Ide ini sudah terkumpul sejak 2 hari yang lalu setelah mendengar lagu Sade-Bullet Proof Soul.mp3 ditambah pengaruh film CLOSER dan diskusi dengan Peri Kecil saya. Baru terealisasi sekarang ditengah kesibukan skripsi yang menggila.
Lagi-lagi saya merasa tulisan ini penting untuk dibaca/mungkin tidak juga.
Ada yang mengatakan kalau hidup ini seperti permainan catur. Setiap langkah harus dipikirkan dengan seksama dan hati-hati.
Baiklah. Cukup basa-basi di atas basa-basi.
Pernahkah kamu membayangkan sebuah kehidupan. Ya. Sebuah dunia tanpa cermin.
Kamu tidak tahu seperti apa wajah kamu. Dunia tanpa pantulan wajah. Air tanpa pantulan wajah. Narcissus tenggelam di danau akibat kekagumannya pada wajah sendiri.
Coba sekarang kamu berkaca. Atau kamui boleh lihat gaya andalan foto kamu di HP, folder foto di computer atau album foto jaman dahulu.
Nikmati metamorfosa wajah, mimic dan gesture yang kamu punya.
Saya bisa membayangkan dunia tanpa cermin.
Saya, kamu, kita: tidak tahu seperti apa wujud maupun wajah sendiri.
Saya, kamu, kita: hanya bias melihat wajah orang lain.
Lupakan ratu kecantikan dan pria idaman.
Lupakan gadis sampul dan iklan macho celana dalam pria.
Satu-satunya cara untuk melihat wajah kamu adalah dengan melihat focus, dalam, dan sangat dalam kedalam mata lawan bicara kamu.
Kamu akan tahu seburuk apa wajah kamu.
Lupakan selera. Tampan>Jelek, Cantik>Jelek.
Toh, kamu tidak bisa melihat wajah kamu sendiri.
Kamu akan lebih memperhatikan orang lain daripada diri sendiri.
Kamu akan merasa lebih merdeka. Seperti orang gila yang telanjang dipinggir jalan.
Ya. Kemerdekaan yang absolute hanya saya rasakan dalam kamar mandi.
TELANJANG. Saya tinggalkan semua atribut, pakaian, gengsi, hasrat, kehendak.
Hanya saya yang tahu apa yang terjadi di dalam situ.
Saya tidak bisa melihat hidung, pipi, dagu, alis, gigi, lidah, rambut, telinga dan bahkan mata saya sendiri. Kepala kalian saja yang saya lihat.
Kepala-kepala kalian berbeda bentuk, bervariasi. Seperti pelangi.
Saya berpikir, kalian juga pasti ingin tahu bentuk wajah kalian.
Maaf. Karena saya lancing dengan mudah bisa melihat wujud wajah kalian tanpa susah payah.
Maaf. Saya hanya bisa menceritakan wajah kalian kamu: pipi seperti si A, mulut seperti si B, mata si C, hidung si D.
Tapi tetap saja kamu tidak bisa membayangkannya, meskipun saya membuatkan lukisan atau sketsa wajah kamu. Beruntung bagi yang terlahir kembar. Kamu bisa melihat wajahmu dalam wajah kembaranmu.
Malam ini. Aku menceritakan dunia ini pada wanita yang ingin kupinjam hidupnya.
Lalu akau bertanya: “Siapa yang menuliskan sejarah? Yang menang atau yang kalah perang?”
Saat kamu memikirkan cinta. Itu hanya sebatas pikiran.
Cinta itu mesti dialami dan dihidupi, bukannya dipikirkan.
Kita sering meminjam waktu dari hidup orang. Bagi saya, setiap detik sangat berharga dalam hidup yang Cuma satu kali ini.
Saya tidak akan menghabiskan waktu dengan menabung. Saya tidak ingin membeli jaguar untuk liburan di Surga.
Saya melangkah tanpa tahu wajah saya sendiri. Tanpa pernah melihat wajah saya sendiri.
Tapi saya cukup bahagia dapat melihat kalian.
Tapi. Berikan saya sedikit waktu untuk ke kamar mandi.
Seorang gadis bercerita:
Dia berada di satu ruang kuliah. Bersama 99 mahasiswa/i. Seorang dosen lanjut usia bercerita didepan kelas tentang sebuah pelajaran berharga yang tidak bisa didapat dari ruang lainnya. Ruang itu begitu hening, membosankan, terang, terang dan terang. Rasanya semua ingin pergi ke toilet. Tapi ada sebuah daya magis, bandot tua itu menghipnotis hingga semua lekat di kursi masing-masing.
Gadis itu berpikir: “Lampu ruangan ini harus aku matikan supaya kejenuhan ini usai.”
Dia mematikan lampu.
Seisi kelas riuh, mengeluh. Pilihannya salah.
Dia mengira semua jenuh. Ya. Tapi mereka tidak lelah untuk menimba ilmu mata kuliah kehidupan.
Dia mengira. Dengan melihat wajah yang lainnya, ia bisa mewakilinya seperti sketsa.
Ya. Setiap hari adalah perang. Saya ingin selalu jadi pemenang. Maka saya mainkan peran dengan keras kepala. Terserah jika kalian punya pilihan lain.
Pernahkan terpikir? Setiap hari kita berfoya-foya! Bahkan tanpa uang sepeserpun. Nafas adalah harta.
Kita semua pernah lupa untuk bernafas. Tapi toh kita tetap hidup!!!
Oksigen masuk ke paru-paru, memompa jantung, memacu denyut nadi ke sekujur tubuh.
Hidup sangat layak untuk dijalani tanpa mengeluh. Walaupun saya masih suka mengeluh.
Terkadang saya merasa lelah membaca, karena semakin banyak saya membaca, ternyata semakin banyak hal yang tidak saya ketahui.
Apakah ilmu memiliki muara?
Seperti sisa hujan yang menyisakan pelangi.
Saya mengendap ke dalam jiwa-jiwa kalian hanya untuk mengatakan, “Sampai jumpa di dunia tanpa cermin.”
Saya ingin hidup merdeka di kamar mandi.
Tapi ruang itupun telah membatasi kemerdekaan saya.
Saya tidak memiliki kemerdekaan? Siapa yang memilikinya?
Oh, sungguh saya terkagum pada Albert Camus.
Jika cinta adalah senjata, maka manusia adalah martir.
Jika kejujuran hanya akan membuatmu punah, maka benar adanya bahwa kebohongan adalah mata uang dunia. Itu yang akan membuatmu kaya.
Tapi aku tidak ingin kaya. Aku hanya ingin menikmati hidup!!!
Mental Trip, Rock on!!!
Nb: di tulis di tengah kegalauan skripsi hehehe…
Seperempat Kebenaran. (Sebuah Percobaan ke Dua Merefleksi Pemikiran Albert Camus)
Minggu, 8 november 2009. (21.03-22.30).
“Tapi kita mungkin malah harus melawan kebohongan atas nama seperempat kebenaran”. Albert Camus.
Malam redup. Namun jiwaku sangat-sangat dan sunguh-sungguh terbakar dan bersemangat. Mungkin saja orang bisa jatuh cinta setiap saat, meskipun sebenarnya sekali saja cukup. Militansi dalam jiwa saya adalah sesuatu yang pasif dan laten, yang hanya muncul pada waktu-waktu senggang saja. Kebanyakan dalam keseharian walaupun beraktifitas super padat, jiwa saya tertidur. Mandul.
Saya lebih sibuk berpikir daripada berbuat. Pikiran saya jauh lebih luas dari perbuatan saya.
Berpikir sederhana tidak sama dengan berpikir pendek. Hidup terlalu singkat untuk membuang kesempatan pada satu jalan kebodohan yang tidak pernah kamu ketahui maknanya.
Siapa yang sungguh-sungguh suci untuk dapat menilai diri manusia lainnya? Kamu sekalian tidak pernah memiliki hak untuk itu.
Saya menghidupi zaman ini tidak seperti kawan-kawan sezaman saya menghidupi zaman ini. Terlalu banyak kekecewaan yang muncul setelah tumpukan buku-buku dan literature yang nyaris membusuk di sudut kamar membawa informasi dan angin segar bagi jiwa saya.
Entah apa gumpalan kertas itu membawa kebohongan atau hanya membawa seperempat kebenaran. Yang saya tahu saat ini saya memilih untuk menemukan kebahagiaan dan identitas diri yang beradaptasi, berasimilasi kemudia bermutasi menjadi makhluk pra-imitasi. Sekarang, saat skizoprenia kambuh, mulailah sedikit demi sedikit scopophilia menjangkiti pikiran.
Pseudo-reality. Oh, betapa serunya tayangan bertajuk “Reality Show”. Betapa memukaunya “Infotainment Gossip”. Setiap pagi, siang, sore dan malam menjejali pikiran.
Pada notes sebelum ini, saya menyatakan bahwa saya menemukan kemerdekaan di dalam kamar mandi. Saya bebas bertelanjang dan berbuat sesuka hati. Tapi hari ini saya berkata lain. Saya tidak pernah merasa menemukan kemerdekaan, apalagi kebebasanm dalam kamar mandi itu.
Kamar mandi dalam konteks ini bagi saya hanya menyajikan kemerdekaan semu. Selama ini saya salah dan telah membiarkan masyarakat yang gila ini tertawa di tanah lapang, sedangkan saya menyalurkan “kebebasan” hanya dalam petak-petak kamar mandi yang saya temui.
Seperempat kebenaran. Kurang dari satu, kurang dari setengah.
Saya nyaris selalu gagal menemukan kewarasan. Tapi toh saya telah memilih secara laten dan tidak terdefinisi apa yang saya perjuangkan (dan apa yang saya sangkalkan) dan pilihan criteria mengenai kewarasan secara personal di tengah masyarakat yang entah bagaimana awa mulanya hingga bisa mengidap penyakit kronis yang tak kunjung sembuh.
Bicara tentang kebebasan dan keadilan. Mereka adalah dua hal yang berkaitan. Saling mempengaruhi satu sama lain. Kebebasan tanpa keadilan akan menciptakan masyarakat barbar dan lebih dari setengah sinting daripada zaman ini. Sedangkan keadilan tanpa kebebasan adalah mimpi di siang bolong.
Kini saya memilih menuangkan air dalam kendi untuk bisa dinikmati seluruhnya oleh tanah, air, angin dan udara. Saya berharap bisa merdeka di luar kamar mandi.
Albert Camuys mengatakan dalam judul tulisan yang sama, “Jika kita harus gagal, akan lebih baik bila kita ada pada pihak yang memilih kehidupan daripada pihak yang memusnahkan kehidupan”.
Dunia ini memang harus dalam keadaan yang tetap mendidih agar selalu layak untuk dijalani. Setiap hari selalu menimbulkan alasan-alasan baru untuk menjalani hidup penuh dengan senyuman, bahkan pada kemunafikan sekalipun.
Saya juga bukan orang yang suci. Tulisan saya ini juga bekan sesuatu yang terlalu istimewa apa lagi saya banyak meminjam kutipan orang lain.
Tapi masalah kebebasan dan keadilan, kebenaran dan kebohongan tidak akan pernah berhenti, masyarakat harus terus maju dan diberi suplemen wacana meskipun hanya seperempat kebenaran saja. Selebihnya kita berikan kepada mereka ruang untuk mencari sesuatu yang ada diluar dirinya dan lingkungan terdekatnya tanpa paksaan dan tirani mayoritas.
Kompromi mutlak dilakukan?
Ya, untuk menerapkan seperempat kebenaran kita harus tetap hidup dan berbaur dengan masyarakat yang sakit ini. Seperti halnya manusia hidup untuk melanjutkan eksistensinya di dunia.
Menciptakan kebudayaan superorganic seperti yang disebutkan oleh Herskovits. Konstruksi realitas apa yang sebenarnya saya bayangkan? Entahlah. Dengan bersikap seperti ini saja toh akan adal orang yang menganggap saya menyimpang. Subversive. Padahal tidak juga. Saya ini pengecut koq!!!
Counter-culture seringkali dianggap sesuatu yang negative dalam masyarakat yang tunduk dan menyerahkan segala urusan keadilan dan kebebasan pada aparat. Maka tidak heran jika isu anarkisme sering di belokkan dan di pelesetkan oleh media sebagai sesuatu yang berbahaya, tindakan barbar, tidak bermoral dan merusak. Padahal tidak sepenuhnya benar.
Bahkan seperempat kebenaran saja sudah lebih dari cukup untuk mempengaruhi orang bukan??
Sedangkan Surjono Soekanto mengatakan dalam Pengantar Sosiologi, “Counter-Culture tidak harus diberi arti negative, karena adanya gejala tersebut dapat dijadikan petunjuk bahwa kebudayaan induk di anggap kurang dapat menyelaraskan diri dengan perkembangan kebutuhan-kebutuhan”. Dalam pengertian ini, ada sekelompok kecil elemen masyarakat yang mempunyai ide baru tentang kehidupan yang mereka serap dari budaya lain yang telah disesuaikan terlebih dahulu dengan budaya mereka sepenuhnya.
Karena kebudayaan merupakan sesuatu yang dinamis, maka perubahan yang terjadi di dalamnya merupakan sesuatu yang biasa.
Masyarakat, menurut Kingsley Davis, adalah sistem hubungan dalam arti hubungan organisasi-organisasi dan bukan hubungan antara sel-sel. Apabila mengambil definisi kebudayaan dari Tylor yang mengatakan bahwa kebudayaan adalah suatu kompleks yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat-istiadat dan setiap kemampuan serta kebiasaan manusia sebagai masyarakat. Maka perubahan-perubahan kebudayaan adalah setiap perubahan dari unsur-unsur tersebut. Lalu apa yang harus diatkuti dari perubahan sosial yang merupakan bagian dari perubahan kebudayaan?
Masalahnya kini, adalah bagaimana memadukan budaya-budaya yang ada agar “sesuai” dengan “selera” masyarakat?
Mengenai kebebasan. Dia bukanlah sesuatu yang tanpa batas. Kebebasan kita terbatas pada orang di sekitar kita sehingga kita harus terus beradaptasi agar tetap dapat menghidupkan ide-ide abru di tengah-tengah mereka.
Sebagai penutup, saya mengutip satu lagi quote Albert Camus, “Memilih kebebasan bukanlah memilih sesuatu melawan keadilan, seperti kata kebanyakan orang. Sebaliknya, saat ini kebebasan dipilih karena adanya orang-orang yang menderita dan berjuang dimana-mana dank arena hanya kebebasan seperti itulah yang patut diperjuangkan. Kebebasan dipilih pada saat yang sama dengan keadilan, dan dengan begitu kita tidak bisa memilih yang satu tanpa yang lain”.
Ya. Bahkan seperempat kebenaran telah lebih dari cukup untuk mempengaruhi orang lain. Seperempat dan setengah kebenaran lainnya, biarlah mereka yang mencari dan temukan dengan sendirinya.
wooHoow.. pernah dengar kalimat "tuhan telah mati, kita telah membunuhnya" haha..
semenjak manusia merasa mewakili tuhan di dunia, semenjak itu pula tuhan menjadi lemah. tuhan tidak butuh perpanjangan tangan.
jika para front~front theis, atheis dan anti~theis gemar membicarakan tuhan. mungkin si pria bijak di atas langit itu sedang tertawa terbahak~bahak.
tuhan adalah sebuah bola dalam pertandingan final antar keyakinan. siapapun yang menceploskan dia ke gawang, akan mendapat nilai 1.
tidak ada yang kalah di akhir pertandingan, sebab 22 pemain mendapat giliran menyepak bola dan menggiring ke arah yang pemain itu mau.
sedangkan wasit kita anggap sebagai pengamal kitab suci yang memberi hukuman kepada pemain yang melakukan tindakan curang. tapi terkadang tafsir wasit atas suatu aturan tentang pelanggaran tidak terjebak dalam teks yang tidak kontekstual. wasit butuh lebih banyak nurani daripada naluri menceploskan bola dan mencari kemenangan dalam satu pertandingan.
wufh. bola dunia berputar. berapa banyak warga dunia saat ini? siapa yang menjadi pemain? yang mana menjadi wasit?
jangan lupakan penonton. mereka netral saja, mungkin para agnostik dan atheis ada di dalamnya. tidak peduli siapa yang jadi pemenang. asalkan biasa sekedar menonton sepakbola atau membuat kericuhan dalam pertandingan.
lalu. apa peran kamu dalam stadion dunia mahabaratha ini? haha.
tuhan memang tidak gila. sebab dia tak mungkin dipelajari.
tapi kamu memang sinting, berusaha membelanya.
sudahlah. tinggalkan dia dalam kesendiriannya. yang walaupun karena kesendiriannya kita bisa tercipta.
poor human. poor hate. poor hope.
(02.30 - 03.21)
Sebenarnya saya bukan pemuja waktu. Waktu dalam pengertian detik, menit, jam, hari, bulan, tahun. Lupakan tentang itu. Waktu adalah waktu. Dia bukanlah apa-apa. Waktu saat ini adalah simbol dari entitas hedonis, euphoria, dan candu dynosian yang terjebak dalam hegemoni momentum yang terasa demikian dahsyat.
Namun. Seperti sering saya sebutkan kalau saya hanya percaya pada adanya siang dan malam. Udara merayap dalam paru-paru memompa jantung memaksa otak memeras syaraf-syaraf untuk bergegas.Hari ini bukanlah hari ini. Besok bukanlah besok. Seperti hampa bukanlah kosong, tapi tiada.
Kami yang terus membakar kepalan dalam utopi dan perayaan mimpi dalam hati tetap setia mengawasi putaran laknat ini berdentum menggila.
Jika Gibran berkata: "Kemarin adalah pengalaman, hari ini adalah hadiah, dan esok adalah harapan". Setiap malam berganti siang saya serentak menyambut hadiah yang datang dengan gratis.
Nietszche berteriak, "Suaraku bukan suara untuk telinga-telinga kalian" dan "esok adalah milikku". Masa depan. Saya yang menolak keseharian masih saja mendendangkan masa depan dan masih menggantungkan harapan.
Ya Gibran mungkin benar.
Nietszche juga tepat.
Bulu kudukku berdiri sesaat setelah melihat peluh mengalir deras diantara moralitas yang bertarung dengan watak idiot sebagian manusia yang enggan mengagungkan jiwanya.
Mereka yang bersujud pada kolase logika dan penggandaan epos tua bangka dan pelacur yang damai bersemayam di tengah rayap-rayap yang ramai-ramai menyelimuti kegelisahan dan watak urakan.
Kalian para kawan yang kumuliakan seperti teriakan mimbar pasca kamis malam, kalian yang menjadikanku memiliki sepenggal makna dalam kisah cinta dan kebencian kita.
Demi hewan-hewan berpikir yang sangat rasional dalam tempurung material. Dengan segenap kelopak mata yang menganga dalam penat, energi ini aku sembahkan kepada setiap kerontokan makna dalam prasangka bisu.
Senyum apa yang telah kita lempar pada tahun ini?
Untuk apa air mata kita menetes dalam kurun interval awal dan akhir bagian sejarah peradaban ini.
Maaf, aku lupa.Kita bukan bagian dari sejarah. Kita yang terbuang dalam pengasingan. Mencoba memberi cubitan ringan dan kecup mesra pada cleopatra dan medusa.
Selamat membuat resolusi.Selamat menanti harapanmu terwujud. Hari ini adalah hadiah milik kita, raih, rebut, jamah dah perkosa hingga hasratmu terpuaskan.
Cheers untuk setiap tegukan racun tikus, dan lopatan keputusasaan sahabat kita yang telah menjadi nisan di atas kakus berkelambu menyan!
Sumbu telah terbakar. Kita saksikan nanti bagaimana kembang api itu berpijar!
Sebuah Kehidupan Nyata: Membongkar kerangka moralitas, kebinatangan dan kebusukan!!!
Senin 23.22-00.55.
Hingga malam perenungan ini datang, saya telah banyak mengkonsumsi ratusan teks dalam halaman-halaman dari beragam buku-buku, artikel, puisi, prosa, literatus ideologi hingga daftar isi kandungan sebuah produk sabun, odol dan shampoo.
Kita sering berfikir kalau kita ini pintar. Sungguh kita memang sering brsembunyi dan bermain dengan kemunafikan. Bergantian mengenakan topeng yang berbeda setiap hari.
Langit masih di atas kita kawan!! Bumi juga masih kita pijak. Saya ini hanya binatang yang terpuruk di trotoar. Ya, manusia memang binatang. Terkadang manusia menjadi seperti Tumbuhan, karena memang banyak bulu yang tumbuh ditubuh kita, belum lagi pertumbuhan bagian tubuh yang lain akibat hormon.
Sebagian dari kita tumbuh lebih cepat dari yang lainnya.
Teman saya sangat canggung dengan Pembina skripsinya, karena dia memandang kalau sang dosen pembimbingnya itu lebih pintar darinya. Saya katakan padanya, “Semua orang itu pintar. Sama saja. Dia lebih pintar karena dia telah mendapat banyak ilmu daripada kita. Bahkan tanpa sekolahpun kita bisa sepintar dia andai saja kita mau membaca dan menggali, mencari tahu ada apa saja sih di dunia ini”.
Dia merenungkan perkataan saya. Sayapun tak kalah bingung. Darimana kebijaksanaan itu datang? Sedangkan saya tidak pernah berada dalam situasi yang dia hadapi. Ya Itulah manusia. Itulah keajaiban hidup. Akal!!
Kita semua memang sangat bangsat. Manipulatif. Kau juga bangsat kawan, sama seperti saya. Hanya saja mungkin kebangsatan kita berbeda sebab musababnya.
Kebangsatan saya adalah seringnya saya mengganggu hidup orang. Mengajak diskusi tentang sesuatu yang tak pernah mereka pedulikan, bakhkan mengulik masa lalu yang pahit sekalipun saya tega. Hiraukan saja saya. Annoying. Memang sungguh mengganggu. Menyebalkan. Tapi saya senang dan bahagia menjadi si bangsat ini. Karena mungkin dari diskusi itu pikiran saya malah menjadi sederhana. Toh dunia dan kehidupan ternyata berjalan baik-baik saja, tidak serumit dalam kepala saya. Memang akan sangat rumit jika kita terlalu berlebihan merencanakan sesuatu tanpa realisasi. Sebuah representasi jika manusia ini sangat rapuh dan linglung kadangkala.
Ya biarkan saja setiap orang memilih jalan hidupnya. Saya tidak berjalan di lintas kiri maupun kanan. Di tengah juga saya masih ragu, semua terlihat abu-abu. Saya tidak pernah mengklaim diri yang paling sempurna dan paling memiliki kebenaran. Karena kebenaran tunggal yang absolute itu hanya milik sendiri. Dialektika kebenaran dan keadilan tidak akan menemukan titit temu, karena realitas itu subyektif. Kalau kata Hadi di profile Facebooknya, Religion: Deeply Personal. Bravo kawan!!!
Saya tidak ingin ketika mati nanti saya dikenang sebagai orang yang mulia. Karena seperti sudah saya katakan tadi, saya ini hina, kotor, nyaris tidak bermartabat. Nanti juga kalian tahu. Tapi saya tidak hanya membongkar borok sendiri, melainkan (mungkin) borok kalian juga haha… Masih bernyali
Laki-laki. Dajal dan onani. Oral, anal, menjadi alat masturbasi. Siapa yang belum pernah melakukannya? Itu baru dosa besar. Jahanam kalian.
Sebidang kotak hitam menatapku. Saya dan kotak itu saling menajamkan pandangan. Dalam genggaman saya ada sebuah remote untuk mengendalikan mana yang ingin saya lihat. Kami saling menghipnotis. Tapi dayanya lebih kuat dari yang saya punya. Dia memang sumber segala sesuatu. Namun kurang ajarnya, dia tidak memiliki lembar kedua. Hanya selembar narasi yang dia muntahkan dan dia paksakan untuk saya terima dan saya lahap. Mentah-mentah siap atau tidak harus saya lahap. Jahatnya lagi, dia membawa oleh-oleh ratusan pencitraan produk, yang bergentayangan seperti hantu, pada jam tayang utama. Saya jadi rindu sinetron jadul berjudul “Noktah Merah Perkawinan” yang dibintangi Cok Simbara, atau “Tersanjung” yang fenomenal.
Dimanakah hasrat saya? Dia hampir selalu diam dan menangis, terpuruk di ujung lorong ditengah cahaya kegelapan. Kata embah saya Albert Camus, orang yang kuat itu tidak takut untuk meneteskan air mata. Tapi karena sering menangis dan mengeluh saya justru dibilang cengeng. Siapa yang salah? Mana yang benar? Masyarakat memang tidak tahu apa-apa tentan saya. Mereka menjadi hakim dan terkadang menjadi tuhan.
Sungguh kebebalan itu entah berasal darimana sumbunya. Ingin rasanya menjadi arsonist, saya bakar setiap pemukiman, dan setiap orang, kakek-nenek, pria-wanita, anak-balita, bahkan saya bakar juga orang tua saya. Kemudian saya bakar diri saya sendiri. Kalian lebih baik mulai waspada.
Saya disebut kafir, musyrik oleh mereka. Siapa mereka? Jelmaan tuhan? Hah, persetan. Saya adalah hamba bagi diri saya sekaligus tuan (Bukan Tuhan) bagi diri saya sendiri.
Persahabatan dan pertemanan itu selalu berdasarkan kepentingan kata Reza teman satu grup, (mungkin Boy Band) debat dan diskusi saya. Benar juga koq. Lagi-lagi embah saya Albert Camus mengatakan jika kita ini sebenarnya memperbudak teman dan sahabat kita. Kita meraih sesuatu dengan cemerlang dimana teman kita hanya menjadi penonton. Mereka hanya sekedar pemenuh hasrat bagi kita. Misalkan: Ketika saya sedang kesepian, saya selalu mencari teman untuk bercerita tentang apapun dimana saya selalu menjadi Pusat pembicaraan. Ya, mereka hanya pemenuh hasrat. Baru tahu
Dalam melihat kesalahan fatal. Kadang kita bisa memaafkan seseorang atas kesalahannya. Memang benar. Tapi dalam masyarakat kita justru banyak yang mampu memaafkan tapi belum tentu bisa melupakan kesalahan seseorang tersebut. Dendam kesumat? Saya juga sering seperti itu. Tidak baiklah bagi kesehatan mental, dilihat dari sudut pandang psikologis.
Apalagi jika kita bicara tentang cinta. Sebuah omong kosong besar. Narasi kepalsuan. Di masa sekarang arti cinta telah tereduksi menjadi setitik atom, Bukan semakin bermakna, tapi semakin nyaris tak bermakna lagi. Romeo dan Juliet harusnya menjadi cermin, tapi kini menjadi komodita. Kalau kamu cinta pasangan kamu, maka kamu harus mau melakukan apapun, misal: membelikan berlian, perhiasan. Saat ini memang cinta harus penuh modal. Romantisme mati di hajar oleh realisme. Memang dalam masa seperti ini mutlak kita harus melakukan kompromi, namun tanpa menjual jiwa kita. Cinta itu perasaan, tapi dengan eksistensi sebagai manusia, kita butuh makan, Bukan butuh cinta untuk hidup. Ah, entahlah.
Saya
Saya sangat menghargai perempuan. Tapi perempuan hanya wadah eksploitasi hasrat binatang para lelaki saja. Cabul. Ya kita semua cabul. Pasti ada diantara kalian yang menolak untuk mengaku. Haha… coba saja saat kalian menikah dan menikmati malam pertama, atau saat kalian menikmati apa yang disebut sebagai perzinahan dalam konteks agama, atau saat kalian menggerayangi tubuh perempuan-perempuan kalian. Betapa empuknya payudara itu Bukan? Masih ingat perempuan mana yang kalian sentuh pertama kali? Indah rasanya saat pertama kali menemukan puting atau menyusuri bulu-bulu lebat diantara Vagina. Kemudian wanita itu mulai membuka retsleting celana kita, memainkan persneling, menjilat dan bahkan melakukan hal-hal yang ajaib. Kadang mendesah, atau mendapati celana dalam kita basah. Ini Bukan bicara porno, asusila, atau kata-kata tak bermoral. Saya hanya menulis secara lugas, blak-blakkan saja. Tak perlu malu. Toh kita memang biadab hahahaha… Orang tua kita juga melakukannya. Kalau tidak begitu bagaimana mungkin kita terlahir.
Justru moral itu adalah kemunafikan. Wong dibelakang moral itu kita sering berfantasi dalam kepala kita
Hidup ini memang panggung sandiwara. Kita memang lakon yang sungguh sialan mampu menipu banyak orang. Kita selalu menampilkan diri sebagai pribadi yang baik di luar, secara fisik, menggunakan kata-kata yang baik seakan-akan kita ini orang paling beradab dan terpelajar. Dahsyat. Betapa naifnya. Sungguh penipu, pendusta. Laknat!!
Masih jauh lebih mulia seorang maling ayam yang ketahuan mencuri, diarak masa, dihantam hingga babak belur, kemudian disiram minyak tanah dan dibakar hidup-hidup. Pembakar itu yang biadab. Pencuri itu justru orang yang sangat jujur, mengapa dia mencuri? Ya mungkin dia jarang makan daging, dan sehari sebelum pencurian itu terjadi anaknya yang berusia 6 tahun ingin merasakan nikmatnya Mc.D atau KFC tapi si ayah tidak punya uang hingga akhirnya mencuri ayam dan membuat ayam Mc.d/KFC home made. Masyarakat menganggap dirinya beradab ketika mereka membakar maling. Ketotolan yang bermuara pada akal yang tak pernah digunakan.
Untuk membuat kue tart atau brownies, kita tidak perlu menggunakan akal, cukup saja membaca daftar resep dan kemudian menyatukan bahan yang ada. Justru yang memakai akalnya adalah yang pertama kali menciptakan resep itu.
Seperti pelajaran yang kita ambil, mungkin, dari berbagai literature, doktrin hingga ideology yang rumit dan yang hanya bisa memecah belah saja kerjanya. Kita ini plagiat, percaya atau tidak terserah pada kalian. Maka coba gunakan akal!! Persatuan tidak berakar dari keberagaman.
Puas rasanya menertawai diri sendiri. Maaf bila diantara kalian ada yang tersinggung, itu mungkin karena kalian tidak dapat menerima kebinatangan dalam diri kalian sendiri.
Saya sempat tersentil dengan saudara Moko pada notesnya. Ya karena saya tersentil, berarti saya sulit menerima realita yang ada. Kita memang hidup saling tergantung satu sama lainnya. Ya kalau dalam pelajaran sosiologi atau antropologi juga kita telah diajarkan kalau manusia adalah makhluk social. Bersimbiosa, beradaptasi dan kadang juga saling meniru, imitasi. Tidak ada lagi yang asli. Untuk apa berjuang menjadi sesuatu yang asli dan baru jika disekitar kita telah penuh dengan imitasi? Kepuasan jiwa jawabnya? Absurd sekali yang kalian katakan kawan!! Sedangkan kita sering mengidolakan seseorang bahkan tuhan sekalipun. Tak perlu lagi malu menjadi imitasi, toh itu hanya kegiatan meniru, Bukan sesuatu yang palsu. Justru kepalsuan itu jika saya, kalian dan juga mereka merasa sebagai orang yang paling suci di dunia.
Tapi percaya atau tidak, tulisan saya ini asli saya yang membuat. Tapi isinya? Tak perlu dipertanyakan lagi, sebut saja ini hasil saduran atau resensi dari seluruh pengaruh teks yang pernah saya baca seumur hidup saya.
Fase norak sering juga saya alami. Ajaibnya sampai saat ini saya masih norak.
Senang saat mendapat wacana baru, padalah saya masih kurang mengerti apa yang dibicarakan dalam wacana itu. Otak ini hanya berisi sampah masa lalu yang terbawa melalui teks yang sialnya isi, makna dalam teks-teks dari beberapa pengarang “si biang sial” itu masih sangat relevan untuk menjadi perdebatan.
Manusia itu bunglon, kadang menjadi buaya.
Nikmatnya meracau dimalam hari ini.
Tapi bukankah hal-hal yang saya tuliskan bisa kalian dapatkan dalam diri kalian sendiri?
Haha… Silahkan saja jika kalian ingin membalas dan menghantam kebinatangan, kebiadaban, kebangsatan, kedunguan, ketidakberadaban, serta ketiadaan moral dalam diri saya ini. Toh, kita semua memilikinya jauh didalam diri yang muncul dipermukaan social. Bangga juga menjadi seorang skizoprenia. Narcissus mati ditangan orang-orang seperti saya. Mencoba bersahabat dengan Caligula sang maniak. Tapi saya lebih suka menemani Sisifus ke puncak bukit sebelum kemudian ajal menjemput. Mampus saja!!!
Masih berharap menjadi seorang arsonist. Mulai mengumpulkan mesiu, sumbu dan wadah hingga saya rangkai dalam kalimat yang berubah menjadi ranjau.
Sebuah karya meracau yang menakjubkan Bukan? Semoga saja.
Silahkan bantah!!!
Kemarin saya terjebak dalam dilemma tentang sebuah konsep yang sungguh merupakan misteri yang tetap asing dan sulit untuk ditebak kemana akan mengalir.
Ya, hanya menikmati sisa kehidupan yang tinggal menunggu akhir diujung perjalanan.
dua minggu terakhir ini ada segumpal darah yang menyeruak dari dalam kerongkongan saya, entah apa itu, yang pasti mungkin bukanlah sesuatu yang biasa.
tapi biarlah, biar semua binasa mungkin bersama jiwa yang semakin letih mencari persinggahan setelah menyusuri trotoar yang penuh dengan debu aspal dan materi.
Sekedar mengingat malam-malam yang penuh cahaya dan gemerlap kota tanpa jera.
Untuk semua yang terjebak dalam penjara pikiran...
Detik demi detik berdetak entah semakin cepat atau melambat…
pastinya hidup (secara sempit ya!!!) merupakan “suatu” masalah besar…
kenapa saya mengatakan “suatu” dan Bukan “sebuah”,,,
karena suatu Menurut saya adalah hal yang masih sulit untuk ditebak kemana arusnya…
seperti saya yang suatu waktu bisa menjadi aku,kamu,kau,,kami,kalian atau bahkan menjadi mereka yang juga saya ini bagain dari sebuah “massa”…
diotak ini banyak pula hal yang secara “massal” menjelali otak seperti orang yang antri minyak tanah ditengah kelangkaan akibat konversi ke bahan bakar gas…
bentuk kepala saya sebenarnya cukup kecil kalau dilihat dari badan saya yang cukup menjulang ke langit,,,
ya silahkan saja tertawa atau mencibir,,,
kira-kira mungkin mulai dari enam atau tujuh tahun kebelakang saya sering mendengar orang banyak berkata tentang saya saya mereka ada dibelakang saya atau ketika saya baru melewati mereka…
manusia sungguh sangat perhatian dalam kehidupan social pada manusia lainnya…
“busyet, tinggi banget nih orang”,,”masya’allah,, tinggi banget mas!!”
saya sih ga terlalu perduli…
nah pusingnya lagi saya ini termasuk temperampental dan suka moody kalo anak gaul sekarang bilang…
yang whatever people say lah,,,
heran juga sewaktu nonton Televisi,,,banyak acara plagiat yang muncul satu persatu…
media sekarang seperti hama
,,,mati satu tumbuh seribu,,,
alangkah baiknya kalau pemerintah menerapkan hal yang sama,,,
rakyat lapar mati satu tumbuh seribu…
aparat korup satu korup seribu,,,
diare muncul satu tumbuh seribu…
busung satu busung seribu…
ujung-ujungnya nanti ada satu nyawa harganya cuma seribu…
merdeka atau mati semestinya bisa gaung lagi suaranya zaman sekarang…
merdeka dari pemerintah???apa mungkin??
Kan presiden kita yang pilih,,,itu juga kalau pembaca Bukan golput…
Apa rela “dijajah” pemerintah??
Kalau rela, nanti banyak lagi yang mampus karena busung lapar,,diare dan rawan pangan,,
Kalau benar sudah merdeka buat apa lagi ngantri minyak tanah??/
Rakyat kecil saja masih miris,,,kasarnya boro-boro mau mikirin pilkada,pilgub,pilpres,,,wong perut sekarang aja ga ada jaminan dari pemerintah…
Zaman edan,,,Negeri edan,,,rakyat edan,,,saya juga jadi edan…
Siapa yang waras??
Lagi-lagi merdeka atau mati…
Sedikit revolusi mungkin perlu untuk negeri ini ya…
Mulai saja dari diri masing-masing,,,
lalu mulai dari keluarga,,,rt,,rw,,camat,,lurah,,kabupaten,,kota,,provinsi,,Negara…
cape
deh
!!! Prosesnya lama juga ya…
reformasi ujung-ujungnya bikin pusing juga
kan
,,,
banyak demo ga ada solusi,,,
Demokrasi cuma jadi tameng dibalik salam tempel para penikmat budaya instant…
Fiuuuh,,,,
Sungguh benar saya senang sekali menjadi orang Indonesia,,,
Banyak kekonyolan yang selalu muncul,,,itupun dalam interpretasi saya sendiri…
Ya mau apa lagi,,,wong semua juga udah edan…
Hari berakhir tanpa titik,, masih menyisakan banyak cerita untuk didengar dan dilihat…
hanya saja saat mata terpejam,,dunia menjadi lebih luas untuk dinikmati…
sedikit jernihkan pikiran dari ragu,,, mencoba menjadi lebih pasti sebelum mati…
memenggal distorsi realitas dalam secuil sajak kehidupan…
belajar dari kehidupan nyalakan pijar warna yang redup…
dengan senyawa cinta dan kedamaian yang tetap masih terlihat utopis…
belum terkikis bersama kesombongan dan persetan cannabismu…
kau katakan persetan pada diriku…
kawaan,,,biarkan jalan yang tentukan siapa yang akan meneguk manisnya seisi cawan…
Menghela nafas setelah kuhirup udara sedalam paru-paruku menampung…
jantungku masih saja berdetak tidak karuan,
menanti tarian jemari sang asmara menjentikan mimpi dan sadarkan kalau ini tidak nyata…
bodohnya,,,masih saja diam dan enggan berlari mengejar pucuk mawar yang menanti dalam gerbong tua…
menepikan jiwa pada sisi jalan yang belum juga usai kususuri…
menanamkan janji hingga jemariku tak lagi dapat menghitung,,,
puluhan janji yang tertanam membuat pikiranku terlalu rimbun dan entah kenapa juga bisa terlihat seperti si bodoh yang bingung memilih benar atau salah…
lalu aku teringat akan sepenggal suara nyanyian lama “perjalanan ini trasa sangat menyedihkan, sayang engkau tak duduk disampingku kawan”…
masih ada bangku kosong yang kuharap terisi sebelum aku mulai kembali tak terkendali…
tak terkenali oleh kalian dan mereka yang entah siapa selalu saja menilai dari otak yang kumuh… satu persatu setiap bagian dalam hidup kini semakin asing,,,
ya ,, mungkin aku terasing karena sikapku sendiri,,,
skeptis,,,
membunuh pertanyaan,tapi aku menjauhi sikap sinis,,,
sedikit sarkasme hanya sebagai penyedap bila otak kawanku itu mulai bebal atas kebenarannya sendiri…
stop,,,
mari kita kembali lagi pada konteks yang masih terbuka untuk apapun dan siapapun untuk membantah dan setuju…
lirikal yang tertulis tanpa arah ini adalah sebuah pilihan yang kubuat…
apa yang kulakukan hari ini adalah dari pilihan yang aku buat…
untaian alphabet a-z ini adalah teman setiaku yang selalu menjadi komposisi setaraf dengan harmoni dalam pikiran ku…
kembali pada sepenggal suara nyanyian lama tadi “perjalanan ini trasa sangat menyedihkan, sayang engkau tak duduk disampingku kawan”…
tak peduli kawan atau lawan,,toh semua kita ini sama pada hakikatnya manusia yang hidup dalam lumpur dosa atau hidup dalam kemewahan meneguk piala berisi air suci dari surga…
mengepal jemari untuk meluluhlantahkan istana yang terbangun sekian lama dengan tekun, keringat dan darah,,,peluh dan tangis,,,hampa dan iba…
sekejap saja hancur oleh ego kaum yang merasa benar…
yakin pada yang kubaca tentu terlalu naïf,,, yakin pada yang kulihat tapi ternyata hanya sekilas,,,
toh biasanya yang menang itu benar dan yang kalah itu salah…
nah sekarang kita putar balikkan,,kalian yang memilih ini benar atau salah…
karena hidup dan perjuangan itu bukan kerja bakti bung !!! …
apakah setuju kalau yang kalah belum tentu salah,,,
apakah setuju kalau yang menang belum tentu benar…
sebenarnya saya ini berusaha menjauhi agama dari konteks ini,karena rasanya saya yang “aku” ini tidak begitu paham,,
hanya saja saya lebih suka berfilsafat tentang hal yang mungkin menjadi kemakluman bagi sebagian orang…
oke,,,
masalahnya disini adalah benar atau salah itu relative,,,
tapi kita juga harus memiliki sebuah patokan yang tidak mudah dicabut…
tapi Bukan berarti pembenaran kita adalah kebenaran yang hakiki,,,
sekarang kembali menjadi bingung,,,
antara keberanian dan kebodohan itu beda tipis Bukan??
Saya tidak pernah setuju jika kekerasan dibalas dengan kekerasan,,,
Tapi ada teman saya yang bilang jika kekerasan kadang merupakan jalan terbaik ketika semua kemungkinan variasi diplomasi secara damai telah habis…
Tanpa merujuk pada kaum tertentu,,,saya hanya menunjukkan inilah kita,,manusia yang sesungguhnya…
Yang terkadang hidup diatas penderitaan orang lain…
Jangan katakan kalau aku ini orang pesimis,,, Saya hanya netral saja,,,tapi Bukan berarti tidak punya sikap…
Hanya saja saya ini pengecualian dari benar atau salah,,,
kalah atau menang tanpa mempertentangkan setan dan malaikat,,,
tapi saya Bukan tuhan…
Banyak dari kita yang terpenjara oleh jaman,,
kemajuan yang diutamakan adalah persamaan ideal dari persepsi atas suatu hal…
tidak ada yang mau ketinggalan sedikit saja tentang informasi yang menggerayangi akal sehat dengan kamuflase para kaum munafik yang bersembunyi balik layar kaca…
betapa naïf diri ini merindukan kemerdekaan atas jiwaku sendiri,,,
ketika aku dan mungkin juga kita terjebak dalam dilemma antara kesempatan dan dorongan atas materi duniawi…
aku tak perlukan doktrin dari manapun,,,Bukan seperti rekayasa anal alien oleh para skizofrenia…
saat kita merasa waras bisa jadi sebenarnya kita gila dan menjadi tidak nyata…
mengapa??karena perlu juga kita ketahui bahwasanya manusia tidak ada yang sempurna…
tapi sebelum kita mempertentangkan antara hitam dan putih,,atas dan bawah,,,kepala dan kaki,,,
sudah selayaknya kita harus mempunyai suatu keyakinan kuat terhadap hal yang akan benar-benar kita percaya…
sisifus mungkin memang yakin membawa batu keatas bukit,,,
namun kemudian batu itu menggelinding kembali kelembah…
lalu bagaimana kita mengakhiri hidup dan ujung nalar dengan filsafat murni dari dalam diri…
bagaimana kita bisa berakhir tanpa topeng dan mengakhiri hidup tanpa sia-sia…
temukan jalan kita masing-masing,,,
ya sebuah titik keruh diotakku mendominasi diri ini seperti pion dalam drama permainan monopoli…
aku mencoba melepaskan nalar dari religi karena pasti jika tercampur aku kelak akan hancur…
apakah baik menjadi pasif???
Tidak. Kelopak matahati dalam jiwaku masih enggan tertidur,,,
aku amat menikmati setiap jengkal dan setiap langkah kaki menapaki indahnya dunia…
Menikmati aurora dari dalam mimpi,,,mengecap keadilan sebagai suatu yang absurd,,,
Hukum yang serba abu-abu,,,kehancuran yang berwarna hitam…dan perjuangan yang berwarna merah…
Lalu warna apa lagi yang akan kita berikan pada arti hidup sepenuhnya???
Aku hanya di pejalan kaki yang masih menapaki jalur hampa,,,
mengisi kekosongan dengan riuh dalam kepala yang kelak mengajari aku menjadi seperti ini…
Aku adalah bayanganku,,,dan bayanganku adalah milikku,,,
Tak akan ada yang bisa membunuh sebuah kesesatan tanpa control ini,,,
Kesesatan yang kuanggap benar,,,benar yang kuanggap sesat dan salah yang kuanggap nyata…
Realitas yang selalu terhempas,,,rata dengan tanah,,,menjadi api arogansi manusia yang bersembunyi balik kesucian dan atas nama kebenarannya sendiri…
Aku tak ingin menyulut api,,,tapi tidak juga aku mau padamkan api yang membara…
Selalu ada kambing hitam yang terseret dan ini sangat mudah diprediksi,,,
Realitas adalah gerilyawan yang baru bisa tertawa setelah akhir cerita berujung dengan tersungkurnya si setan yang menurutnya patut dibasmi…
Realitas hanya menjadi pembenaran atas suatu kaum yang tidak akan berujung pangkal dengan masalah yang usai…
Konflik adalah pasti,,,seperti manusia yang pasti akan mati…
Aku lelah dengan pola yang ada dalam perkotaan,,,
dialektika menjadi parody dan wacana yang tak pasti kala sebagian dari kami menatap dunia dengan sebelah mata…
menari dengan tawa palsu dan kehampaan yang sebenarnya merajai dunia…
kita semua,,ya,,mungkin semua terjebak dalam hidup yang rumit…
masalah sebenarnya hanyalah seperti gumpalan buih sabun yang hanya muncul sekejap lalu pergi…
perjalanan kini semakin panas,dan aku si pejalan kaki merasakan lagi ampas neraka di trotoar dan sudut sempit kota yang kumuh…
menemukan diri terjebak dalam kubangan pasir hidup zaman dan menanti dunia untuk berubah…
haha,,betapa naifnya diriku ini…
tentu saja kita terus akan menikmati tekanan hidup yang semakin ganas,,,
bagai tumor yang menggerogoti jiwa-jiwa yang rentan dalam emosinya sendiri…
berharap untuk hidup bebas,,tapi ternyata malah mengecap manis pahitnya derita saat berjuang…
ada baiknya jika dalam hidup kita melihat sesuatu dari segala sisi,,sebelum meyakini apa yang akan kita percaya…
bahkan kalimat ini mungkin hanya teori dari sebuah alam yang tak pasti…
yang kutahu,,hidup Bukan hanya untuk sekedar bernafas…
indah alunan musik menemani gemerlap mendung sore ini…
menyematkan pikiranku sejenak dan mengirup nafas segar disertai pantulan diri dalam kamar…
bayangan yang setia menemaniku membuat diri ini percaya setiap manusia pasti memiliki sisi lain…
coba kau katakan padaku bagaimana cara menilai benar atau salah,,,
karena tidak ada benar atau salah,,,
yang ada hanya realita…
maka bisa kukatakan tak ada seorang manusia pun yang bisa menjadi sempurna dan realistis,, jika kalian tidak bisa menerima kontroversi dan persilangan perbedaan yang ada…
otakku lebih rumit dari rumus-rumus matematika,,,
mencoba membebaskan jiwa dan pikiran agar lebih jernih,,,
sebuah paradigma absurd yang kuhasilkan dari berpikir yang tanpa arah namun selalu mengarah pada suatu ujung pangkal suatu masalah,,,
terkadang aku bisa menjadi seorang anti social dan terkadang aku menikmati kehidupan dalam masyarakat…
jiwa ini bagai dua sisi mata uang dalam sebuah koin,,, atau bisa juga dikatakan bagai pedang,,,di satu sisi jiwaku menjadi tajam,,,
di sisi lain jiwaku menjadi pegangan bagi sang pencipta…
mengokang amarahku menjadi buih pikiran yang kelak akan hilang saat sukmaku terbang menikmati arti kebebasan yang sebenarnya…
tak perlu plato atau siapapun untuk mendoktrin otak ini,,,
karena hanya ada diri ini yang menari dalam setiap angan dan pikiran…
maka biarkan aku menyelami filosofi liar yang terlahir dari akar pikiranku sendiri…
Sore itu langit begitu cerah, senja di utara sama cantiknya dengan mimpi yang tersematkan…
16\2/2008
Air mataku menitik kala jiwa coba menarik setitik helai benang merah,,,
dari sebuah tali simpul kenyataan yang usang dan terbuang…
terpendam dalam rejam yang terbungkam,,,oh,,,
betapa indahnya menggores sisa waktu yang berkarat…
dan aku terbenam dalam kubangan pasir hidup…
zaman dan rekayasa jiwa…rotasi membunuh tradisi…
kala parody asterix dan obelix tak lagi memberi arti perlawanan…
jika aku adalah sejarah maka kalian adalah pecundang…
karena ku kreator dan kalian plagiator esensi yang kuberi lewat siratan takdir yang kulalui bersama seteguk angan dan persepsi,,,coba tunjukkan lagi apa arti dari sejuta makna…
aku bersatu dengan galaksi,,,menyaksikan pergulatan manusia yang berlomba menjadi rabi…
tinggalkan sejenak mimpi dan berpijak kembali kedasar bumi yang kasar…
sesungguhnya roh ku telah berjanji pada penguasa semesta demi kewarasan dan kepekaan jiwa untuk tetap terjaga dalam lelap dan mimpiku…
perseteruan antara naluri dan realita akan terus menjadi tanya dan mencari kesempurnaan akan arti kehidupan yang sebenarnya…
tak ada yang bisa menjanjikan benar atau salah kecuali Bintang diangkasa…
manusia pada kodratnya hanyalah setitik kecil dari bagian semesta…
pikiran membuat kita lebih berharga,,,
tapi bukankah lebih baik jika kita terus berkaca pada alam raya,,,
kesombonganku adalah kepekaanku terhadap dunia,,,
pengaruh yang menjejali otakku agar bernalar dan membuat ragaku lebih dari sekedar hidup,,
tapi juga sadar pada tanggung jawab menuju tahap pencarian jati diri yang sebenarnya telah menjadi sahabat,,,selepas malam ini mungkin akan banyak lagi yang terjadi dalam setiap nafas…
derap langkah terus menyusuri trotoar bersama kawan lama yang sama-sama mencintai militansi pelita harapan dan obor peperangan terhapus dengan cinta yang kami miliki…
ketulusan mengajarkan banyak hal kepada kita untuk memandang sesuatu dari segala sisi…
tak ada yang lebih suci dari pikiran yang benar-benar jernih layaknya tetesan pertama dari mata air…
tak ada yang lebih tulus dari setetes embun dipagi hari,,
walau sekejap namun hasratnya telah memberikan kesejukan bagi jiwa-jiwa yang rindu akan nyanyian alam yang murni,,,tak lagi hijau…
hanya beton-beton dan tiang pancang yang kini bersemi dan mencakar langit-langit,,,kuda-kuda besi berlari dan terus berpacu di arena tanpa konvensi yang pasti,,,
kesejukan yang dihadirkan oleh emisi mempercantik nusantara dengan nuansa kepengapan yang luar biasa,,,tradisi semakin teriris menjadi bentuk-bentuk baru,,,
pandangan maju telah menelanjangi budaya dan jati diri bangsa yang semakin bias,,,
budaya instant menancapkan taring dan menyebar bisanya melalui hiburan dan pembodohan dalam media…
betapa nikmatnya santapan yang melebihi porsi ketika sebagian dari kita memeras darahnya untuk menjadi nasi dan seteguk sirup…
pada saatnya nanti tak akan ada lagi yang mampu berharap pada apapun ketika kita semua saling memburu dan saling menerkam,,,maka bunuhlah harimau yang ada dalam setiap diri kita,,,
matikanlah buaya dan bunglon yang bersemayam dalam wajah dan jiwa kita…
tikamlah setiap mereka yang hanya berorientasi pada kepuasannya,,
karena sesungguhnya kita hidup berdampingan dan harus saling menjaga…
apakah anak cucuku akan menikmati hijau taman dan warna-warni bunga kala bersemi??
atau mereka hanya akan menikmati jendela dunia dan pohon-pohon beton???
aku mencoba melepas stigma apatis dalam diri,,,
tapi percuma pula aku peduli jika kau,,kalian,,dan mereka masih tidak peduli…
semestinya aku,kau,,kalian dan mereka menjadi satu membangun dunia untuk masa depan yang lebih bercahaya dan lebih hijau…
pandanganku mungkin masih terlalu sempit,,,namun inilah apa adanya…
kotak memoryku masih akan tetap menyimpan dengan rapat setiap apa yang telah kualami dan kujalani…
semoga pada saatnya nanti kita akan bernyanyi bersama di alam yang abadi…
Aturan yang takkan kau temukan,,,
coba kau berhenti berpijar dan menyelam kedasar perut bumi yang kasar…
menyusuri gerilya kaum yang hanya bisa bersembunyi…
namun saat kami tampakkan diri,,tak ada yang mampu untuk pahami dalam esensi…
aku tak ingin membuat dunia menjadi serupa,,,menyanyikan kisah yang sama…
ya walau memang kita bernafas di ruang yang sama…
tetap saja kau adalah dirimu yang bertingkah laku dan terikat pada budaya yang kau gunakan…
membangun bersama kepercayaan,,, akan kah keniscayaan menjadi cahaya…
atau biarlah lidahmu menjadi palu untuk jiwaku…
dan biarlah kebahagiaan menangis bersama bocah yang kelaparan…
biarlah kehampaan menghampiri mereka yang terlena dalam dunia…
aku rela berdoa agar kecewa menghampiri relung kalbu mereka yang tak peduli lagi…
kita harus berpikir lebih cepat dari gelombang pasang…
lebih maju dari mereka yang masih bermain siku…
tak perlu uang jika kau hanya ingin bertanya…
tak perlu uang jika kau hanya ingin terlepas,,,
tak perlu uang jika kau hanya ingin terkenal…
tak perlu uang jika kau hanya menjadi sampah…
tak perlu uang jika kau hanya melihat dan terdiam saat terbujur kaku dalam satu Posisi mati…
semua hanya bentukan realitas yang kaku,,,
kau dan mungkin juga aku memang primitif, dan silakan kau buang percuma hidup yang hanya sekali…
aku tak mencari lebih banyak bentuk,,,tapi aku mencari lebaih banyak arti dan paham akan esensi…
arti dari abstraksi yang hancur ditengah kreasi,,,
dengan sebuah pola sederhana dan mimpi yang muluk,,,
berjanji akan memegang teguh janji dari hati,,,
janji yang kuanggap mutlak sebagai bahasa yang sempurna,,,
ungkapan yang sangat mengikat dan sumber dari arti hidup sebenarnya…
