketika daya pikir menjadi lemah, kata-kata akan menjadi tanpa makna: Sekelompok manusia akan buta dan tuli saja terhadap nasib seorang manusia. Ya, ini adalah wajah yang Camus tuliskan sekitar 30 atau 40 tahun lalu, tapi masih akan tetap menjadi perbincangan hangat dan tiada henti hingga saat ini. Dulu aksi pancung di Prancis dilakukan di hadapan orang banyak agar mereka menjadi takut untuk melakukan kejahatan. Ayahnya pernah pada suatu waktu sangat bersemangat bangun pagi-pagi sekali untuk melihat eksekusi seorang penjahat yang terkenal. Kemudian, saat siang hari ayahnya pulang dengan wajah pucat dan langsung merebahkan diri di kamarnya, merenungkan apa yang baru dia saksikan, tak lama kemudian beliau muntah. Mereka yang menonton eksekusi umumnya sangat membenci kejahatan dan penjahat itu sendiri, mereka tidak berpikir panjang untuk memahami situasi karena mereka menganggap bahwa “keadilan sedang ditegakkan”.
Keadilan justru telah menjadi tiran saat mereka merasa memiliki hak dan logikanya sendiri untuk menghabisi nyawa seseorang. Bahkan hukum yang menjadi sumber penjatuhan sanksi adalah bagaikan seorang raja yang menang dalam peperangan, hingga merasa berhak menjarah harta, memperkosa dan menjadikan kaum yang kalah perang sebagai budak.
Selama banyak diantara kita membiarkan daya pikirnya terkikis oleh hipnotis kemegahan dunia, gemerlap malam, riuh persaingan bisnis, sibuk berebut kuasa, menangkap segala realitas layar kaca sinetron hingga reality show maka kita telah membiarkan kebususkan terus bergelora. Kini kita sedang melihat gilotin yang telah mewujud dalam sesuatu yang baru, sesuatu yang sering kita temui, sesuatu yang terlahir dari ketimpangan logika anak kembar peradaban, kiri dan kanan, revisonis dan revolusionis.
Kapitalisme semakin membuat dunia menjadi kelam, manusia menjadi robot, anak cucu kita kelak menjadi mutan. Penggusuran. Dunia semakin sempit dan nyaris tidak ada ruang yang ada tanpa proses transaksi. Tanah bersertifikat, air dengan pajak, sakit dan mati dengan asuransi, terkubur dengan pajak pula. Dunia adalah etalase yang semakin angkuh. Miskin adalah dosa besar, hingga dunia menjadi neraka. Sedangkan surga masih merupakan pertanyaan.
Hukuman mati menjatuhkan martabat masyarakat sementara para pendukungnya tidak mampu memberi alasan yang masuk akal. Ya, banyak aksi eksekusi di dalam negeri ini dalam berita televisi. Para algojonya bertindak bagaikan robot tanpa mau tahu urusan orang lain, mereka menjadi tuhan, tuhan yang berada di bawah komando kekuasaan.
Bagaimana bisa suatu pembunuhan yang dilakukan diam-diam pada suatu malam di halaman penjara dapat di sebut memiliki nilai sebagai contoh? Pertanyaan ini muncul setelah pada awal abad 20 terjadi eksekusi yang mengundang wartawan untuk meliput dan kalau tidak salah juga ditayangkan di televisi yaitu eksekusi Weidmann tahun 1939 di Versailles, Prancis. Kemudian muncul kontroversi hingga ada larangan untuk melakukan eksekusi di depan masyarakat umum. Beberapa waktu lalu negara kita melakukan eksekusi terhadap para teroris Amrozi Cs di Nusa Kambangan.
Nilai apa yang kita dapat?
Sedangkan katanya hukum dan segala tetekbengeknya di buat agar masyarakat memiliki nilai pedoman yang sama dan hidup teratur agar tidak melakukan aksi yang jahat atau menyimpang dari norma, nilai dan dogma. Dengan demikian hukum dan keadilan malah bersembunyi dari masyarakatnya sendiri. Saya bukan membela terorisme, tetapi saya hanya mencoba memaknai kematian yang katanya bisa menjadi contoh.
Hukum memang sudah ditegakkan. Tapi keadilan masih bisa kita perdebatkan. Siapa yang memiliki hak dan kuasa atas satu nyawa?
Pada tahun 1791 Tuaut de le Bouverie, seorang anggota dewan di Prancis berkata, “Diperlukan pemandangan mengerikan agar rakyat dapat dikuasai”. Sebuah propaganda yang luar biasa. Sebelumnya kita harus bertanya pada diri sendiri.
Apakah anda setuju dengan pembunuhan? Jika jawabannya tidak, maka pertanyaan selanjutnya adalah: Apakah orang yang telah membunuh keluarga anda harus di hukum mati? Anggap saja jawabannya setuju. Pertanyaan terakhir: Apakah hukum harus di tegakkan? Tentu iya, tapi keadilan masih akan menimbulkan perdebatan. Apa bedanya membunuh atas dasar logika hukum dengan membunuh atas dasar emosi dan dendam?
Mari berpikir!!!
Kita bisa saja tidak suka tindak pembunuhan, tapi mungkin kita akan membunuh di saat kita sedang terjepit. Hal ini dikatakan absurd oleh Camus, maka saya simpulkan realitas itu subyektif, tidak mungkin obyektif, apalagi keadilan?
Daripada secara samar mengingatkan masyarakat akan seseorang yang membayar hutangnya pagi tadi jam 5, bukanlah lebih efektif mengingatkan para pembayar pajak (masyarakat) itu secara rinci apa yang akan terjadi bila mereka melanggar hukum yang sama? Daripada hanya ditulis, “Jika kau membunuh, kau akan menerima balasan di tiang gantungan”.
Banyak kejadian penggusuran di negeri ini yang berakhir bentrok, pada pedagang kaki lima mengaku sudang membayar pajak dan kadang pungli, tapi lapaknya tetap digaruk. Aparat selalu mengatakan bahwa mereka telah memberi surat peringatan. Dari kesaksian seorang PKL di TV One baru-baru ini, dia mengatakan sangat kecewa pada anggota dewan yang katanya akan berada di garis depan bila terjadi penggurusan, tapi anggota dewan itu mangkir.
Banyak orang terhormat sebenarnya adalah calon pembunuh. Kalimat Camus ini didasarkan pada sifat kekuasaan yang cenderung dekat dengan korupsi. Untuk menjaga nama baiknya, penguasa ataupun orang terhormat bisa saja melakukan pembunuan.
Dalam negeri ini lihat saja kasus pembunuhan Munir yang seakan tak pernah usai. Dan pembunuhkan terhadap Bambang (kalau tidak salah), saksi kunci yang membongkar transaksi benda cagar budaya di salah satu museum nasional. Serta serangkaian fakta lain yang bisa kita pelajari dari sejarah.
Fresnes seorang terhukum mati berkata, “Tahu bahwa kita akan mati tidak ada artinya”, “Tapi tidak tahu apakah kita akan hidup atau mati, benar-benar terror dan menyesakkan dada”. Terlihat jelas bahwa hukuman mati sangat tidak manusiawi, apa lagi hukuman mati hanyalah pembunuhan yang dilegalkan. Hukum hanya bagian dari legitimasi pembunuhan. Masalahnya terlepas pada apa yang perjahat itu lakukan, tapi bagaimana bila legitimasi pembunuhan terjadi pada diri dan nyawa kita?
Menyatakan bahwa seseorang harus mutlak memutuskan hubungannya dengan masyarakat karena dia jahat sama artinya dengan mengatakan bahwa masyarakat secara mutlak baik, dan tidak seorangpun pada saat ini yang berpikiran waras percaya akan hal itu. Dalam hal ini terciptalah penjara sebagai tempat bagi para “pesakitan”, dikucilkan dari masyarakatnya. Penjara dianggap bisa menyelesaikan masalah. Kita lihat Guantanamo di Havana, penjara tertutup yang tidak diketahui kegiatannya.
Masyarakat kita ini benar-benar sedang sakit jiwa, merasa dirinya paling benar. Contohnya lihat saja golongan-golongan yang ada, ormas, halal dan haram, musyrik dan kafir. Orang yang percaya suara tuhan akan menyebut kafir mereka yang tidak mendengarnya. Pramoedya Ananta Toer di buang ke pulau Buru karena tulisannya yang sangat realis dan tuduhan Komunis karena menjadi tokoh LEKRA di bawah komado PKI, walaupun LEKRA tidak diintrvensi PKI. Hingga saya lebih suka menyebut diri pengidap skizoprenia, dan memang lebih baik mengalami amnesia daripada harus kehilangan kewarasan. Mungkin kita bisa lupa, tapi kita tetap akan selalu berpikir.
Camus mengutip perkataan Alphonse Karr: “Biarlah pembunuhan mulia segera dilakukan, karena ia tidak bermakna apa-apa lagi”. Ya. Pembunuhan mulia. Pembunuhan yang sah menurut logika hukum dan hak seseorang untuk mengatakan sesuatu tentang keadilan telah menghilangkan arti nyawa dan arti keberadaan manusia. Kalimat ini saya nilai merupakan ungkapan kecewa dan keputusasaan ketika hukum yang mengatasnamakan keadilan telah mereduksi keberadaan manusianya sendiri.
Dalam hubungannya dengan kejahatan, bagaimana mendefinisikan peradaban kita ini? Jawabannya sederhana: sudah 30 tahun ini (pada masa sekarang mungkin tebih dari 80 tahun sejak masa Camus) kejahatan penguasa lebih banyak daripada kejahatan individual. Yang terpenting bukanlah penguasa tetapi Indivudual. Bagiamana bisa penguasa berkata pertumbuhan ekonomi negara kita sudah lebih baik, sedangkan PHK marak terjadi, kemiskinan merebak. Lebih jahatnya lagi, di masa menjelang pemilu ini banyak uang penguasa yang keluar untuk membuat promosi dan tim sukses, padahal uang mereka sangat berguna bila digunakan untuk memakmurkan orang kecil di sekitar mereka. Mungkin penguasa kita lebih suka memulai sesuatu dari yang besar, daripada memulai sesuatu dari hal kecil.
Di Jepang pejabatnya kerap melakukan bunuh diri jika terlibat korupsi, hal ini Bukan sekedar bunuh diri biasa. Tapi dalam tradisi samurai, mereka akan merasa terhormat dengan mati bunuh diri sebagai bentuk tanggungjawab moralnya bukan karena rasa malu.
“Pelajaran dari tiang gantungan yang kita terima adalah hidup manusia tidak lagi dianggap mulia ketika membunuhnya menjadi berguna”. Seorang pembunuh berantai mungkin dalam masyarakat kita pantas dihukum mati, karena dinilai tidak sesuai dengan kebiasaan yang tertanam dalam masyarakat itu sendiri. Tapi dengan membunuh sang pembunuh kita tidak sedang menegakkan keadilan tetapi kita sedang melakukan pembunuhan lainnya. Pembunuhan dengan legitimasi.
Manusia menjadi tidak berguna saat hukum telah dianggap sempurna. Sebuah wacana anti otoritarian yang cukup komprehensif di tengah kehidupan yang tergambar dalam sepenggal lirik Homicide, “Ditengah hidup yang menyerupai rutan yang kehilangan sipir, mengepal jemari hari ini sesulit membongkar jaringan pembunuh Munir”. Sadar atau tidak kita sedang merakit neraka bagi diri kita sendiri.
Dan sungguh benar bila tulisan saya ini masih jauh dari sempurna.
Mungkin sudah “dari sananya” kalau perempuan kodratnya harus menunggu lelaki untuk menyatakan perasaannya. Lalu sebenarnya siapa yang ingin bercinta? Lelaki atau perempuan?
Keseluruhan tulisan ini adalah asumsi saya pribadi dan bukan tidak mungkin ada teori yang pernah saya baca yang juga tersisip didalamnya. Walahualam hehehe… Semoga asumsi ini bisa berkembang menjadi pengetahuan hehehe…
Kamu-kamu ada yang berkoar meneriakkan emansipasi wanita dan feminisme. Dalam konteks ini saya tidak bermaksud mempersempit makna emansipasi dan feminism dalam hal tembak-menembak ala pacaran masa kini hehe…
Satu, karena saya tidak tahu banyak tentang Feminisme dan emansipasi tapi karena saya orang yang gatel dan suka sok tahu jadi tulisan ini ada. Dua, karena saya takut kalau wanita mendominasi dunia nantinya tidak jauh berbeda dengan dunia yang didominasi pria.
Kata kuncinya adalah toleransi. Toh, banyak juga perempuan yang memiliki peran penting di dalam aspek-aspek kehidupan. Walaupun tidak sedikit juga perempuan yang tidak mendapat kesempatan yang sama dengan lelaki dalam ruang-ruang tertentu.
Lalu siapa yang ingin bercinta?
Apa yang lelaki lihat dari wanita? Dalam dunia yang kompleks ini, persepsi tentunya dipengaruhi oleh factor rujukan yang tidak bisa lepas dalam kehidupan sehari-hari. Misal dari imaji yang dimunculkan dalam iklan shampoo dan sabun, sinetron, film, SPG otomotif, caddy golf, dan lain-lain. Walaupun masih banyak factor yang juga mempengaruhi.
Banyak eksploitasi pada tubuh wanita, hingga menurut saya pribadi, “kecantikan” seorang wanita mengacu pada imej yang disajikan salah satunya melalui media massa. Gejala yang saya sebut sebagai era over-artifaktual. Dimana seseorang menilai dan mempersepsi suatu objek yang dilihatnya hanya berdasarkan atribut yang dikenakan oleh seseorang tersebut yang mengandung nilai lebih yang minim makna.
Apa ini juga masuk dalam kajian postmodernisme? Saya tidak tahu, karena saya belum banyak mencari tahu tentang posmodernisme, tapi mungkin sudah banyak saya rasakan akibatnya hahaha…
Beberapa bulan yang lalu, saya dapat THR lebaran idul fitri, saya belikan buku. Saya tertarik pada buku Barbie Culture (yang sebenarnya baru saya baca sekilas hingga hari ini hehehe) yang mengangkat fenomena boneka Barbie sebagai salah satu media untuk mengkonstruksikan konsumerisme, multi-etnisitas dan lain sebagainya.
Tubuh wanita menjadi objek yang sangat luar biasa. Lelaki normal mana yang menolak melihat payudara, bokong indah, hingga impian vagina yang rekat seperti pseudo-reality yang ada dalam film-film porno. Atau ini hanya pikiran saya saja?
Haha… Saya sungguh menyayangkan wanita hanya menjadi sekedar objek. Mungkin karena dari situlah muncul gerakan feminisme dan emansipasi wanita. Keistimewaan yang mereka miliki itulah mungkin yang membuat wanita menjadi objek yang menawan. Meskipun saya tidak bisa mendefinisikan keistimewaan apa yang saya maksud.
Wanita akan menjadi ibu. Menawan dan anggun. Ibu saya adalah wanita yang sempurna bagi saya. Segala keterbatasannya membuat saya sangat mencintainya. Sebisa mungkin saya menjaga ucapan saya dari kata-kata kotor, karena mulut yang saya pakai untuk bicara ini adalah mulut yang sama yang saya gunakan untuk mencium kening dan tangannya sebelum saya pamit pergi keluar rumah.
Saya tidak bisa membayangkan saya pernah hidup dalam rahim seorang ibu. Maka saya menghargai setiap wanita dalam hidup saya karena kelak mereka akan menjadi ibu bagi orang-orang seperti saya, manusia.
Lalu siapa yang hendak bercinta? Lelaki atau perempuan? Atau keduanya? Apakah memang dikotomi pria dan wanita dibutuhkan? Ataukah hanya akan ada satu kata untuk mendefinisikan ini semua? Ya, MANUSIA.
Lalu apa yang perempuan lihat dari laki-laki? Saya tidak tahu. Hanya saja yang pernah sekali saya rasakan. Lelaki itu haruslah orang yang mapan dan bisa memuaskan kebutuhannya. Meskipun tidak semua wanita begitu.
Tapi lagi-lagi semua ini adalah akibat gejala over-artifaktual yang tadi telah saya jelaskan. Simbol-simbol yang mengurung pikiran manusia dalam frame-frame atribut yang menjadi luar biasa berharga. Cobalah sehari saja kamu menjadi seorang nihilis, maka kamu akan tahu apakah atribut merk dan rujukan persepsi yang kamu miliki itu benar-benar punya makna yang jelas atau tidak? Sekali saja kamu mencoba, niscaya kamu akan tahu kalau atribut-atribut yang kamu kenakan itu sama berharganya seperti seonggok kerikil di trotoar saja.
Tapi terserah kamu mau memilih hidup yang seperti apa. Tidak apa-apa kalau kamu mengatakan saya ini Sisifus yang terdampar diabad baru.
Betapa bahagianya anak cucu kita nanti yah!!!
(02.30 - 03.21)
Sebenarnya saya bukan pemuja waktu. Waktu dalam pengertian detik, menit, jam, hari, bulan, tahun. Lupakan tentang itu. Waktu adalah waktu. Dia bukanlah apa-apa. Waktu saat ini adalah simbol dari entitas hedonis, euphoria, dan candu dynosian yang terjebak dalam hegemoni momentum yang terasa demikian dahsyat.
Namun. Seperti sering saya sebutkan kalau saya hanya percaya pada adanya siang dan malam. Udara merayap dalam paru-paru memompa jantung memaksa otak memeras syaraf-syaraf untuk bergegas.Hari ini bukanlah hari ini. Besok bukanlah besok. Seperti hampa bukanlah kosong, tapi tiada.
Kami yang terus membakar kepalan dalam utopi dan perayaan mimpi dalam hati tetap setia mengawasi putaran laknat ini berdentum menggila.
Jika Gibran berkata: "Kemarin adalah pengalaman, hari ini adalah hadiah, dan esok adalah harapan". Setiap malam berganti siang saya serentak menyambut hadiah yang datang dengan gratis.
Nietszche berteriak, "Suaraku bukan suara untuk telinga-telinga kalian" dan "esok adalah milikku". Masa depan. Saya yang menolak keseharian masih saja mendendangkan masa depan dan masih menggantungkan harapan.
Ya Gibran mungkin benar.
Nietszche juga tepat.
Bulu kudukku berdiri sesaat setelah melihat peluh mengalir deras diantara moralitas yang bertarung dengan watak idiot sebagian manusia yang enggan mengagungkan jiwanya.
Mereka yang bersujud pada kolase logika dan penggandaan epos tua bangka dan pelacur yang damai bersemayam di tengah rayap-rayap yang ramai-ramai menyelimuti kegelisahan dan watak urakan.
Kalian para kawan yang kumuliakan seperti teriakan mimbar pasca kamis malam, kalian yang menjadikanku memiliki sepenggal makna dalam kisah cinta dan kebencian kita.
Demi hewan-hewan berpikir yang sangat rasional dalam tempurung material. Dengan segenap kelopak mata yang menganga dalam penat, energi ini aku sembahkan kepada setiap kerontokan makna dalam prasangka bisu.
Senyum apa yang telah kita lempar pada tahun ini?
Untuk apa air mata kita menetes dalam kurun interval awal dan akhir bagian sejarah peradaban ini.
Maaf, aku lupa.Kita bukan bagian dari sejarah. Kita yang terbuang dalam pengasingan. Mencoba memberi cubitan ringan dan kecup mesra pada cleopatra dan medusa.
Selamat membuat resolusi.Selamat menanti harapanmu terwujud. Hari ini adalah hadiah milik kita, raih, rebut, jamah dah perkosa hingga hasratmu terpuaskan.
Cheers untuk setiap tegukan racun tikus, dan lopatan keputusasaan sahabat kita yang telah menjadi nisan di atas kakus berkelambu menyan!
Sumbu telah terbakar. Kita saksikan nanti bagaimana kembang api itu berpijar!
Minggu 27 Desember 2009. (19.41 – 23.38)
“Kerena setiap lembarnya mengalir berjuta cahaya. Karena setiap aksara membuka jendela dunia”. (Efek Rumah Kaca – Jangan Bakar Buku.mp3)
Hmm… saya tidak punya cukup kata untuk menjadi kalimat pembuka. Tahun ini memang sangat luar biasa. Banyak berita-berita dan informasi-informasi yang masuk kedalam otak saya dan juga mungkin teman-teman di sisi computer sebelah sana.
Karena rasanya alienasi ini sangatlah menyenangkan sekaligus menyebalkan. Saya hanya jadi penonton dalam realita maupun dunia virtual. Shit! Ya. Saya pasrah saja. Karena diri ini sudah terbuang jauh dari kenyataan, entah kenyataan yang mana?
Negara memang menyebalkan. Saya dan kalian tidak punya pilihan selain menjadi warga Negara. Saat terlahir kita masih polos dan lugu. Kita lahir telanjang. Kemudian orang tua kita memberikan atribut di tubuh untuk kita kenakan. Disitu mulai dibedakan kamu pria atau wanita. Agama? Pasrah saja. Kita mau tidak mau harus mengikuti kepercayaan orang tua kita. Di kota apa kita tinggal? Ras apa diri kita ini? Suku apa diri kita ini? Warga Negara mana kita ini?
Kita lahir telanjang. Ya, kemudian dunia menyambut dengan segala kemewahan dan kemegahan di iringi aroma kamboja di atas nisan bernama kewarasan. Haha. Negara itu menyebalkan. Untuk menjadi warga negaranya saja banyak aturan. Kita (mungkin kamu tidak merasa) bahkan baru diakui menjadi warga Negara bila genap berusia 17 tahun. Kamu akan dapat KTP dan hak kamu sebagai warga Negara akan diakui. Okelah kalau begitu.
Tapi manusia tidak bodoh, pikiran selalu berkembang. Resapi ideology yang kamu yakini, hingga akhirnya kamu temukan dan yakini apa yang busuk dalam dunia ini!
Salah satu hak yang dimiliki warga Negara sesuai pasal 28 UUD 45 tentang Hak Asasi manusia terutama pada pasal 28F adalah Pasal 28F, Setiap orang berhak untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi untuk mengembangkan pribadi dan lingkungan sosialnya, serta berhak untuk mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi dengan menggunakan segala jenis saluran yang tersedia. **) (http://map-bms.wikipedia.org/wiki/UUD_45)
Sebenarnya bisa saja saya bersikap masa bodoh. Tadi masa saya cukup bodoh untuk diam saja, setidaknya saya merasa tulisan ini ada gunanya. (MUNGKIN).
Coba lihat kasus Prita Mulyasari vs RS Omni Internasional yang sangat kontroversial akibat email yang dituding mencemarkan nama baik RS tersebut dan Luna Maya yang baru saja terjerat kasus dengan wartawan akibat kata-katanya yang menyindir wartawan di akun twitternya. Semua terjerat UU ITE. Bertabrakan dengan dualism hukum yang belum saya pahami betul sampai saat ini.
Yang luar biasa saat ini adalah fenomena Koin Cinta Untuk Prita. Sebuah aksi solidaritas yang sangat luar biasa menurut saya selain Pemilu presiden. Bedanya Prita hanya Warga Negara biasa. Sedangkan aksi memilih presiden di mobilisasi oleh partai dan lain-lain.
Solidaritas melalui Koin Cinta Untuk Prita menurut saya merupakan sebuah gerakan untuk mendobrak hegemoni hukum yang luar biasa carut marut di negeri ini. Saya tidak membicarakan keadilan, karena bagi sebagian orang keadilan adalah wacana urakan era pithecanthropus erectus.
Penggalangan dana itu muncul akibat adanya tuntutan perdata lebih dari 200 juta rupiah. Kemudian masyarakat dari berbagai penjuru negeri ini merespon dengan ramai-ramai mengumpulkan koin. Yang kalau di timbang seberat 6 ton. Luar biasa bukan.
Menurut seorang sosiolog yang saya lupa namanya (ubanan gitu, siapa yah?? Anjis poho pisan euy hampura!!) koin merupakan symbol dengan dua sisi yang berlawanan. Yang satu menunjukan nominal sedangkan yang satu menggambarkan ideology bangsa yang sampai saat ini belum tercapai.
Saya tertarik dengan fenomena Koin ini. Apakah termasuk Aksi Massa Atau Anti Massa? Sebenarnya saya ragu apakah ini berkaitan dengan konteks aksi massa dan juga pampflet anti massa. Tapi sudah kepalang haha.
Tan Malaka dalam buku Aksi Massa menyebutkan, “Aksi-massa tidak mengenal fantasi kosong seorang tukang putch atau seorang anarkis atau tindakan berani dari seorang pahlawan. Aksi-massa berasal dari orang banyak untuk memenuhi kehendak ekonomi dan politik mereka.” Ini merupakan aksi yang terjadi abibat dari tumbulnya pertentangan kelas dalam factor: ekonomi, social, politik dan psikologis. Semakin besar kekayaan pada satu pihak semakin beratlah kesengsaraan dan perbudakan dilain pihak.
Jika dikaitkan, mungkin penggalangan koin itu merupakan bentuk perlawanan rakyat yang frustrasi melihat carut-marutnya hukum di Indonesia dan juga akibat adanya rasa simpati yang begitu besar pada Prita Mulyasari. Semakin seseorang berkuasa, semakin dekat dengan tiran. Mungkin.
Sedangkan dalam pengantar Pamflet Anti-Massa oleh penerbit Katharsis, “…, maka metode Anti-Massa ini lahir dari kesadaran politis yang mengutamakan efektivitas kerja daripada menggelembungkan jumlah massa.” Kesadaran politis tanpa hirarki, tapi saya ragu kalau semua penyumbang memiliki kesadaran politis.
Terlepas dari itu, saya melihat besarnya respon masyarakat terhadap kasus ini. Berarti ada sesuatu yang harus di waspadai pemerintah selain bahaya laten PKI, yaitu aksi massa yang lebih besar jika permasalahan yang seperti bola salju semakin besar dan membesar tanpa terselesaikan.
Soekanto mengatakan, “Kekuasaan mempunyai peranan yang dapat menentukan nasib berjuta-juta manusia.” Tetapi baik dan buruknya harus dilihat dari seberapa jauh kekuasaan berdampak dalam suatu kehidupan dalam masyarakat. Masih ada diantara kita yang menganut Xenophobia, hingga tak jarang menjadi fasis dan fundamentalis.
Pertanyaannya. Apakah kekuasaan yang telah diberikan oleh para pemilih kepada pemimpin-pemimpin negeri ini dapat mewakili suara rakyat?
Jangan katakan suara tuhan, suara rakyat. Karena banyak rakyat yang masih bingung dengan tuhan bahkan meragukannya.
Yang sekarang menjadi hot news adalah buku yang dikeluarkan oleh George Junus Aditjondro berjudul Membongkar Gurita Cikeas. Belum-belum grand launching dilakukan , presiden kita langsung bereaksi, seperti yang saya baca dan dengar di media massa bahwa beliau prihatin dengan terbitnya buku tersebut. Terlepas dari isinya yang kalau dilihat akan banyak menyinggung dan menguak informasi tentang SBY, partai yang mendukungnya, dan simpatisan lainnya, (walaupun saya belum baca) buku ini merupakan usaha untuk membongkar skandal yang terkait pemerintah. Belum apa-apa telah diberitakan kalau buku ini harus di tarik dari pasaran, dan ada isu pembelian besar-besaran oleh oknum yang juga melakukan terror terhadap Aditjondro. Entahlah, bahkan media massa kadang sering membuat bingung.
Fakta adalah apa yang kita temukan. Bukan dari desas-desus, tapi karena memang kita hidup dalam bangsa penggosip jadi wajar saja kalau banyak hal yang belum terbukti kesahihannya menjadi sesuatu yang diyakini.
Atau mungkin kita semua harus belajar dari para nihilis. Kita tinggalkan semua atribut. Kita telanjangi diri-diri kita seperti saat kita baru terlahir. Kita buat sendiri kekuatan sesuai kemampuan kita tanpa harus terdaftar. Hingga kesetaraan menjadi wacana using. Hingga semua bisa tersenyum, berdansa dan saling mengecup mesra. AMOR FATI.
Kita lihat saja perkembangannya. Walaupun sebenarnya saya tidak terlalu peduli.
Semoga tulisan saya ini tidak berdampak apapun dan tidak terjerat hukum apapun.
Cuplikan terjemahan jawaban dalam wawancara Albert Camus “The Wager of Our Generation”, atau “Taruhan Generasi Kita”.
--Ya, ada matahari dan kemiskinan di dunia saya. Dan olah raga yang darinya saya belajar segalanya tentang etika. Kemudian perang dan perjuangan. Dan akibatnya, godaan untuk bersikap membenci. Menyaksikan teman dan kenalan terbunuh bukanlah pelajaran untuk mencintai orang lain. Godaan untuk membenci harus diatasi. Dan saya berhasil. Ini pengalaman yang harus diperhitungkan.---
Referensi:
1. Anti-Massa
2. Aksi Massa (Tan Malaka)
3. La Politica (Aristoteles)
4. Krisis Kebebasan (Albert Camus)
5. (http://map-bms.wikipedia.org/wiki/UUD_45)
6. Sosiologi (Soerjono Soekanto).
Skak Mat, Bung!!! Pematahan Usaha Pematahan “Keyakinan”
dan yang Saya Yakini. 5-0
Sial. Pagi ini saya kembali meradang. Bahkan lebih parah dari sebelumnya.
Fasis tetaplah fasis, dan saya masih kurang paham apa itu fasis walaupun sudah baca buku Paul Wilkinson “New fascist” yang lama dipinjam teman saya dan belum kembali. Dari hasil debat kusir -selama sekitar satu setengah jam- dengan teman saya yang mengaku telah mematahkan keyakinan saya dengan segala macam hal yang dia anggap “benar”, justru logika yang saya tawarkan telah lebih jauh meninggalkan apa yang dia yakini dan kalau dia masih waras, mungkin dia akan sadar kalau keyakinannya itu telah saya patahkan dan saya buat hancur lebur.
Kali ini saya mencoba mengembalikan dan bermain dengan “keislaman” saya, mungkin menuju sufi. Entahlah, saya ini masih bodoh dan masih harus disebut bodoh agar saya termotivasi untuk mencari lebih banyak ilmu. Tapi teman saya sangat –amit-amit- lebih bodoh lagi. Aargh!!!
Akan saya sampaikan secara singkat saja, karena terlalu mulia rasanya saya menuliskan tentang debat kusir ini.
Mencoba memaknai Adam dan Hawa saja, maka itu merupakan pijakan pertama sebelum berkata manusia bergolong-golong. Manusia ini kan punya otak, dalam otak ada akal bukan?? Lalu apa gunanya akal kalau tidak dipakai??
Dulu adam tinggal di suatu tempat yang luar biasa sempurna dan terlengkapi segala macam kebutuhan, tapi ada satu hal yang dilarang di sentuh, yaitu buah kuldi. Muncul hawa sebagai representasi nafsu dan gairah dan kuriositas/keingintahuan yang meminta adam mengambilkan buah “terlarang” tersebut. Tuhan murka. Maka adam diturunkan ke bumi beserta hawa.
Bumi ini jelas adalah neraka, sebuah azab, hukuman bagi hambanya yang melanggar perintahnya. Tapi perilaku ini sekaligus merupakan sebuah aksi revolusioner pertama sejak keberadaan umat manusia. Yang bahkan sangat sederhana, “Adam memetik buah”.
Apakah mereka menikah? Siapa penghulunya? Tentu pertanyaan saya ini terkesan sangat bodoh bagi orang yang tertutup pemikirannya. Tetapi makna yang kita dapat dari perilaku adam adalah sebuah hal yang telah membedakan kita dengan binatang, yaitu akal dan pikiran.
Dalam segala kemewahan (sebut saja surga) dan apapun tersedia, sudah jelas tidak akan ada motivasi untuk melakukan apapun. Seperti pemberian nilai lebih atau komoditas mistis atas suatu merek dalam masyarakat sekarang. Maka otak menjadi sangat mubazir.
Kemudian. Di bumi mereka beranak pinak, saya masih kurang paham bagaimana bisa muncul ras kulit putih, melayu, tionghoa, negro dan lain-lain. Dari hal ini saja sudah jelas jika manusia akan muncul bergolong-golong. Lalu apa masalahnya?? Lalu dia bilang kalau dia tidak mau mengikuti orang kebanyakan, toh padahal dia juga telah mengikuti jalan orang kebanyakan dalam “kaum”nya. Dia melanjutkan bahwa siapa bilang adam itu manusia pertama? Saya juga tidak tahu. Dan lucunya, dia juga tidak tahu.
Seperti bertanya lebih mana telur atau ayam? Kemudian muncul teori evolusi Darwin di kepala saya. Apa memang dulu nenek moyang kita sebangsa monyet? Bahkan monyet masih lebih pintar dalam menjalani hidupnya.
Dalam fase hanya ada adam dan hawa saja, norma belum terbentuk, struktur masyarakat belum terbentuk, agamapun (mungkin belum ada, karena katanya Rasullulah membawa penerang dengan quran sebagai cahaya). Saya tekankan padanya bahwa saya tidak ragu satu apapun pada Al’Quran. Tetapi masalah muncul pada saat pemaknaan. Lagi-lagi itu gunanya akal bung!! Toh, anda juga bergolong-golong.
Teman saya berkata, lo yakin ga jadi penonton atau pelaku dalam dunia? Saya jawab tegas, “saya pelaku!!”. Saya sudah membebaskan diri dari agama, karena keyakinan hanya milik saya saja. Keyakinan anda ya terserah anda. Yahudi juga kan anak cucu adam dan hawa. Lalu apa masalahnya? Hanya persepi. Kalau inginkan perdamaian, maka lakukanlah perang dan pembantaian umat manusia, kemudian bunuh dirimu sendiri. Tapi sayang saya hanya bagian super kecil dari dunia.
Back to the point coy!! Lalu saya bilang, “maaf, buat saya, kamu itu masih bodoh! Seperti orang tingkat S3 mengajar tesis atau disertasi pada anak kelas 1 SD”. Terpaksa saya harus membawa-bawa syeh siti jenar, walaupun serat siti jenar masih butuh kritik dan pertanyaan dari kita (untuk yang sudah membaca). Dalam pandangan siti jenar, kehidupan ini adalah kematian, nanti setelah apa yang orang sebut “mati”, barulah manusia hidup dalam kehidupan abadi. Syariat islam belum terjadi di dunia kematian, tapi di dunia kehidupan nanti, yang orang sebut sebagai kematian.
Dia bertanya lagi, “apa kamu yakin bahwa ajaran siti jenar dan pandangan kamu benar?”. Saya jawab, “saya tidak melegitimasi, tidak berkata pembenaran tentang ajaran yang ada, karena kalau saya sudah berkata “benar”, maka saya sudah tidak lagi berpikir, dan sungguh sangat percuma tuhan menciptakan akal bung!”. Bukankah kita di perintah untuk, “iqro” yang berarti “baca”. Bukankah itu berarti membaca adalah perintah. Berilmu juga berarti merupakan perintah. Kalau tidak berilmu berarti tidak menjalankan perintah. Dosa? Entahlah. Tuhan pun masih merupakan misteri.
Disini dia berkata sangat fatal dan terjadi pembalikan pematahan keyakinan. “semua orang itu tidak mengerti!”. Lalu saya berkata, “kalau semua orang tidak mengerti maka, kamu juga tidak mengerti donk? Lalu untuk apa kita diskusi sekarang? Saya lebih setuju kalau kamu mengubah kalimat tadi dengan –orang jaman sekarang jarang yang mengerti-”. Kalau dia masih memegang teguh kalimat pertamanya, maka orang yang mengajari dia pertama kali tentang “agama” dan “keagamaan” itu pun tidak mengerti, seperti orang pander belajar melihat gajah dari orang buta.
Kesimpulannya kemudian dia berkata, “Kalau saya lanjutkan, saya takut mematahkan keyakinan anda!”. Saya menjawab lagi, “justru terbalik kawan, saya yang mematahkan keyakinan anda!”. Sayang kemudian telepon terputus, dan sayangnya juga pulsa saya habis, jadi tidak bisa lagi sms seorang gadis yang sedang beranjak dewasa yang marah karena smsnya tidak saya balas. Dan parahnya lagi dia sudah punya kekasih hati hahaha…. Sial!!
Dan nyamuk masih bergelut dengan kibasan tangan saya. Sayangnya saya bukan penggebuk nyamuk, dan bukan pula pemukul lalat-lalat pasar. (sedikit mengutip Nietzsche --kalau boleh hahahaha…)…
NB: Ayo ah curhat… sudah lama ga curhat nih!!! Tag donk kalo pada punya tulisan hehehe… Asu, guguk, anjiing…
Apa ini termasuk subversive? Tabu? Atau apalah namanya?
Yang saya yakin, tuhan itu tidak bodoh. Dan dia sangat suka untuk bergurau. Jika tidak, mana mungkin percakapan seperti ini terjadi.
Maaf, tanpa bermaksud menyinggung hal-hal SARA. Tapi ini butuh perenungan kawan!!!
Sebuah Kehidupan Nyata: Membongkar kerangka moralitas, kebinatangan dan kebusukan!!!
Senin 23.22-00.55.
Hingga malam perenungan ini datang, saya telah banyak mengkonsumsi ratusan teks dalam halaman-halaman dari beragam buku-buku, artikel, puisi, prosa, literatus ideologi hingga daftar isi kandungan sebuah produk sabun, odol dan shampoo.
Kita sering berfikir kalau kita ini pintar. Sungguh kita memang sering brsembunyi dan bermain dengan kemunafikan. Bergantian mengenakan topeng yang berbeda setiap hari.
Langit masih di atas kita kawan!! Bumi juga masih kita pijak. Saya ini hanya binatang yang terpuruk di trotoar. Ya, manusia memang binatang. Terkadang manusia menjadi seperti Tumbuhan, karena memang banyak bulu yang tumbuh ditubuh kita, belum lagi pertumbuhan bagian tubuh yang lain akibat hormon.
Sebagian dari kita tumbuh lebih cepat dari yang lainnya.
Teman saya sangat canggung dengan Pembina skripsinya, karena dia memandang kalau sang dosen pembimbingnya itu lebih pintar darinya. Saya katakan padanya, “Semua orang itu pintar. Sama saja. Dia lebih pintar karena dia telah mendapat banyak ilmu daripada kita. Bahkan tanpa sekolahpun kita bisa sepintar dia andai saja kita mau membaca dan menggali, mencari tahu ada apa saja sih di dunia ini”.
Dia merenungkan perkataan saya. Sayapun tak kalah bingung. Darimana kebijaksanaan itu datang? Sedangkan saya tidak pernah berada dalam situasi yang dia hadapi. Ya Itulah manusia. Itulah keajaiban hidup. Akal!!
Kita semua memang sangat bangsat. Manipulatif. Kau juga bangsat kawan, sama seperti saya. Hanya saja mungkin kebangsatan kita berbeda sebab musababnya.
Kebangsatan saya adalah seringnya saya mengganggu hidup orang. Mengajak diskusi tentang sesuatu yang tak pernah mereka pedulikan, bakhkan mengulik masa lalu yang pahit sekalipun saya tega. Hiraukan saja saya. Annoying. Memang sungguh mengganggu. Menyebalkan. Tapi saya senang dan bahagia menjadi si bangsat ini. Karena mungkin dari diskusi itu pikiran saya malah menjadi sederhana. Toh dunia dan kehidupan ternyata berjalan baik-baik saja, tidak serumit dalam kepala saya. Memang akan sangat rumit jika kita terlalu berlebihan merencanakan sesuatu tanpa realisasi. Sebuah representasi jika manusia ini sangat rapuh dan linglung kadangkala.
Ya biarkan saja setiap orang memilih jalan hidupnya. Saya tidak berjalan di lintas kiri maupun kanan. Di tengah juga saya masih ragu, semua terlihat abu-abu. Saya tidak pernah mengklaim diri yang paling sempurna dan paling memiliki kebenaran. Karena kebenaran tunggal yang absolute itu hanya milik sendiri. Dialektika kebenaran dan keadilan tidak akan menemukan titit temu, karena realitas itu subyektif. Kalau kata Hadi di profile Facebooknya, Religion: Deeply Personal. Bravo kawan!!!
Saya tidak ingin ketika mati nanti saya dikenang sebagai orang yang mulia. Karena seperti sudah saya katakan tadi, saya ini hina, kotor, nyaris tidak bermartabat. Nanti juga kalian tahu. Tapi saya tidak hanya membongkar borok sendiri, melainkan (mungkin) borok kalian juga haha… Masih bernyali
Laki-laki. Dajal dan onani. Oral, anal, menjadi alat masturbasi. Siapa yang belum pernah melakukannya? Itu baru dosa besar. Jahanam kalian.
Sebidang kotak hitam menatapku. Saya dan kotak itu saling menajamkan pandangan. Dalam genggaman saya ada sebuah remote untuk mengendalikan mana yang ingin saya lihat. Kami saling menghipnotis. Tapi dayanya lebih kuat dari yang saya punya. Dia memang sumber segala sesuatu. Namun kurang ajarnya, dia tidak memiliki lembar kedua. Hanya selembar narasi yang dia muntahkan dan dia paksakan untuk saya terima dan saya lahap. Mentah-mentah siap atau tidak harus saya lahap. Jahatnya lagi, dia membawa oleh-oleh ratusan pencitraan produk, yang bergentayangan seperti hantu, pada jam tayang utama. Saya jadi rindu sinetron jadul berjudul “Noktah Merah Perkawinan” yang dibintangi Cok Simbara, atau “Tersanjung” yang fenomenal.
Dimanakah hasrat saya? Dia hampir selalu diam dan menangis, terpuruk di ujung lorong ditengah cahaya kegelapan. Kata embah saya Albert Camus, orang yang kuat itu tidak takut untuk meneteskan air mata. Tapi karena sering menangis dan mengeluh saya justru dibilang cengeng. Siapa yang salah? Mana yang benar? Masyarakat memang tidak tahu apa-apa tentan saya. Mereka menjadi hakim dan terkadang menjadi tuhan.
Sungguh kebebalan itu entah berasal darimana sumbunya. Ingin rasanya menjadi arsonist, saya bakar setiap pemukiman, dan setiap orang, kakek-nenek, pria-wanita, anak-balita, bahkan saya bakar juga orang tua saya. Kemudian saya bakar diri saya sendiri. Kalian lebih baik mulai waspada.
Saya disebut kafir, musyrik oleh mereka. Siapa mereka? Jelmaan tuhan? Hah, persetan. Saya adalah hamba bagi diri saya sekaligus tuan (Bukan Tuhan) bagi diri saya sendiri.
Persahabatan dan pertemanan itu selalu berdasarkan kepentingan kata Reza teman satu grup, (mungkin Boy Band) debat dan diskusi saya. Benar juga koq. Lagi-lagi embah saya Albert Camus mengatakan jika kita ini sebenarnya memperbudak teman dan sahabat kita. Kita meraih sesuatu dengan cemerlang dimana teman kita hanya menjadi penonton. Mereka hanya sekedar pemenuh hasrat bagi kita. Misalkan: Ketika saya sedang kesepian, saya selalu mencari teman untuk bercerita tentang apapun dimana saya selalu menjadi Pusat pembicaraan. Ya, mereka hanya pemenuh hasrat. Baru tahu
Dalam melihat kesalahan fatal. Kadang kita bisa memaafkan seseorang atas kesalahannya. Memang benar. Tapi dalam masyarakat kita justru banyak yang mampu memaafkan tapi belum tentu bisa melupakan kesalahan seseorang tersebut. Dendam kesumat? Saya juga sering seperti itu. Tidak baiklah bagi kesehatan mental, dilihat dari sudut pandang psikologis.
Apalagi jika kita bicara tentang cinta. Sebuah omong kosong besar. Narasi kepalsuan. Di masa sekarang arti cinta telah tereduksi menjadi setitik atom, Bukan semakin bermakna, tapi semakin nyaris tak bermakna lagi. Romeo dan Juliet harusnya menjadi cermin, tapi kini menjadi komodita. Kalau kamu cinta pasangan kamu, maka kamu harus mau melakukan apapun, misal: membelikan berlian, perhiasan. Saat ini memang cinta harus penuh modal. Romantisme mati di hajar oleh realisme. Memang dalam masa seperti ini mutlak kita harus melakukan kompromi, namun tanpa menjual jiwa kita. Cinta itu perasaan, tapi dengan eksistensi sebagai manusia, kita butuh makan, Bukan butuh cinta untuk hidup. Ah, entahlah.
Saya
Saya sangat menghargai perempuan. Tapi perempuan hanya wadah eksploitasi hasrat binatang para lelaki saja. Cabul. Ya kita semua cabul. Pasti ada diantara kalian yang menolak untuk mengaku. Haha… coba saja saat kalian menikah dan menikmati malam pertama, atau saat kalian menikmati apa yang disebut sebagai perzinahan dalam konteks agama, atau saat kalian menggerayangi tubuh perempuan-perempuan kalian. Betapa empuknya payudara itu Bukan? Masih ingat perempuan mana yang kalian sentuh pertama kali? Indah rasanya saat pertama kali menemukan puting atau menyusuri bulu-bulu lebat diantara Vagina. Kemudian wanita itu mulai membuka retsleting celana kita, memainkan persneling, menjilat dan bahkan melakukan hal-hal yang ajaib. Kadang mendesah, atau mendapati celana dalam kita basah. Ini Bukan bicara porno, asusila, atau kata-kata tak bermoral. Saya hanya menulis secara lugas, blak-blakkan saja. Tak perlu malu. Toh kita memang biadab hahahaha… Orang tua kita juga melakukannya. Kalau tidak begitu bagaimana mungkin kita terlahir.
Justru moral itu adalah kemunafikan. Wong dibelakang moral itu kita sering berfantasi dalam kepala kita
Hidup ini memang panggung sandiwara. Kita memang lakon yang sungguh sialan mampu menipu banyak orang. Kita selalu menampilkan diri sebagai pribadi yang baik di luar, secara fisik, menggunakan kata-kata yang baik seakan-akan kita ini orang paling beradab dan terpelajar. Dahsyat. Betapa naifnya. Sungguh penipu, pendusta. Laknat!!
Masih jauh lebih mulia seorang maling ayam yang ketahuan mencuri, diarak masa, dihantam hingga babak belur, kemudian disiram minyak tanah dan dibakar hidup-hidup. Pembakar itu yang biadab. Pencuri itu justru orang yang sangat jujur, mengapa dia mencuri? Ya mungkin dia jarang makan daging, dan sehari sebelum pencurian itu terjadi anaknya yang berusia 6 tahun ingin merasakan nikmatnya Mc.D atau KFC tapi si ayah tidak punya uang hingga akhirnya mencuri ayam dan membuat ayam Mc.d/KFC home made. Masyarakat menganggap dirinya beradab ketika mereka membakar maling. Ketotolan yang bermuara pada akal yang tak pernah digunakan.
Untuk membuat kue tart atau brownies, kita tidak perlu menggunakan akal, cukup saja membaca daftar resep dan kemudian menyatukan bahan yang ada. Justru yang memakai akalnya adalah yang pertama kali menciptakan resep itu.
Seperti pelajaran yang kita ambil, mungkin, dari berbagai literature, doktrin hingga ideology yang rumit dan yang hanya bisa memecah belah saja kerjanya. Kita ini plagiat, percaya atau tidak terserah pada kalian. Maka coba gunakan akal!! Persatuan tidak berakar dari keberagaman.
Puas rasanya menertawai diri sendiri. Maaf bila diantara kalian ada yang tersinggung, itu mungkin karena kalian tidak dapat menerima kebinatangan dalam diri kalian sendiri.
Saya sempat tersentil dengan saudara Moko pada notesnya. Ya karena saya tersentil, berarti saya sulit menerima realita yang ada. Kita memang hidup saling tergantung satu sama lainnya. Ya kalau dalam pelajaran sosiologi atau antropologi juga kita telah diajarkan kalau manusia adalah makhluk social. Bersimbiosa, beradaptasi dan kadang juga saling meniru, imitasi. Tidak ada lagi yang asli. Untuk apa berjuang menjadi sesuatu yang asli dan baru jika disekitar kita telah penuh dengan imitasi? Kepuasan jiwa jawabnya? Absurd sekali yang kalian katakan kawan!! Sedangkan kita sering mengidolakan seseorang bahkan tuhan sekalipun. Tak perlu lagi malu menjadi imitasi, toh itu hanya kegiatan meniru, Bukan sesuatu yang palsu. Justru kepalsuan itu jika saya, kalian dan juga mereka merasa sebagai orang yang paling suci di dunia.
Tapi percaya atau tidak, tulisan saya ini asli saya yang membuat. Tapi isinya? Tak perlu dipertanyakan lagi, sebut saja ini hasil saduran atau resensi dari seluruh pengaruh teks yang pernah saya baca seumur hidup saya.
Fase norak sering juga saya alami. Ajaibnya sampai saat ini saya masih norak.
Senang saat mendapat wacana baru, padalah saya masih kurang mengerti apa yang dibicarakan dalam wacana itu. Otak ini hanya berisi sampah masa lalu yang terbawa melalui teks yang sialnya isi, makna dalam teks-teks dari beberapa pengarang “si biang sial” itu masih sangat relevan untuk menjadi perdebatan.
Manusia itu bunglon, kadang menjadi buaya.
Nikmatnya meracau dimalam hari ini.
Tapi bukankah hal-hal yang saya tuliskan bisa kalian dapatkan dalam diri kalian sendiri?
Haha… Silahkan saja jika kalian ingin membalas dan menghantam kebinatangan, kebiadaban, kebangsatan, kedunguan, ketidakberadaban, serta ketiadaan moral dalam diri saya ini. Toh, kita semua memilikinya jauh didalam diri yang muncul dipermukaan social. Bangga juga menjadi seorang skizoprenia. Narcissus mati ditangan orang-orang seperti saya. Mencoba bersahabat dengan Caligula sang maniak. Tapi saya lebih suka menemani Sisifus ke puncak bukit sebelum kemudian ajal menjemput. Mampus saja!!!
Masih berharap menjadi seorang arsonist. Mulai mengumpulkan mesiu, sumbu dan wadah hingga saya rangkai dalam kalimat yang berubah menjadi ranjau.
Sebuah karya meracau yang menakjubkan Bukan? Semoga saja.
Silahkan bantah!!!
