Mungkin sudah “dari sananya” kalau perempuan kodratnya harus menunggu lelaki untuk menyatakan perasaannya. Lalu sebenarnya siapa yang ingin bercinta? Lelaki atau perempuan?
Keseluruhan tulisan ini adalah asumsi saya pribadi dan bukan tidak mungkin ada teori yang pernah saya baca yang juga tersisip didalamnya. Walahualam hehehe… Semoga asumsi ini bisa berkembang menjadi pengetahuan hehehe…
Kamu-kamu ada yang berkoar meneriakkan emansipasi wanita dan feminisme. Dalam konteks ini saya tidak bermaksud mempersempit makna emansipasi dan feminism dalam hal tembak-menembak ala pacaran masa kini hehe…
Satu, karena saya tidak tahu banyak tentang Feminisme dan emansipasi tapi karena saya orang yang gatel dan suka sok tahu jadi tulisan ini ada. Dua, karena saya takut kalau wanita mendominasi dunia nantinya tidak jauh berbeda dengan dunia yang didominasi pria.
Kata kuncinya adalah toleransi. Toh, banyak juga perempuan yang memiliki peran penting di dalam aspek-aspek kehidupan. Walaupun tidak sedikit juga perempuan yang tidak mendapat kesempatan yang sama dengan lelaki dalam ruang-ruang tertentu.
Lalu siapa yang ingin bercinta?
Apa yang lelaki lihat dari wanita? Dalam dunia yang kompleks ini, persepsi tentunya dipengaruhi oleh factor rujukan yang tidak bisa lepas dalam kehidupan sehari-hari. Misal dari imaji yang dimunculkan dalam iklan shampoo dan sabun, sinetron, film, SPG otomotif, caddy golf, dan lain-lain. Walaupun masih banyak factor yang juga mempengaruhi.
Banyak eksploitasi pada tubuh wanita, hingga menurut saya pribadi, “kecantikan” seorang wanita mengacu pada imej yang disajikan salah satunya melalui media massa. Gejala yang saya sebut sebagai era over-artifaktual. Dimana seseorang menilai dan mempersepsi suatu objek yang dilihatnya hanya berdasarkan atribut yang dikenakan oleh seseorang tersebut yang mengandung nilai lebih yang minim makna.
Apa ini juga masuk dalam kajian postmodernisme? Saya tidak tahu, karena saya belum banyak mencari tahu tentang posmodernisme, tapi mungkin sudah banyak saya rasakan akibatnya hahaha…
Beberapa bulan yang lalu, saya dapat THR lebaran idul fitri, saya belikan buku. Saya tertarik pada buku Barbie Culture (yang sebenarnya baru saya baca sekilas hingga hari ini hehehe) yang mengangkat fenomena boneka Barbie sebagai salah satu media untuk mengkonstruksikan konsumerisme, multi-etnisitas dan lain sebagainya.
Tubuh wanita menjadi objek yang sangat luar biasa. Lelaki normal mana yang menolak melihat payudara, bokong indah, hingga impian vagina yang rekat seperti pseudo-reality yang ada dalam film-film porno. Atau ini hanya pikiran saya saja?
Haha… Saya sungguh menyayangkan wanita hanya menjadi sekedar objek. Mungkin karena dari situlah muncul gerakan feminisme dan emansipasi wanita. Keistimewaan yang mereka miliki itulah mungkin yang membuat wanita menjadi objek yang menawan. Meskipun saya tidak bisa mendefinisikan keistimewaan apa yang saya maksud.
Wanita akan menjadi ibu. Menawan dan anggun. Ibu saya adalah wanita yang sempurna bagi saya. Segala keterbatasannya membuat saya sangat mencintainya. Sebisa mungkin saya menjaga ucapan saya dari kata-kata kotor, karena mulut yang saya pakai untuk bicara ini adalah mulut yang sama yang saya gunakan untuk mencium kening dan tangannya sebelum saya pamit pergi keluar rumah.
Saya tidak bisa membayangkan saya pernah hidup dalam rahim seorang ibu. Maka saya menghargai setiap wanita dalam hidup saya karena kelak mereka akan menjadi ibu bagi orang-orang seperti saya, manusia.
Lalu siapa yang hendak bercinta? Lelaki atau perempuan? Atau keduanya? Apakah memang dikotomi pria dan wanita dibutuhkan? Ataukah hanya akan ada satu kata untuk mendefinisikan ini semua? Ya, MANUSIA.
Lalu apa yang perempuan lihat dari laki-laki? Saya tidak tahu. Hanya saja yang pernah sekali saya rasakan. Lelaki itu haruslah orang yang mapan dan bisa memuaskan kebutuhannya. Meskipun tidak semua wanita begitu.
Tapi lagi-lagi semua ini adalah akibat gejala over-artifaktual yang tadi telah saya jelaskan. Simbol-simbol yang mengurung pikiran manusia dalam frame-frame atribut yang menjadi luar biasa berharga. Cobalah sehari saja kamu menjadi seorang nihilis, maka kamu akan tahu apakah atribut merk dan rujukan persepsi yang kamu miliki itu benar-benar punya makna yang jelas atau tidak? Sekali saja kamu mencoba, niscaya kamu akan tahu kalau atribut-atribut yang kamu kenakan itu sama berharganya seperti seonggok kerikil di trotoar saja.
Tapi terserah kamu mau memilih hidup yang seperti apa. Tidak apa-apa kalau kamu mengatakan saya ini Sisifus yang terdampar diabad baru.
Betapa bahagianya anak cucu kita nanti yah!!!
(02.30 - 03.21)
Sebenarnya saya bukan pemuja waktu. Waktu dalam pengertian detik, menit, jam, hari, bulan, tahun. Lupakan tentang itu. Waktu adalah waktu. Dia bukanlah apa-apa. Waktu saat ini adalah simbol dari entitas hedonis, euphoria, dan candu dynosian yang terjebak dalam hegemoni momentum yang terasa demikian dahsyat.
Namun. Seperti sering saya sebutkan kalau saya hanya percaya pada adanya siang dan malam. Udara merayap dalam paru-paru memompa jantung memaksa otak memeras syaraf-syaraf untuk bergegas.Hari ini bukanlah hari ini. Besok bukanlah besok. Seperti hampa bukanlah kosong, tapi tiada.
Kami yang terus membakar kepalan dalam utopi dan perayaan mimpi dalam hati tetap setia mengawasi putaran laknat ini berdentum menggila.
Jika Gibran berkata: "Kemarin adalah pengalaman, hari ini adalah hadiah, dan esok adalah harapan". Setiap malam berganti siang saya serentak menyambut hadiah yang datang dengan gratis.
Nietszche berteriak, "Suaraku bukan suara untuk telinga-telinga kalian" dan "esok adalah milikku". Masa depan. Saya yang menolak keseharian masih saja mendendangkan masa depan dan masih menggantungkan harapan.
Ya Gibran mungkin benar.
Nietszche juga tepat.
Bulu kudukku berdiri sesaat setelah melihat peluh mengalir deras diantara moralitas yang bertarung dengan watak idiot sebagian manusia yang enggan mengagungkan jiwanya.
Mereka yang bersujud pada kolase logika dan penggandaan epos tua bangka dan pelacur yang damai bersemayam di tengah rayap-rayap yang ramai-ramai menyelimuti kegelisahan dan watak urakan.
Kalian para kawan yang kumuliakan seperti teriakan mimbar pasca kamis malam, kalian yang menjadikanku memiliki sepenggal makna dalam kisah cinta dan kebencian kita.
Demi hewan-hewan berpikir yang sangat rasional dalam tempurung material. Dengan segenap kelopak mata yang menganga dalam penat, energi ini aku sembahkan kepada setiap kerontokan makna dalam prasangka bisu.
Senyum apa yang telah kita lempar pada tahun ini?
Untuk apa air mata kita menetes dalam kurun interval awal dan akhir bagian sejarah peradaban ini.
Maaf, aku lupa.Kita bukan bagian dari sejarah. Kita yang terbuang dalam pengasingan. Mencoba memberi cubitan ringan dan kecup mesra pada cleopatra dan medusa.
Selamat membuat resolusi.Selamat menanti harapanmu terwujud. Hari ini adalah hadiah milik kita, raih, rebut, jamah dah perkosa hingga hasratmu terpuaskan.
Cheers untuk setiap tegukan racun tikus, dan lopatan keputusasaan sahabat kita yang telah menjadi nisan di atas kakus berkelambu menyan!
Sumbu telah terbakar. Kita saksikan nanti bagaimana kembang api itu berpijar!
Minggu 27 Desember 2009. (19.41 – 23.38)
“Kerena setiap lembarnya mengalir berjuta cahaya. Karena setiap aksara membuka jendela dunia”. (Efek Rumah Kaca – Jangan Bakar Buku.mp3)
Hmm… saya tidak punya cukup kata untuk menjadi kalimat pembuka. Tahun ini memang sangat luar biasa. Banyak berita-berita dan informasi-informasi yang masuk kedalam otak saya dan juga mungkin teman-teman di sisi computer sebelah sana.
Karena rasanya alienasi ini sangatlah menyenangkan sekaligus menyebalkan. Saya hanya jadi penonton dalam realita maupun dunia virtual. Shit! Ya. Saya pasrah saja. Karena diri ini sudah terbuang jauh dari kenyataan, entah kenyataan yang mana?
Negara memang menyebalkan. Saya dan kalian tidak punya pilihan selain menjadi warga Negara. Saat terlahir kita masih polos dan lugu. Kita lahir telanjang. Kemudian orang tua kita memberikan atribut di tubuh untuk kita kenakan. Disitu mulai dibedakan kamu pria atau wanita. Agama? Pasrah saja. Kita mau tidak mau harus mengikuti kepercayaan orang tua kita. Di kota apa kita tinggal? Ras apa diri kita ini? Suku apa diri kita ini? Warga Negara mana kita ini?
Kita lahir telanjang. Ya, kemudian dunia menyambut dengan segala kemewahan dan kemegahan di iringi aroma kamboja di atas nisan bernama kewarasan. Haha. Negara itu menyebalkan. Untuk menjadi warga negaranya saja banyak aturan. Kita (mungkin kamu tidak merasa) bahkan baru diakui menjadi warga Negara bila genap berusia 17 tahun. Kamu akan dapat KTP dan hak kamu sebagai warga Negara akan diakui. Okelah kalau begitu.
Tapi manusia tidak bodoh, pikiran selalu berkembang. Resapi ideology yang kamu yakini, hingga akhirnya kamu temukan dan yakini apa yang busuk dalam dunia ini!
Salah satu hak yang dimiliki warga Negara sesuai pasal 28 UUD 45 tentang Hak Asasi manusia terutama pada pasal 28F adalah Pasal 28F, Setiap orang berhak untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi untuk mengembangkan pribadi dan lingkungan sosialnya, serta berhak untuk mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi dengan menggunakan segala jenis saluran yang tersedia. **) (http://map-bms.wikipedia.org/wiki/UUD_45)
Sebenarnya bisa saja saya bersikap masa bodoh. Tadi masa saya cukup bodoh untuk diam saja, setidaknya saya merasa tulisan ini ada gunanya. (MUNGKIN).
Coba lihat kasus Prita Mulyasari vs RS Omni Internasional yang sangat kontroversial akibat email yang dituding mencemarkan nama baik RS tersebut dan Luna Maya yang baru saja terjerat kasus dengan wartawan akibat kata-katanya yang menyindir wartawan di akun twitternya. Semua terjerat UU ITE. Bertabrakan dengan dualism hukum yang belum saya pahami betul sampai saat ini.
Yang luar biasa saat ini adalah fenomena Koin Cinta Untuk Prita. Sebuah aksi solidaritas yang sangat luar biasa menurut saya selain Pemilu presiden. Bedanya Prita hanya Warga Negara biasa. Sedangkan aksi memilih presiden di mobilisasi oleh partai dan lain-lain.
Solidaritas melalui Koin Cinta Untuk Prita menurut saya merupakan sebuah gerakan untuk mendobrak hegemoni hukum yang luar biasa carut marut di negeri ini. Saya tidak membicarakan keadilan, karena bagi sebagian orang keadilan adalah wacana urakan era pithecanthropus erectus.
Penggalangan dana itu muncul akibat adanya tuntutan perdata lebih dari 200 juta rupiah. Kemudian masyarakat dari berbagai penjuru negeri ini merespon dengan ramai-ramai mengumpulkan koin. Yang kalau di timbang seberat 6 ton. Luar biasa bukan.
Menurut seorang sosiolog yang saya lupa namanya (ubanan gitu, siapa yah?? Anjis poho pisan euy hampura!!) koin merupakan symbol dengan dua sisi yang berlawanan. Yang satu menunjukan nominal sedangkan yang satu menggambarkan ideology bangsa yang sampai saat ini belum tercapai.
Saya tertarik dengan fenomena Koin ini. Apakah termasuk Aksi Massa Atau Anti Massa? Sebenarnya saya ragu apakah ini berkaitan dengan konteks aksi massa dan juga pampflet anti massa. Tapi sudah kepalang haha.
Tan Malaka dalam buku Aksi Massa menyebutkan, “Aksi-massa tidak mengenal fantasi kosong seorang tukang putch atau seorang anarkis atau tindakan berani dari seorang pahlawan. Aksi-massa berasal dari orang banyak untuk memenuhi kehendak ekonomi dan politik mereka.” Ini merupakan aksi yang terjadi abibat dari tumbulnya pertentangan kelas dalam factor: ekonomi, social, politik dan psikologis. Semakin besar kekayaan pada satu pihak semakin beratlah kesengsaraan dan perbudakan dilain pihak.
Jika dikaitkan, mungkin penggalangan koin itu merupakan bentuk perlawanan rakyat yang frustrasi melihat carut-marutnya hukum di Indonesia dan juga akibat adanya rasa simpati yang begitu besar pada Prita Mulyasari. Semakin seseorang berkuasa, semakin dekat dengan tiran. Mungkin.
Sedangkan dalam pengantar Pamflet Anti-Massa oleh penerbit Katharsis, “…, maka metode Anti-Massa ini lahir dari kesadaran politis yang mengutamakan efektivitas kerja daripada menggelembungkan jumlah massa.” Kesadaran politis tanpa hirarki, tapi saya ragu kalau semua penyumbang memiliki kesadaran politis.
Terlepas dari itu, saya melihat besarnya respon masyarakat terhadap kasus ini. Berarti ada sesuatu yang harus di waspadai pemerintah selain bahaya laten PKI, yaitu aksi massa yang lebih besar jika permasalahan yang seperti bola salju semakin besar dan membesar tanpa terselesaikan.
Soekanto mengatakan, “Kekuasaan mempunyai peranan yang dapat menentukan nasib berjuta-juta manusia.” Tetapi baik dan buruknya harus dilihat dari seberapa jauh kekuasaan berdampak dalam suatu kehidupan dalam masyarakat. Masih ada diantara kita yang menganut Xenophobia, hingga tak jarang menjadi fasis dan fundamentalis.
Pertanyaannya. Apakah kekuasaan yang telah diberikan oleh para pemilih kepada pemimpin-pemimpin negeri ini dapat mewakili suara rakyat?
Jangan katakan suara tuhan, suara rakyat. Karena banyak rakyat yang masih bingung dengan tuhan bahkan meragukannya.
Yang sekarang menjadi hot news adalah buku yang dikeluarkan oleh George Junus Aditjondro berjudul Membongkar Gurita Cikeas. Belum-belum grand launching dilakukan , presiden kita langsung bereaksi, seperti yang saya baca dan dengar di media massa bahwa beliau prihatin dengan terbitnya buku tersebut. Terlepas dari isinya yang kalau dilihat akan banyak menyinggung dan menguak informasi tentang SBY, partai yang mendukungnya, dan simpatisan lainnya, (walaupun saya belum baca) buku ini merupakan usaha untuk membongkar skandal yang terkait pemerintah. Belum apa-apa telah diberitakan kalau buku ini harus di tarik dari pasaran, dan ada isu pembelian besar-besaran oleh oknum yang juga melakukan terror terhadap Aditjondro. Entahlah, bahkan media massa kadang sering membuat bingung.
Fakta adalah apa yang kita temukan. Bukan dari desas-desus, tapi karena memang kita hidup dalam bangsa penggosip jadi wajar saja kalau banyak hal yang belum terbukti kesahihannya menjadi sesuatu yang diyakini.
Atau mungkin kita semua harus belajar dari para nihilis. Kita tinggalkan semua atribut. Kita telanjangi diri-diri kita seperti saat kita baru terlahir. Kita buat sendiri kekuatan sesuai kemampuan kita tanpa harus terdaftar. Hingga kesetaraan menjadi wacana using. Hingga semua bisa tersenyum, berdansa dan saling mengecup mesra. AMOR FATI.
Kita lihat saja perkembangannya. Walaupun sebenarnya saya tidak terlalu peduli.
Semoga tulisan saya ini tidak berdampak apapun dan tidak terjerat hukum apapun.
Cuplikan terjemahan jawaban dalam wawancara Albert Camus “The Wager of Our Generation”, atau “Taruhan Generasi Kita”.
--Ya, ada matahari dan kemiskinan di dunia saya. Dan olah raga yang darinya saya belajar segalanya tentang etika. Kemudian perang dan perjuangan. Dan akibatnya, godaan untuk bersikap membenci. Menyaksikan teman dan kenalan terbunuh bukanlah pelajaran untuk mencintai orang lain. Godaan untuk membenci harus diatasi. Dan saya berhasil. Ini pengalaman yang harus diperhitungkan.---
Referensi:
1. Anti-Massa
2. Aksi Massa (Tan Malaka)
3. La Politica (Aristoteles)
4. Krisis Kebebasan (Albert Camus)
5. (http://map-bms.wikipedia.org/wiki/UUD_45)
6. Sosiologi (Soerjono Soekanto).
Skak Mat, Bung!!! Pematahan Usaha Pematahan “Keyakinan”
dan yang Saya Yakini. 5-0
Sial. Pagi ini saya kembali meradang. Bahkan lebih parah dari sebelumnya.
Fasis tetaplah fasis, dan saya masih kurang paham apa itu fasis walaupun sudah baca buku Paul Wilkinson “New fascist” yang lama dipinjam teman saya dan belum kembali. Dari hasil debat kusir -selama sekitar satu setengah jam- dengan teman saya yang mengaku telah mematahkan keyakinan saya dengan segala macam hal yang dia anggap “benar”, justru logika yang saya tawarkan telah lebih jauh meninggalkan apa yang dia yakini dan kalau dia masih waras, mungkin dia akan sadar kalau keyakinannya itu telah saya patahkan dan saya buat hancur lebur.
Kali ini saya mencoba mengembalikan dan bermain dengan “keislaman” saya, mungkin menuju sufi. Entahlah, saya ini masih bodoh dan masih harus disebut bodoh agar saya termotivasi untuk mencari lebih banyak ilmu. Tapi teman saya sangat –amit-amit- lebih bodoh lagi. Aargh!!!
Akan saya sampaikan secara singkat saja, karena terlalu mulia rasanya saya menuliskan tentang debat kusir ini.
Mencoba memaknai Adam dan Hawa saja, maka itu merupakan pijakan pertama sebelum berkata manusia bergolong-golong. Manusia ini kan punya otak, dalam otak ada akal bukan?? Lalu apa gunanya akal kalau tidak dipakai??
Dulu adam tinggal di suatu tempat yang luar biasa sempurna dan terlengkapi segala macam kebutuhan, tapi ada satu hal yang dilarang di sentuh, yaitu buah kuldi. Muncul hawa sebagai representasi nafsu dan gairah dan kuriositas/keingintahuan yang meminta adam mengambilkan buah “terlarang” tersebut. Tuhan murka. Maka adam diturunkan ke bumi beserta hawa.
Bumi ini jelas adalah neraka, sebuah azab, hukuman bagi hambanya yang melanggar perintahnya. Tapi perilaku ini sekaligus merupakan sebuah aksi revolusioner pertama sejak keberadaan umat manusia. Yang bahkan sangat sederhana, “Adam memetik buah”.
Apakah mereka menikah? Siapa penghulunya? Tentu pertanyaan saya ini terkesan sangat bodoh bagi orang yang tertutup pemikirannya. Tetapi makna yang kita dapat dari perilaku adam adalah sebuah hal yang telah membedakan kita dengan binatang, yaitu akal dan pikiran.
Dalam segala kemewahan (sebut saja surga) dan apapun tersedia, sudah jelas tidak akan ada motivasi untuk melakukan apapun. Seperti pemberian nilai lebih atau komoditas mistis atas suatu merek dalam masyarakat sekarang. Maka otak menjadi sangat mubazir.
Kemudian. Di bumi mereka beranak pinak, saya masih kurang paham bagaimana bisa muncul ras kulit putih, melayu, tionghoa, negro dan lain-lain. Dari hal ini saja sudah jelas jika manusia akan muncul bergolong-golong. Lalu apa masalahnya?? Lalu dia bilang kalau dia tidak mau mengikuti orang kebanyakan, toh padahal dia juga telah mengikuti jalan orang kebanyakan dalam “kaum”nya. Dia melanjutkan bahwa siapa bilang adam itu manusia pertama? Saya juga tidak tahu. Dan lucunya, dia juga tidak tahu.
Seperti bertanya lebih mana telur atau ayam? Kemudian muncul teori evolusi Darwin di kepala saya. Apa memang dulu nenek moyang kita sebangsa monyet? Bahkan monyet masih lebih pintar dalam menjalani hidupnya.
Dalam fase hanya ada adam dan hawa saja, norma belum terbentuk, struktur masyarakat belum terbentuk, agamapun (mungkin belum ada, karena katanya Rasullulah membawa penerang dengan quran sebagai cahaya). Saya tekankan padanya bahwa saya tidak ragu satu apapun pada Al’Quran. Tetapi masalah muncul pada saat pemaknaan. Lagi-lagi itu gunanya akal bung!! Toh, anda juga bergolong-golong.
Teman saya berkata, lo yakin ga jadi penonton atau pelaku dalam dunia? Saya jawab tegas, “saya pelaku!!”. Saya sudah membebaskan diri dari agama, karena keyakinan hanya milik saya saja. Keyakinan anda ya terserah anda. Yahudi juga kan anak cucu adam dan hawa. Lalu apa masalahnya? Hanya persepi. Kalau inginkan perdamaian, maka lakukanlah perang dan pembantaian umat manusia, kemudian bunuh dirimu sendiri. Tapi sayang saya hanya bagian super kecil dari dunia.
Back to the point coy!! Lalu saya bilang, “maaf, buat saya, kamu itu masih bodoh! Seperti orang tingkat S3 mengajar tesis atau disertasi pada anak kelas 1 SD”. Terpaksa saya harus membawa-bawa syeh siti jenar, walaupun serat siti jenar masih butuh kritik dan pertanyaan dari kita (untuk yang sudah membaca). Dalam pandangan siti jenar, kehidupan ini adalah kematian, nanti setelah apa yang orang sebut “mati”, barulah manusia hidup dalam kehidupan abadi. Syariat islam belum terjadi di dunia kematian, tapi di dunia kehidupan nanti, yang orang sebut sebagai kematian.
Dia bertanya lagi, “apa kamu yakin bahwa ajaran siti jenar dan pandangan kamu benar?”. Saya jawab, “saya tidak melegitimasi, tidak berkata pembenaran tentang ajaran yang ada, karena kalau saya sudah berkata “benar”, maka saya sudah tidak lagi berpikir, dan sungguh sangat percuma tuhan menciptakan akal bung!”. Bukankah kita di perintah untuk, “iqro” yang berarti “baca”. Bukankah itu berarti membaca adalah perintah. Berilmu juga berarti merupakan perintah. Kalau tidak berilmu berarti tidak menjalankan perintah. Dosa? Entahlah. Tuhan pun masih merupakan misteri.
Disini dia berkata sangat fatal dan terjadi pembalikan pematahan keyakinan. “semua orang itu tidak mengerti!”. Lalu saya berkata, “kalau semua orang tidak mengerti maka, kamu juga tidak mengerti donk? Lalu untuk apa kita diskusi sekarang? Saya lebih setuju kalau kamu mengubah kalimat tadi dengan –orang jaman sekarang jarang yang mengerti-”. Kalau dia masih memegang teguh kalimat pertamanya, maka orang yang mengajari dia pertama kali tentang “agama” dan “keagamaan” itu pun tidak mengerti, seperti orang pander belajar melihat gajah dari orang buta.
Kesimpulannya kemudian dia berkata, “Kalau saya lanjutkan, saya takut mematahkan keyakinan anda!”. Saya menjawab lagi, “justru terbalik kawan, saya yang mematahkan keyakinan anda!”. Sayang kemudian telepon terputus, dan sayangnya juga pulsa saya habis, jadi tidak bisa lagi sms seorang gadis yang sedang beranjak dewasa yang marah karena smsnya tidak saya balas. Dan parahnya lagi dia sudah punya kekasih hati hahaha…. Sial!!
Dan nyamuk masih bergelut dengan kibasan tangan saya. Sayangnya saya bukan penggebuk nyamuk, dan bukan pula pemukul lalat-lalat pasar. (sedikit mengutip Nietzsche --kalau boleh hahahaha…)…
NB: Ayo ah curhat… sudah lama ga curhat nih!!! Tag donk kalo pada punya tulisan hehehe… Asu, guguk, anjiing…
Apa ini termasuk subversive? Tabu? Atau apalah namanya?
Yang saya yakin, tuhan itu tidak bodoh. Dan dia sangat suka untuk bergurau. Jika tidak, mana mungkin percakapan seperti ini terjadi.
Maaf, tanpa bermaksud menyinggung hal-hal SARA. Tapi ini butuh perenungan kawan!!!
Sebuah Kehidupan Nyata: Membongkar kerangka moralitas, kebinatangan dan kebusukan!!!
Senin 23.22-00.55.
Hingga malam perenungan ini datang, saya telah banyak mengkonsumsi ratusan teks dalam halaman-halaman dari beragam buku-buku, artikel, puisi, prosa, literatus ideologi hingga daftar isi kandungan sebuah produk sabun, odol dan shampoo.
Kita sering berfikir kalau kita ini pintar. Sungguh kita memang sering brsembunyi dan bermain dengan kemunafikan. Bergantian mengenakan topeng yang berbeda setiap hari.
Langit masih di atas kita kawan!! Bumi juga masih kita pijak. Saya ini hanya binatang yang terpuruk di trotoar. Ya, manusia memang binatang. Terkadang manusia menjadi seperti Tumbuhan, karena memang banyak bulu yang tumbuh ditubuh kita, belum lagi pertumbuhan bagian tubuh yang lain akibat hormon.
Sebagian dari kita tumbuh lebih cepat dari yang lainnya.
Teman saya sangat canggung dengan Pembina skripsinya, karena dia memandang kalau sang dosen pembimbingnya itu lebih pintar darinya. Saya katakan padanya, “Semua orang itu pintar. Sama saja. Dia lebih pintar karena dia telah mendapat banyak ilmu daripada kita. Bahkan tanpa sekolahpun kita bisa sepintar dia andai saja kita mau membaca dan menggali, mencari tahu ada apa saja sih di dunia ini”.
Dia merenungkan perkataan saya. Sayapun tak kalah bingung. Darimana kebijaksanaan itu datang? Sedangkan saya tidak pernah berada dalam situasi yang dia hadapi. Ya Itulah manusia. Itulah keajaiban hidup. Akal!!
Kita semua memang sangat bangsat. Manipulatif. Kau juga bangsat kawan, sama seperti saya. Hanya saja mungkin kebangsatan kita berbeda sebab musababnya.
Kebangsatan saya adalah seringnya saya mengganggu hidup orang. Mengajak diskusi tentang sesuatu yang tak pernah mereka pedulikan, bakhkan mengulik masa lalu yang pahit sekalipun saya tega. Hiraukan saja saya. Annoying. Memang sungguh mengganggu. Menyebalkan. Tapi saya senang dan bahagia menjadi si bangsat ini. Karena mungkin dari diskusi itu pikiran saya malah menjadi sederhana. Toh dunia dan kehidupan ternyata berjalan baik-baik saja, tidak serumit dalam kepala saya. Memang akan sangat rumit jika kita terlalu berlebihan merencanakan sesuatu tanpa realisasi. Sebuah representasi jika manusia ini sangat rapuh dan linglung kadangkala.
Ya biarkan saja setiap orang memilih jalan hidupnya. Saya tidak berjalan di lintas kiri maupun kanan. Di tengah juga saya masih ragu, semua terlihat abu-abu. Saya tidak pernah mengklaim diri yang paling sempurna dan paling memiliki kebenaran. Karena kebenaran tunggal yang absolute itu hanya milik sendiri. Dialektika kebenaran dan keadilan tidak akan menemukan titit temu, karena realitas itu subyektif. Kalau kata Hadi di profile Facebooknya, Religion: Deeply Personal. Bravo kawan!!!
Saya tidak ingin ketika mati nanti saya dikenang sebagai orang yang mulia. Karena seperti sudah saya katakan tadi, saya ini hina, kotor, nyaris tidak bermartabat. Nanti juga kalian tahu. Tapi saya tidak hanya membongkar borok sendiri, melainkan (mungkin) borok kalian juga haha… Masih bernyali
Laki-laki. Dajal dan onani. Oral, anal, menjadi alat masturbasi. Siapa yang belum pernah melakukannya? Itu baru dosa besar. Jahanam kalian.
Sebidang kotak hitam menatapku. Saya dan kotak itu saling menajamkan pandangan. Dalam genggaman saya ada sebuah remote untuk mengendalikan mana yang ingin saya lihat. Kami saling menghipnotis. Tapi dayanya lebih kuat dari yang saya punya. Dia memang sumber segala sesuatu. Namun kurang ajarnya, dia tidak memiliki lembar kedua. Hanya selembar narasi yang dia muntahkan dan dia paksakan untuk saya terima dan saya lahap. Mentah-mentah siap atau tidak harus saya lahap. Jahatnya lagi, dia membawa oleh-oleh ratusan pencitraan produk, yang bergentayangan seperti hantu, pada jam tayang utama. Saya jadi rindu sinetron jadul berjudul “Noktah Merah Perkawinan” yang dibintangi Cok Simbara, atau “Tersanjung” yang fenomenal.
Dimanakah hasrat saya? Dia hampir selalu diam dan menangis, terpuruk di ujung lorong ditengah cahaya kegelapan. Kata embah saya Albert Camus, orang yang kuat itu tidak takut untuk meneteskan air mata. Tapi karena sering menangis dan mengeluh saya justru dibilang cengeng. Siapa yang salah? Mana yang benar? Masyarakat memang tidak tahu apa-apa tentan saya. Mereka menjadi hakim dan terkadang menjadi tuhan.
Sungguh kebebalan itu entah berasal darimana sumbunya. Ingin rasanya menjadi arsonist, saya bakar setiap pemukiman, dan setiap orang, kakek-nenek, pria-wanita, anak-balita, bahkan saya bakar juga orang tua saya. Kemudian saya bakar diri saya sendiri. Kalian lebih baik mulai waspada.
Saya disebut kafir, musyrik oleh mereka. Siapa mereka? Jelmaan tuhan? Hah, persetan. Saya adalah hamba bagi diri saya sekaligus tuan (Bukan Tuhan) bagi diri saya sendiri.
Persahabatan dan pertemanan itu selalu berdasarkan kepentingan kata Reza teman satu grup, (mungkin Boy Band) debat dan diskusi saya. Benar juga koq. Lagi-lagi embah saya Albert Camus mengatakan jika kita ini sebenarnya memperbudak teman dan sahabat kita. Kita meraih sesuatu dengan cemerlang dimana teman kita hanya menjadi penonton. Mereka hanya sekedar pemenuh hasrat bagi kita. Misalkan: Ketika saya sedang kesepian, saya selalu mencari teman untuk bercerita tentang apapun dimana saya selalu menjadi Pusat pembicaraan. Ya, mereka hanya pemenuh hasrat. Baru tahu
Dalam melihat kesalahan fatal. Kadang kita bisa memaafkan seseorang atas kesalahannya. Memang benar. Tapi dalam masyarakat kita justru banyak yang mampu memaafkan tapi belum tentu bisa melupakan kesalahan seseorang tersebut. Dendam kesumat? Saya juga sering seperti itu. Tidak baiklah bagi kesehatan mental, dilihat dari sudut pandang psikologis.
Apalagi jika kita bicara tentang cinta. Sebuah omong kosong besar. Narasi kepalsuan. Di masa sekarang arti cinta telah tereduksi menjadi setitik atom, Bukan semakin bermakna, tapi semakin nyaris tak bermakna lagi. Romeo dan Juliet harusnya menjadi cermin, tapi kini menjadi komodita. Kalau kamu cinta pasangan kamu, maka kamu harus mau melakukan apapun, misal: membelikan berlian, perhiasan. Saat ini memang cinta harus penuh modal. Romantisme mati di hajar oleh realisme. Memang dalam masa seperti ini mutlak kita harus melakukan kompromi, namun tanpa menjual jiwa kita. Cinta itu perasaan, tapi dengan eksistensi sebagai manusia, kita butuh makan, Bukan butuh cinta untuk hidup. Ah, entahlah.
Saya
Saya sangat menghargai perempuan. Tapi perempuan hanya wadah eksploitasi hasrat binatang para lelaki saja. Cabul. Ya kita semua cabul. Pasti ada diantara kalian yang menolak untuk mengaku. Haha… coba saja saat kalian menikah dan menikmati malam pertama, atau saat kalian menikmati apa yang disebut sebagai perzinahan dalam konteks agama, atau saat kalian menggerayangi tubuh perempuan-perempuan kalian. Betapa empuknya payudara itu Bukan? Masih ingat perempuan mana yang kalian sentuh pertama kali? Indah rasanya saat pertama kali menemukan puting atau menyusuri bulu-bulu lebat diantara Vagina. Kemudian wanita itu mulai membuka retsleting celana kita, memainkan persneling, menjilat dan bahkan melakukan hal-hal yang ajaib. Kadang mendesah, atau mendapati celana dalam kita basah. Ini Bukan bicara porno, asusila, atau kata-kata tak bermoral. Saya hanya menulis secara lugas, blak-blakkan saja. Tak perlu malu. Toh kita memang biadab hahahaha… Orang tua kita juga melakukannya. Kalau tidak begitu bagaimana mungkin kita terlahir.
Justru moral itu adalah kemunafikan. Wong dibelakang moral itu kita sering berfantasi dalam kepala kita
Hidup ini memang panggung sandiwara. Kita memang lakon yang sungguh sialan mampu menipu banyak orang. Kita selalu menampilkan diri sebagai pribadi yang baik di luar, secara fisik, menggunakan kata-kata yang baik seakan-akan kita ini orang paling beradab dan terpelajar. Dahsyat. Betapa naifnya. Sungguh penipu, pendusta. Laknat!!
Masih jauh lebih mulia seorang maling ayam yang ketahuan mencuri, diarak masa, dihantam hingga babak belur, kemudian disiram minyak tanah dan dibakar hidup-hidup. Pembakar itu yang biadab. Pencuri itu justru orang yang sangat jujur, mengapa dia mencuri? Ya mungkin dia jarang makan daging, dan sehari sebelum pencurian itu terjadi anaknya yang berusia 6 tahun ingin merasakan nikmatnya Mc.D atau KFC tapi si ayah tidak punya uang hingga akhirnya mencuri ayam dan membuat ayam Mc.d/KFC home made. Masyarakat menganggap dirinya beradab ketika mereka membakar maling. Ketotolan yang bermuara pada akal yang tak pernah digunakan.
Untuk membuat kue tart atau brownies, kita tidak perlu menggunakan akal, cukup saja membaca daftar resep dan kemudian menyatukan bahan yang ada. Justru yang memakai akalnya adalah yang pertama kali menciptakan resep itu.
Seperti pelajaran yang kita ambil, mungkin, dari berbagai literature, doktrin hingga ideology yang rumit dan yang hanya bisa memecah belah saja kerjanya. Kita ini plagiat, percaya atau tidak terserah pada kalian. Maka coba gunakan akal!! Persatuan tidak berakar dari keberagaman.
Puas rasanya menertawai diri sendiri. Maaf bila diantara kalian ada yang tersinggung, itu mungkin karena kalian tidak dapat menerima kebinatangan dalam diri kalian sendiri.
Saya sempat tersentil dengan saudara Moko pada notesnya. Ya karena saya tersentil, berarti saya sulit menerima realita yang ada. Kita memang hidup saling tergantung satu sama lainnya. Ya kalau dalam pelajaran sosiologi atau antropologi juga kita telah diajarkan kalau manusia adalah makhluk social. Bersimbiosa, beradaptasi dan kadang juga saling meniru, imitasi. Tidak ada lagi yang asli. Untuk apa berjuang menjadi sesuatu yang asli dan baru jika disekitar kita telah penuh dengan imitasi? Kepuasan jiwa jawabnya? Absurd sekali yang kalian katakan kawan!! Sedangkan kita sering mengidolakan seseorang bahkan tuhan sekalipun. Tak perlu lagi malu menjadi imitasi, toh itu hanya kegiatan meniru, Bukan sesuatu yang palsu. Justru kepalsuan itu jika saya, kalian dan juga mereka merasa sebagai orang yang paling suci di dunia.
Tapi percaya atau tidak, tulisan saya ini asli saya yang membuat. Tapi isinya? Tak perlu dipertanyakan lagi, sebut saja ini hasil saduran atau resensi dari seluruh pengaruh teks yang pernah saya baca seumur hidup saya.
Fase norak sering juga saya alami. Ajaibnya sampai saat ini saya masih norak.
Senang saat mendapat wacana baru, padalah saya masih kurang mengerti apa yang dibicarakan dalam wacana itu. Otak ini hanya berisi sampah masa lalu yang terbawa melalui teks yang sialnya isi, makna dalam teks-teks dari beberapa pengarang “si biang sial” itu masih sangat relevan untuk menjadi perdebatan.
Manusia itu bunglon, kadang menjadi buaya.
Nikmatnya meracau dimalam hari ini.
Tapi bukankah hal-hal yang saya tuliskan bisa kalian dapatkan dalam diri kalian sendiri?
Haha… Silahkan saja jika kalian ingin membalas dan menghantam kebinatangan, kebiadaban, kebangsatan, kedunguan, ketidakberadaban, serta ketiadaan moral dalam diri saya ini. Toh, kita semua memilikinya jauh didalam diri yang muncul dipermukaan social. Bangga juga menjadi seorang skizoprenia. Narcissus mati ditangan orang-orang seperti saya. Mencoba bersahabat dengan Caligula sang maniak. Tapi saya lebih suka menemani Sisifus ke puncak bukit sebelum kemudian ajal menjemput. Mampus saja!!!
Masih berharap menjadi seorang arsonist. Mulai mengumpulkan mesiu, sumbu dan wadah hingga saya rangkai dalam kalimat yang berubah menjadi ranjau.
Sebuah karya meracau yang menakjubkan Bukan? Semoga saja.
Silahkan bantah!!!
Jakarta sore itu terlihat murung. Langit selatan tampak kelabu. Hari ini seakan kembali menghanyutkan jiwaku untuk terbangun dari lelap mimpi indah selama satu bulan belakangan. Di peron Stasiun UI aku menunggu kereta menuju Bogor bersama kedua temanku yang sibuk berdiskusi, sedangkan aku sibuk membuka lembar demi lembar buku “Pengakuan”, bukan suatu kebetulan saat lewat di salah satu toko buku di samping stasiun UI aku menemukan buku kumpulan cerita pendek Anton Chekov seorang cerpenis dari Rusia yang karyanya dinilai fenomenal oleh beberapa orang.
”Tik.. tik... tik...” Perlahan hujan menitik. Gerimis. Di peron menuju Jakarta terlihat sekumpulan mahasiswi menertawakanku, mereka memandang aneh. Tidak ada salahnya bila kita membuang sampah pada tempatnya, walaupun sampah itu kecil dan tempat sampah berada sekitar limabelas langkah saja.
”Jalur satu dari utara akan segera masuk KRL Ekonomi AC tujuan akhir Bogor dengan harga karcis Rp. 5.500, sedangkan KRL Ekonomi Biasa tujuan akhir Bogor berangkat Juanda karena mengalami gangguan.”.
Pengeras suara menyampaikan informasi dari petugas stasiun. Terlihat wajah-wajah kecewa, tetapi ada beberapa yang menukarkan tiketnya dengan tiket Ekonomi AC.
Kereta yang akan ku tumpangi pun datang. Perlahan melaju, melaju dan meninggalkan stasiun, menuju perhentian-perhentian berikutnya. Penumpang naik dan turun, turun dan naik di stasiun berikutnya. Aku memandangi langit dari kaca jendela kereta, ya, kereta ini berjalan sangat cepat, sama cepatnya dengan perkembangan zaman sekarang ini. Aku melihat rumah-rumah berdesakan, banyak lingkungan kumuh di pinggir rel.
”Brak!”
“Astagfirullah”. Nyaris seluruh penumpang di gerbong terperanjat.
Ternyata sebuah lemparan batu mengenai gerbong kereta, kejadian yang lumrah.
”Aku melihatnya. Ya, aku melihatnya.”
Anak-anak itu tertawa bahagia melempari gerbong, kadang dengan batu, tanah dan bahkan temanku pernah tersiram air comberan.
”Tapi sudahlah, lupakan saja!!”, aku bergumam dalam hati.
Lelah rasanya menatap langit yang katanya tak berujung itu. Untuk membunuh penat aku melanjutkan membaca buku, sambil mengingat kejadian kecil di stasiun tadi.
“Haha…” aku tertawa dalam hati.
Pada malam harinya aku memejamkan mata sejenak untuk sekedar mendedikasikan sedikit waktu menulis catatan kecil realitas bagi anak kecil yang tadi sore menyanyikan lagu ceria dengan botol plastic berisi beras sebagai alat musik.
Bersama nyanyian itu dia membagikan amplop kepada beberapa orang di barisan kursi peron yang berisi alasan dia mengamen. Ya, dia mengamen untuk biaya sekolah dan sekedar untuk membantu orang tuanya. Sekelebat lalu aku teringat sepenggal bait lagu Iwan Fals,
“Anak sekecil itu berkelahi dengan waktu, demi satu impian yang kerap ganggu tidurmu!”.
Dalam sebuah pandangan lain, beberapa orang mungkin menganggap orang tua anak kecil itu mengeksploitasi jiwa yang masih polos dan lugu. Tetapi itu adalah wajah carut-marut kehidupan kita dengan kemiskinan sebagai topeng yang mereka kenakan.
“Oh, bukan, bukan, tapi bukan itu, bukan kemiskinan yang mereka gunakan sebagai topeng, tapi kemiskinan menggunakan mereka sebagai topeng.”, suara dalam kepalaku berusaha meluruskan.
Sayangnya, hanya sedikit yang masih bisa melihat makna balik topeng itu.
Hmmm… Beberapa minggu lalu aku berkirim surat lewat alam maya dengan seorang wanita yang seumuran dengan ku, dia adalah salah satu calon anggota wakil rakyat di daerah, sebut saja daerah “antah berantah”.
“Mengapa kau mau menjadi wakil rakyat?”, tanyaku.
“Ya karena aku ingin mengetahui cara kerja wakil rakyat, dan semoga kalau terpilih aku bisa membantu orang banyak dan menyuarakan harapan mereka!”, balasnya kemudian.
Sebuah jawaban yang amat klise menurutku.
Saat ini mungkin memang segala sesuatu sudah dinilai hanya berdasarkan keuntungan, kekuasaan, pamrih, dan segala macam jenis perhitungan lainnya. Bahkan untuk menolong orang susah saja banyak yang merasa harus menjadi orang kaya terlebih dahulu. Bicara tentang kesejahteraan, bagaimana mungkin bisa terwujud jika mentalitas yang ada tersusun dari uang recehan.
Temanku berkata dalam lirik lagunya,
”Bicara tentang perubahan, tapi kontribusi apa yang sudah kau lakukan untuk hidupmu sendiri kawan?”.
Jika saja puluhan raja-raja itu bersedia mengeluarkan seluruh pundi-pundi emas dan mengikhlaskan upeti yang mereka dapatkan, tentunya sudah tidak diperlukan lagi kata “kemiskinan” dalam setiap bahasa di dunia, dan kemudian kata “kesejahteraan” menjadi absurd ditengah kesetaraan. Hingga tak ada lagi budak yang menghamba pada tuan tanah. Tapi nyatanya, masih banyak tuan tanah yang takut akan kehilangan harta, padahal dalam hati kecil mereka terkadang merasa iba saat melihat hamba-hamba lain yang menanti iba di pinggir jalan.
Sungguh dunia yang membingungkan.
Ini hanya bagian kecil dari apa yang aku diskusikan bersama beberapa sahabat, hal demikian adalah sesuatu yang lucu, kehidupan ini memang merupakan sebuah panggung parody dimana setiap pelakon memainkan peran sebagai orang yang mengutamakan kedigdayaan sebagai raja atas dunia dan seisinya, sehingga seakan-akan orang yang tak berdaya hanya diperlakukan sebagai penikmat sisa-sisa kemakmuran.
“Aku ingin hidup seribu tahun lagi”, Chairil Anwar berteriak dalam karyanya.
Demikian pula teriakan dalam hati kecilku,
“Aku ingin hidup seribu tahun lagi, agar aku dapat melihat sampai kapan kebodohan ini menjejali otak mereka!”.
Tapi maaf, ini bukan sikap, melainkan sebuah pilihan. Ini juga bukan bisikan, tapi ini adalah cerita rakyat.
Rasanya aku seperti berjalan dalam lorong gelap yang berujung pada belokan buntu.
“Oh, tidak, bukan hanya belokan ini saja, tapi belokan itu dan yang di sana, itu juga sama, buntu.”, suara dalam kepalaku kembali meluruskan.
Setiap hari para pelacur menjajakan diri dipinggir jalan, menjanjikan terpuaskannya hasrat para hidung belang. Berbagai dandanan mereka kenakan, mulai dari yang sederhana hingga yang wajah aslinya tak terlihat lagi, mulai dari yang muda hingga yang sudah berumur, dari yang kurus, sintal hingga yang gemuk tak berbentuk. Kendaraan yang kulihat melintas seakan bagai tongkat dalam perlombaan lari marathon yang berpindah dari satu tangan ke tangan lain, begitu pula, berpindah dari yang tua ke yang muda, dari yang gemuk ke yang sintal.
Tunggu dulu. Dari kejauhan terdengar raungan sirene polisi moral. Jalanan yang remang itu sekejap menjadi semakin riuh.
”Brak, bruk, prak, prok, plak, plak, prak, prok, bruk.”
Beberapa jatuh dan tertangkap, sedangkan puluhan langkah seribu menggema.
“Haha, sungguh sial mereka! Mereka itu manusia-manusia sial! Sial karena menjadi pelacur, sial karena menjadi polisi moral, sial karena mereka hidup dalam jaman yang sungguh-sungguh membuat mereka sial. Sial mereka karena mengutuk kesialan masing-masing, sedangkan mereka masih akan jauh lebih sial lagi jika belum juga sadar kalau ternyata mereka sama-sama sial.”, suara-suara dalam kepalaku berbisik tak karuan.
Ya. Malam ini udara dingin dan nyamuk berlomba membelai tubuhku yang kering kerontang. Lalu aku berfikir dan bergumam dalam hati,
“Lebih baik mengalami amnesia daripada harus kehilangan kewarasan!”.
Dan sungguh benar bila tulisan saya ini masih jauh dari sempurna.
