Serupa apa? Hasrat Helios dan Sejarahmu

|
Saya tidak tahu sekarang jam berapa. Sekarang sudah memasuki dini hari. Adzan subuh baru saja berkumandang, cukup memecah keheningan dini hari ini dan cukup membuat konsentrasi meditasi saya buyar.

Tak apalah. Suara itu adalah panggilan yang baik.

Berminggu-minggu saya jarang berjumpa dengan pagi hari. Pagi dalam arti suasana. Saya kehilangan rasa peka untuk menikmati pagi hari.
Udara yang masih sejuk, embun, kabut, desir angin yang membuat tubuh merinding. Ada suatu kelembapan yang sulit untuk dijabarkan.

Matahari terbit dari belakang rumah saya. Terbenam di depan rumah saya. Menyengat di atas rumah saya.

Helios.

Energi murni yang sama yang telah menerangi hari-hari siang bertukar malam yang di alami nenek moyang manusia. Adam dan Hawa. Bagaimana mereka memaknai sifat matahari?
Matahari adalah saksi bisu dari milyaran sejarah manusia yang terjadi kala dia bersinar. Sisanya dia serahkan pada bulan yang selalu tak pernah bisa menepati tugasnya.

Matahari tentu tahu bahwa banyak hal keliru yang dilakukan manusia. Mungkin ini saat yang tepat mengganti lirik tembang lawas Doel Sumbang menjadi, "kalau matahari bisa ngomong".

Ya. Kalau saja begitu. Dia tentu akan memberitahu manusia bahwasanya kebencian itu tidaklah perlu diagungkan dalam kesumat hasrat yang tersumbat.
Bumi tidak sehebat itu.

Gandhi juga tahu. Kalau bumi mampu memenuhi kebutuhan manusia, tapi bumi tidak mampu mencukupi keserakahan manusia.

Para penulis sejarah mestinya sering-sering bertelepati dengan matahari. Karena sejarah-sejarah yang tak pernah tuntas membuat orang saling menikam.

Tulisan Sejarah mana yang kamu benarkan? Lukisan Sejarah mana yang kamu yakini?
Atau.
Apa kamu berani membuat sejarahmu sendiri?

Lahir, merangkak, berdiri, berjalan, berlari, istirahat, lalu mati. Siklus hidup yang nampaknya tak terelakkan.

Jadi kamu masih percaya sejarah 1 dimensi? Kamu masih saja mau jadi masyarakat tontonan? Masyarakat penonton. Pengikut tuan besar. Budak belian.

Saat kata direduksi maknanya. Disitu telah terjadi pengebirian logika.
Banyak istilah ekstrim yang bertendensi negatif perlu di redefinisi.

Temanku mengingatkanku dengan sebuah kutipan dari Munir, "ketakutan kita hari ini adalah tentang keberanian". Seingat saya seperti itu.

Kamu takut jadi pahlawan? Janganlah terlalu banyak menonton sinetron.
Jangan terlalu lama di cafe. Jangan terlalu banyak makan fastfood.
Jangan terlalu banyak teori.
Dan jangan terlalu percaya apa yang saya katakan.
Kamu cari bentukmu sendiri.

Mungkin di lain hari kita bisa merasakan suasana pagi yang setara, sama, namun tetap indah dengan harmoni perbedaan yang mutlak harus tetap terjaga.

Selamat menikmati pagimu.

Segelas teh hangat.

Obrolan santai dengan orang tua.

Mandi.

Sarapan.

Lalu?

Hadapi hari. Jadikan matahari sebagai pencatat sejarah hidupmu hari ini.

Bravo Helios!!....

Bahagialah Dalam Cobaan!

|
“Jadilah kamu manusia yang pada kelahiranmu semua orang tertawa bahagia, tetapi hanya kamu sendiri yang menangis; dan pada kematianmu semua orang menangis sedih, tetapi hanya kamu sendiri yang tersenyum.” – Mahatma Gandhi


< “Lingga, ini jam berapa? Kamu begadang terus!”

> “Ya, Ma! Sebentar lagi tidur.”

Semua ini gara-gara overdosis mie instant, dokter cantik diklinik 24 jam Jalan Jendral Sudirman sudah memperingatkan saya supaya tidak lagi mengkonsumsi mie instant.

“Tapi itu penyelamat di saat malam hari dok!”

Berani-beraninya saya melawan dokter. Dan sekarang mulai lagi terasa akibatnya, perut melilit, buang air besar tidak normal. What a great experience!

Dan salah satu penyakit saya yang paling parah adalah “menulis”, saya pernah mencoba beberapa hal yang bisa membuat orang mabuk. Tapi menulis adalah sesuatu yang benar-benar memabukkan.

Ini pagi yang gila. Sangat gila.

Hmm… setelah tadi saya chatting dengan seorang teman yang meminta kepada saya untuk memberikan doa yang super tulus untuk kakaknya yang baru saja selesai di operasi karena komplikasi (yang entah komplikasi apa itu!).

Saya tersentak.

Saya ini orang yang jarang berdoa. Jarang ke tempat ibadah. Bahkan saat ibu saya tercinta bertanya: “Kamu kenapa sih ga pernah solat lagi? Padahal dulu solatnya rajin!”.
Saya Cuma tersenyum dan diam. Saya tidak menjawab, takut-takut “pembenaran” saya menyakiti hatinya, dan saya tidak setega itu.

Oke, kalau di lanjutkan akan terlihat seperti curhatan.

Ditemani dengan lagu blues dari CD bajakan milik papa saya, kamar gelap ini semakin membuat saya ingin berteriak kencang.

Manusia memang tidak akan pernah bisa jauh dari penderitaan. Tapi juga manusia tidak bisa jauh dari rasa cinta.

Tahun lalu banyak saudara saya yang meninggal. Dan teman saya juga banyak yang ditinggalkan oleh orang-orang yang sangat mereka sayangi, bahkan ada sahabat saya yang kehilangan calon bayinya karena istrinya mengalami keguguran.

Kejadian. Kematian. Sebuah titik akhir dari hidup seorang manusia. Tapi merupakan sebuah awal dari perbaharuan hidup bagi orang yang ditinggalkan. Mereka harus mulai membiasakan diri untuk memulai lembar hidup baru tanpa orang yang berarti dalam hidupnya.

Saya belum pernah merasakan sedekat itu dengan kematian. Sekalipun saya pernah stress berat saat papa saya terkapar hampir selama 2 minggu akibat stroke ringan yang sedikit merusak penglihatannya sampai saat ini.

Saya belum pernah sedekat itu dengan kematian.

Sekali waktu saya datang ke tahlilan meninggalnya Ibunda dari sahabat saya. Teman adalah orang yang sangat ceria. Bahkan saat saya datang, dia menyambut saya dengan senyuman. Saya tidak tahu apa yang dia rasakan sesungguhnya, tapi saya senang sahabat saya itu tetap memiliki keceriaan dan “kepolosannya” haha.

Saya menulis ini bukan tentang saya. Tapi tentang semua orang terdekat saya yang sedang mengalami dahsyatnya gelombang cobaan.

Dan tulisan ini juga bukan untuk membuat mereka jauh lebih sedih dari saat ini. Tulisan ini justru ingin membuat mereka tersenyum. Bahwa manusia tidak sendirian dalam menghadapi cobaan. Kita masih punya teman, saudara, keluarga, kekasih dan lainnya untuk berbagi cerita.

Tulisan ini hanya kegiatan saya “pengantar sebelum tidur”.

Ya. Saya belum pernah berada sedekat itu dengan kematian.
Entah apa yang sedang saya pikirkan saat ini. Dengan segala ketakutan saya membuat tulisan ini. Takut-takut besok ada anggota keluarga saya yang meninggal.
Tapi entahlah. Kan kamu tahu sendiri kalau ketakutan itu justru bisa merangsang keberanian kamu yang terpendam.

Kata orang bijak, Saat seorang manusia telah melewati satu cobaan dalam hidupnya, dia telah berada dalam satu level yang lebih tinggi.
Ya, level kehidupan yang lebih tinggi. Dari penderitaam, kematian dan rasa kehilangan, kita justru seharusnya bisa lebih menghargai kehidupan yang masih kita miliki saat ini.

Saya yang belum pernah sedekat itu dengan kehilangan yang membuat rasa sedih tereksploitasi berani berkata, “Tetap jaga senyummu kawan!”.

Tidak ada yang jahat. Jangan juga kamu menyalahkan Tuhan. Ini dunia kita, ini hidup kita, jangan salahkan siapapun. Dan jangan pula menyalahkan dirimu sendiri saat kamu kehilangan sesuatu.

Saya teringat satu kalimat seorang penulis Bali, "Sebelum terlahir kita sudah di vonis untuk mati. Hanya masalah kapan dan dimana?"

Keep your head up!

Live life. Love life!

Saya memberanikan diri untuk posting note ini dengan rasa bersalah dan pertimbangan yang tidak mudah!!!

Cause I've Forgotten All Of Young Love's Joy

|
Cupid Is Dead



Kamis, 21 Januari 2010
03.59 - 04.50

Silahkan saja nyanyikan lagu cinta, lagu putus cinta, lagu jatuh cinta, lagu kebencian, lagu kekecewaan, lagu harapan dan lagu-lagu yang menurut kamu paling mematikan perihal cinta. Saya tidak akan terpengaruh.

Karena rasanya saya sudah mati rasa. Ini nafas seakan tidak berguna. Bukan tidak berguna dalam arti “tidak berguna” menurut kamu loh!

Saya menciptakan ruang kosong yang terbuka begitu luas dan lebarnya sampai-sampai saya kewalahan untuk mengisinya. Saya bingung. Apa yang harus saya bawa kedalam sana untuk kembali menghiasnya hingga bisa kembali terang benderang.

Hmm… saya sedang melukis saat itu. Saya melukis tentang sesuatu.

Suatu keindahan yang tidak pernah dapat kamu bayangkan kecuali saya jabarkan sejernih mungkin pada otakmu yang agak-agak terbelakang. Keindahan itu sungguh mempesona, sampai-sampai diri ini enggan berpaling barang sekejap saja.

Bahkan, lembar-lembar kertas yang mengandung kalimat-kalimat indah Kahlil Gibran pun seakan terbakar. Terlupa. Muak!

Saat saya sedang nikmat melukis. Ada yang mencuri tinta terakhir untuk warna terakhir yang akan saya goreskan. Kemurnian dari keindahan itu memudar perlahan.

Saya tinggalkan lukisan itu di ruang tanpa gembok dan kunci. Dengan frame terbuat dari besi yang makin lama kian berkarat. Dengan kanvas yang terbuat dari untaian sutra dan tembaga. Dengan kuas yang tercipta dari rambut halus Unicorn. Dengan cat yang terbuat dari air mata Leviathan. Dengan penglihatan yang lebih tajam dari Sauron. Dan dengan kepekaan nurani yang melebihi kearifan semua Agama.

Lukisan itu seakan tak pernah ada. Lukisan itu hanya sekedar gambar kartun sekelas Chibi Maruko Chan dan sekasar lukisan Sinchan yang paling halus.

Kamu tahu kisah cinta Caligula? Apa kamu tahu kisah mematikan Romeo dan Juliet?
Dulu aku adalah Romeo.
Tapi sekarang? Aku jauh lebih mirip Caligula.

Tapi aku bukan penggila Kamasutra. Saya lah yang sebenarnya menguasai jiwa ini dengan dominan, dan memilih menjerat Persephone hingga Demeter marah pada bumi.

Elok wajah dalam lukisan itu sungguh lebih mematikan dari tatapan Monalisa. Lebih bernuansa neraka ketimbang “Inferno” Dante sang Maestro.

Lidahku berbisik lebih memuakkan ketimbang suara ketukan palu di pengadilan.

Apa kamu tahu maksud semua ini?

Aku hanyalah jiwa yang tersesat dalam galaksi.
Jiwa yang mencari jalan kembali.
Mencari kembaran yang tak pernah terlahir.
Mencari separuh jiwa yang lenyap dalam setiap mimpi basah.
Mencari kenyataan jauh melebihi onani.

Ya. Sumpah mati saya lupa.

Seribu Cupid pun tidak akan mampu mengembalikan ingatan saya. Bahkan jutaan Cupid akan melepaskan sayapnya. Kemudian menancapkan sayap patahnya itu di pundakku. Jika aku adalah cinta, ya dewa cinta. Aku adalah cinta?

Tidak. Tapi kalian lah yang layak disebut cinta. Aku hanya anak nakal yang harus dihukum karena enggan membaca ayat-ayat suci. Aku hanya anak terlantar yang enggan membuka diri.

Cinta bukanlah apa yang kamu pikirkan ataupun yang kamu pikirkan. Cinta adalah apa yang kamu perbuat. Jika memang aku harus menjadi Cupid. Maka jadilah aku Cupid.

Siapa yang ingin menjadi korban panahku yang pertama? Korban panah dari si amatir. Hingga nanti kamu lupa baik-buruk, tampan-jelek, cantik-ganteng, dan jelita-korengan.

Ya. Saya kehilangan semua. Saya lupa semua rasa. Yang ada hanya pungguk yang merindukan bulan. Seperti air yang kehausan, seperti api yang kepanasan, seperti angin yang kedinginan, seperti cahaya yang kesilauan.

I really screwed up this time hahaha… Bitch ass muthefucker!!!

An Epilogue: Hatred Epiphany

|
I like you not because you are my friend. But because you're a woman. Do you understand my dear?

Don't show your love, i've feel enough. Show me pain, it will make me back to reality.

Let the star fall. let the sky cry over load. Love is an epilogue to hate something you can't reach. Sky is the limit.

For every bitch, for every hore, for every angel, for every skywalker. I trust to God, take care of their soul.

Love and hate? i prefer to hate. People got a lot of brave to love, but less to hate.

I'm a hawk looking for a nocturnal too eat.

Puberty is my liberty. For every psychoneurosis i ever had, i beg for cupid to send me a secret message under trough on a lost island.

Pigeon... Oo, Pigeon. You had to be my messenger, but why didn't you accomplish the secret message.

I dance in this music. Minor swing.

I swear to God. I throw the key to the deepest sea. I beg to every God, Goddess and devil, curse me badly.

I'm a huncbacked freak who knock a wrong door to get in.

And that blind woman said, "I knew when i saw you, you had opened the door!"

Thus.

I decided to go. Yeah, i must to go far, far away.

And i promise to my self, I would never ask her any question.

Exactly, I'm dreaming in a dream.





_Elias The Lost One_

27 January 2010
Wednesday 07.30 pm - 07.57 pm

Bogor (masih) Mendung ya kawan??

|
Bogor (masih) Mendung ya kawan??
Minggu, 21 februari 2010 (01.01-02.08)

Nampaknya ada suatu rasa yang mendidih di dalam jiwa saya.

Mari kita mengukir arti dari kelopak mawar terakhir yang kita petik. Apakah “ya” atau “tidak”. Jauh kamu mencoba mencari cahaya duhai kawanku! Padahal cukup kamu bangun pagi hari, hirup udara segar. Kemudian, cobalah menantap keangkasa yang berbuih awan tipis, biarkan sinar matahari ini menyentuh wajahmu dan tubuh rapuhmu.

Mencoba mengubah paradigma.

Andaikan saja Adam yang membuat Hawa turun ke bumi. Andaikan saja Gibran tak pernah berjumpa dengan Selma. Jika, saja siang adalah malam.

Sebuah ketidakmungkinan yang justru mengharuskan manusia menegakkan kepala, mencari jalan keluar dari pintu masuk yang tak pernah bisa kembali dibuka.

Siapa yang tidak membutuhkan pegangan? Siapa yang tidak tahu jika kehidupan adalah sandi-sandi yang harus dipecahkan seperti DaVinci Code. Holmes dan kaca pembesar.

Jika boleh jujur, yang tentu sudah kalian tahu, saya mencintai Aphrodite, di kemudian hari dia berubah rupa menjadi Selma. Dan di lain hari aku berubah menjadi Sisifus.

Hoho. Aku seperti Leo Tolstoy? Rupanya aku belum sejauh itu bisa melangkah. Libido tergerus dalam kerangka frame-frame kaku yang membuat jarak semakin berjarak, langit semakin melangit, tuhan semakin menuhan. Ini semua terjadi berkat Jumat-Jumat dan Sabtu-Sabtu dari para pesakitan yang terus menyiksa saya seperti bala raksasa yang merangsek Astina sebelum Bima mampu menjamah hati sang putri raksasa.

Yang paling mampu meredam semua kerikil abstrak ini hanyalah tiada. Bukan siapa-siapa. Aku tidak memuja. Bahkan hampir lupa cara bersujud. Baiknya saya masing ingat bagaimana cara bersyukur.

Tarik. Tarik. Menarik dan kemudian ulur benang merah itu duhai kawanku! Elegi yang cantik, amboi! Justru yang paling menarik adalah apa yang paling tidak menarik.

Silahkan kamu coba terbang ke langit ke tujuh. Aku tak akan melakukan itu. Aku tak akan pergi terlalu jauh dari rumah jika hanya untuk kembali membawa sakitnya rasa terjatuh sambil menangis.

Dunia ini luas. Tapi lusa tidak ada yang tahu kapan akan dating dan pergi. Aku lihat dari sisi lain, ternyata kamu seperti peri gigi. Harapan yang ditanamkan, rupanya hanya kosong, peri pembohong. Kalian pasti sering tertipu. Apalagi dalam arena perjudian.

Bangunlah. Bangunlah. Dan bangun! Ini hidup kamu. Kamu berdiri sendiri. Aku?? Ah, lupakan. Aku tak bisa banyak membantu, kecuali berdoa pada yang tuli. Berbisik pada yang peka.

Kita tidak pernah membuang waktu, karena memang tak pernah ada waktu yang terbuang jika itu maksudmu. Ya, karena. Eh, karena kita memang tidak memiliki waktu. Waktu adalah bebas, kebebasan, di akhir kata pembebasan. Waktu hanya akan mengungkung jika kamu percaya. Garis akhir di detik penentuan hidup atau mati dalam bujukan anarki yang pasif.

Mimpi dan biarkan mimpi tetap bermimpi. Manusia hidup untuk itu. Tapi terkadang bisa kita temukan orang yang sedang mewujudkan mimpinya saat oran lain masih bermimpi bahkan menyusun mimpinya. Di mana kamu akan menempatkan diri dalam ruang sempit yang membebaskan ini? Ruang bebas yang menyempitkan. Sesak hanya akal-akalan pikiran yang keruh.

Roda bergerigi. Roda dan jari-jari. Analogikan hidup itu seperti roda? Sebelumnya silahkan pikirkan apa saja yang membuat roda menjadi “ada”.

Makna-makna dunia belum semuanya tersingkap. Jangan lagi bertemu Selma.
Semoga di lusa dan lain hari cerita-cerita ini berubah menjadi kisah Janan dan Osman dalam cerahnya suram buku “Kehidupan Baru”.

Tubuh Perempuan

|
Mar 27, '09 9:59

Tulisan pendek ini bersumber dari sebuah artikel dalam CAKRAM, sebuah majalah periklanan, promosi dan kehumasan sebagai referensi bagi mahasiswa Jurusan Public Relations yang merupakan konsentrasi saya selama Kuliah di IISIP Jakarta.

Sebuah kajian feminis seperti ini mungkin seharusnya diangkat oleh perempuan, Bukan oleh laki-laki seperti saya, tapi dalam era postmodern sekarang ini rasanya sudah tidak terlalu penting lagi kita memperdebatkan masalah biasa atau tidak biasa, tapi pada masalah makna. Separuh dari tulisan ini merupakan isi dari artikel tersebut. Ditambah dari Averroes Community di situs www.averroes.or.id. Semoga tulisan saya ini memberi motivasi bagi para perempuan untuk menunjukan eksistensinya kembali. Dari dalam negeri mungkin kita bisa belajar dari R.A Kartini.

Mari kita mulai.

Pencitraan tubuh perempuan sudah lama menjadi perbincangan yang kompleks dalam diskursus media. Sejumlah kritik menyebutkan bahwa media telah mengeksploitasi tubuh perempuan semata-mata untuk manfaat komersial. Cyndi Tebel dalam bukunya “Body Snatchers” (2000) menggambarkan bagaimana perempuan berusaha habis-habisan agar tampil langsing dan memikat. Million of eager young girls are willing to sacrifice long-term mental and physical wellbeing, tulisnya, hanya demi suatu kesempatan yang sangat kecil untuk menjadi model terkenal.

Karena itu tak perlu heran jika industri kecantikan berkembang dengan pesat. Industri bedah plastic agar tampil cantik bahkan semakin digandrungi. Sarah Tippit dari kantor berita Reuters melaporkan bagaimana para Bintang terkenal berduyun-duyun mereparasi tampang mereka di dokter bedah plastic agar tampil sempurna di penyerahan hadiah Oscar.

Karena itu industri kecantikan dianggap sebagai pemicu yang menjadikan perempuan tak pernah puas dengan tampilan tubuh mereka. Dunia mode memang selalu bermain dengan trend, dan kini mengagungkan model yang betul-betul ramping.

Dalam konteks semacam ini, tudingan terarah ke para pria yang dianggap selalu memanipulasi perempuan untuk kepentingan dan kepuasan mereka. Naomi Wolf, salah satu tokoh feminis terkemuka, menyebutkan bahwa konsep cantik adalah senjata Terakhir yang dipakai oleh patriarkhi untuk menundukan perempuan. Walau dalam kenyataannya, sekian banyak produk kecantikan maupun media yang menampilkan pentingnya kecantikan, dikelola atau dikuasai oleh perempuan.

Pencitraan dalam iklan merupakan suatu kenyataan yang tidak dapat dihindari. Freud sudah menyebutkan bahwa banyak aktivitas manusia digerakkan oleh impuls seksual.

Untuk para laki-laki coba lihat perempuan disekitar kita. Apakah mereka menyembah berhala kecantikan? Selalu mengikuti fashion yang terkadang tidak mereka pahami, kenapa harus mereka ikuti?

Untuk para perempuan, sudahkah kalian menyadari bahwa kecantikan bukanlah sesuatu yang mutlak melinkan relative? Apakah kalian masih terjebak dalam pencitraan produk yang hanya menjanjikan sugesti seperti produk pemutih?

Bagaimana mungkin seorang yang dari kecil memiliki kulit hitam bisa berubah menjadi lebih putih dalam waktu 7 hari saja? Dan yang tidak habis pikirnya lagi, masih saja ada orang yang mengkonsumsi produk yang jelas-jelas tidak terbukti.

Lama sudah rasanya gaung emansipasi perempuan meredup (menurut saya), ingin juga kenal dengan seorang perempuan yang mempunyai prinsip kuat.

Banyak perempuan di kampus saya yang modis, tapi saying saat diskusi di dalam kelas gaya pakaiannya (yang serba wah dengan Brand internasional) melebihi eksistensi dirinya. Ini menurut versi saya, karena saya belum berdiskusi dengan beberapa dari mereka. Gengsi telah mereduksi eksistensi nalar mereka, hingga mungkin secara tidak sadar mereka tercebur dalam mainstream yang berkiblat pada rumah mode di eropa. Walaupun hal ini juga terjadi pada laki-laki. Banyak yang perilaku konsumsinya hanya berdasarkan pertimbangan emosional semata.

Memang dalam masyarakat industri ini media massa telah menjadi tuhan yang baru. Dimana nyaris segala “kebutuhan” manusia dapat dipenuhi melalui media massa tersebut.

Pada hakekatnya, pekerjaan media adalah mengkonstruksi realitas. Maka dari itu, seluruh isinya adalah hasil para pekerja media mengkonstruksikan berbagai realitas (constructed reality) yang dipilih dan diolah menjadi sebuah wacana yang bermakna (Sobur, 2004).

Tubuh perempuan selalu menjadi perdebatan. Perbedaan derajat menjadi salah satu sebab mengapa perempuan selalu memiliki posisi yang lebih lemah disbanding laki-laki. Hal ini terlahir sejak era kolonialisme dan feodalisme yang melegenda. Banyak perempuan mengalami serangan seksual, di eksploitasi dan di nafikan.

Bila memakai pendekatan postkolonial, semangat membalik dapat kita temukan pada isu pornografi. Pornografi banyak ditentang oleh kaum perempuan, dengan asumsi pornografi telah mengeksploitasi tubuh perempuan habis-habisan, dan hanya lelakilah yang mendapatkan keuntungan. Mereka menunjukan data bahwa lelakilah konsumen terbanyak dalam peredaran pornografi. Di situ perempuan merasa dirinya dipermalukan, ditelanjangi bahkan beberapa mengatakan film porno adalah bentuk perkosaan lain dalam dunia fiksi media visual.

Tetapi postkolonial, dan terutama yang seiring dengannya (postfeminis) dapat membaliknya bahwa pornografi dapat digunakan untuk kesadaran seksualitas perempuan itu sendiri. Perempuan memiliki hak untuk menunjukan hasrat seksualitas dirinya. Bahwa hasrat seks sangat manusiawi, tentunya juga bagi perempuan. Seperti tokoh Laila dalam Saman novel Ayu Utami, di balik perselingkuhannya ada pesan-pesan yang ia tunjukan, tentang ideologi patriarkhi, dan bagaimana seks, agama dan Tuhan dipandang dari sudut mata dan hati atau pengalaman perempuan.

Fenomena Madonna, adalah ikon dalam semangat membalik postkolonial. Kaptalisme dan tubuhnya ia gunakan utnuk menjai kekuasaannya. Di sini Madonna sebagai tubuh perempuan tidak lagi menjadi korban eksploitasi, ia mengeksploitasinya untuk menjadi kekuasaan menundukan wacana yang tidak membebaskan perempuan meraih diriya sendiri. Madonna adalah imaji atas dirinya sendiri, yang dapat memperlihatkan gender dan seksualitas kepada generasi pada waktu itu. Kebangkitan popularitasnya sejak 1980-an dengan smash hit lagunya Like A Virgin dan Material Girl di awal 90-an merupakan transformasi lambang tentang “kesadaran diri” atas kebingungan gender. Penggemarnya yang kebanyakan perempuan, dan kritik-kritik terhadapnya menajdi intelektual, bahkan banyak membawa studi tentang gender, seksualitas dan media massa. Madonna menjadi simbol perempuan dalam post-gender.

Semangat membalik Madonna menjadi semangat post dan menjadi contoh penting dalam melihat persoalan seks perempuan di tengah perlawanan dan kehadirannya. Gerakan-gerakan post memang menjadi kontroversial karena tidak sealur dengan standar nilai masyarakat dan agama, kemunculannya sering mengejutkan dan awalnya akan dianggap sebagai kehadiran yang melenceng. Namun bila dipahami dan dipelajari lebih dalam, pemahaman post termasuk postkolonial sesungguhnya melengkapi perlawanan kolonialisme itu sendiri.

Tetapi sebelum melakukan logika semangat pembalikan, para perempuan-perempuan juga harus menumbuhkan kesadaran dirinya dan bangun dari buai ilusi yang diciptakan media melalui pencitraan produk.

Anggap saja tuhan itu perempuan. AMIN.

Dari Krisis Kebebasan: Kembali Merenungkan Gilotin

|
(Saat Sedang Meradang, Kamis 26 Maret 2009. 20.45- 23.00)

Lama saya berpikir untuk membuat tulisan berikutnya. Kali ini saya mengajak kawan-kawan di layar komputer yang sedang mengakses dunia maya di seberang sana untuk berbagai sedikit kewarasan atau mungkin kegilaan. Sayapun masih ragu mengenai hal itu, segalanya nyaris terlihat absurd dan semakin tidak nyata di tengah riuhnya kehidupan masyarakat industri ini yang menyebut teknologi sebagai tuhan dan suatu keharusan.

Tulisan ini saya buat beberapa waktu dengan tergesa-gesa setelah saya membaca sekilas karya-karya Albert Camus yang menurut saya sangat luar biasa pemikirannya, walaupun saya belum sempat membaca kritikan dari Sartre, teman sekaligus musuh penalarannya.

Berikut adalah penjabaran tulisannya dengan versi saya dari salah satu sub judul tulisannya yaitu “Merenungkan Gilotin” dalam buku Krisis Kebebasan, beberapa kalimat saya kutip langsung sebagai pemikiran pokoknya. Di mana pada saat hidupnya banyak aksi pemancangan bagi pelaku kejahatan di masanya dan eksekusi dilakukan di hadapan orang banyak sebagai peringatan. Tapi justru di situ muncul sebuah logika terbalik dimana sikap tersebut menciptakan kritiknya sendiri. Hingga justru banyak orang yang memikirkan kembali arti sebuah nyawa.

Walaupun aksi hukum pancung sudah mulai pudar, namun pada masa sekarang dengan refleksi yang terlihat dalam segala bentuk kekuasaan khususnya di dalam negeri kita sendiri rasanya kita masih harus merenungkan gilotin yang hadir dalam wujudnya yang baru, yaitu otoritarian penguasa melalui aparat yang semakin menyegat rakyat dengan dalih untuk ketertiban umum maupun menjaga stabilitas. Rakyat yang memberi mereka pekerjaan dan gaji dari pajak yang mereka bayarkan malah harus menjadi “hamba” atas “budak”nya.

Berkenalan dengan pikiran Albert Camus mengajarkan kita humanisme, nihilisme dan absurditas, perlahan kita di biarkan merenungkan sendiri karyanya, karena beliau juga mengakui bahwa karyanya bukan sesuatu yang tanpa cela. Cukup relevan ditengah masyarakat kita saat ini.

Mari kita mulai.

Ketika daya pikir menjadi lemah, kata-kata akan menjadi tanpa makna: Sekelompok manusia akan buta dan tuli saja terhadap nasib seorang manusia. Ya, ini adalah wajah yang Camus tuliskan sekitar 30 atau 40 tahun lalu, tapi masih akan tetap menjadi perbincangan hangat dan tiada henti hingga saat ini. Dulu aksi pancung di Prancis dilakukan di hadapan orang banyak agar mereka menjadi takut untuk melakukan kejahatan. Ayahnya pernah pada suatu waktu sangat bersemangat bangun pagi-pagi sekali untuk melihat eksekusi seorang penjahat yang terkenal. Kemudian, saat siang hari ayahnya pulang dengan wajah pucat dan langsung merebahkan diri di kamarnya, merenungkan apa yang baru dia saksikan, tak lama kemudian beliau muntah. Mereka yang menonton eksekusi umumnya sangat membenci kejahatan dan penjahat itu sendiri, mereka tidak berpikir panjang untuk memahami situasi karena mereka menganggap bahwa “keadilan sedang ditegakkan”.

Keadilan justru telah menjadi tiran saat mereka merasa memiliki hak dan logikanya sendiri untuk menghabisi nyawa seseorang. Bahkan hukum yang menjadi sumber penjatuhan sanksi adalah bagaikan seorang raja yang menang dalam peperangan, hingga merasa berhak menjarah harta, memperkosa dan menjadikan kaum yang kalah perang sebagai budak.

Selama banyak diantara kita membiarkan daya pikirnya terkikis oleh hipnotis kemegahan dunia, gemerlap malam, riuh persaingan bisnis, sibuk berebut kuasa, menangkap segala realitas layar kaca sinetron hingga reality show maka kita telah membiarkan kebususkan terus bergelora. Kini kita sedang melihat gilotin yang telah mewujud dalam sesuatu yang baru, sesuatu yang sering kita temui, sesuatu yang terlahir dari ketimpangan logika anak kembar peradaban, kiri dan kanan, revisonis dan revolusionis.

Kapitalisme semakin membuat dunia menjadi kelam, manusia menjadi robot, anak cucu kita kelak menjadi mutan. Penggusuran. Dunia semakin sempit dan nyaris tidak ada ruang yang ada tanpa proses transaksi. Tanah bersertifikat, air dengan pajak, sakit dan mati dengan asuransi, terkubur dengan pajak pula. Dunia adalah etalase yang semakin angkuh. Miskin adalah dosa besar, hingga dunia menjadi neraka. Sedangkan surga masih merupakan pertanyaan.

Hukuman mati menjatuhkan martabat masyarakat sementara para pendukungnya tidak mampu memberi alasan yang masuk akal. Ya, banyak aksi eksekusi di dalam negeri ini dalam berita televisi. Para algojonya bertindak bagaikan robot tanpa mau tahu urusan orang lain, mereka menjadi tuhan, tuhan yang berada di bawah komando kekuasaan.

Bagaimana bisa suatu pembunuhan yang dilakukan diam-diam pada suatu malam di halaman penjara dapat di sebut memiliki nilai sebagai contoh? Pertanyaan ini muncul setelah pada awal abad 20 terjadi eksekusi yang mengundang wartawan untuk meliput dan kalau tidak salah juga ditayangkan di televisi yaitu eksekusi Weidmann tahun 1939 di Versailles, Prancis. Kemudian muncul kontroversi hingga ada larangan untuk melakukan eksekusi di depan masyarakat umum. Beberapa waktu lalu negara kita melakukan eksekusi terhadap para teroris Amrozi Cs di Nusa Kambangan.

Nilai apa yang kita dapat?

Sedangkan katanya hukum dan segala tetekbengeknya di buat agar masyarakat memiliki nilai pedoman yang sama dan hidup teratur agar tidak melakukan aksi yang jahat atau menyimpang dari norma, nilai dan dogma. Dengan demikian hukum dan keadilan malah bersembunyi dari masyarakatnya sendiri. Saya bukan membela terorisme, tetapi saya hanya mencoba memaknai kematian yang katanya bisa menjadi contoh.

Hukum memang sudah ditegakkan. Tapi keadilan masih bisa kita perdebatkan. Siapa yang memiliki hak dan kuasa atas satu nyawa?

Pada tahun 1791 Tuaut de le Bouverie, seorang anggota dewan di Prancis berkata, “Diperlukan pemandangan mengerikan agar rakyat dapat dikuasai”. Sebuah propaganda yang luar biasa. Sebelumnya kita harus bertanya pada diri sendiri.

Apakah anda setuju dengan pembunuhan? Jika jawabannya tidak, maka pertanyaan selanjutnya adalah: Apakah orang yang telah membunuh keluarga anda harus di hukum mati? Anggap saja jawabannya setuju. Pertanyaan terakhir: Apakah hukum harus di tegakkan? Tentu iya, tapi keadilan masih akan menimbulkan perdebatan. Apa bedanya membunuh atas dasar logika hukum dengan membunuh atas dasar emosi dan dendam?

Mari berpikir!!!

Kita bisa saja tidak suka tindak pembunuhan, tapi mungkin kita akan membunuh di saat kita sedang terjepit. Hal ini dikatakan absurd oleh Camus, maka saya simpulkan realitas itu subyektif, tidak mungkin obyektif, apalagi keadilan?

Daripada secara samar mengingatkan masyarakat akan seseorang yang membayar hutangnya pagi tadi jam 5, bukanlah lebih efektif mengingatkan para pembayar pajak (masyarakat) itu secara rinci apa yang akan terjadi bila mereka melanggar hukum yang sama? Daripada hanya ditulis, “Jika kau membunuh, kau akan menerima balasan di tiang gantungan”.

Banyak kejadian penggusuran di negeri ini yang berakhir bentrok, pada pedagang kaki lima mengaku sudang membayar pajak dan kadang pungli, tapi lapaknya tetap digaruk. Aparat selalu mengatakan bahwa mereka telah memberi surat peringatan. Dari kesaksian seorang PKL di TV One baru-baru ini, dia mengatakan sangat kecewa pada anggota dewan yang katanya akan berada di garis depan bila terjadi penggurusan, tapi anggota dewan itu mangkir.

Banyak orang terhormat sebenarnya adalah calon pembunuh. Kalimat Camus ini didasarkan pada sifat kekuasaan yang cenderung dekat dengan korupsi. Untuk menjaga nama baiknya, penguasa ataupun orang terhormat bisa saja melakukan pembunuan.

Dalam negeri ini lihat saja kasus pembunuhan Munir yang seakan tak pernah usai. Dan pembunuhkan terhadap Bambang (kalau tidak salah), saksi kunci yang membongkar transaksi benda cagar budaya di salah satu museum nasional. Serta serangkaian fakta lain yang bisa kita pelajari dari sejarah.

Fresnes seorang terhukum mati berkata, “Tahu bahwa kita akan mati tidak ada artinya”, “Tapi tidak tahu apakah kita akan hidup atau mati, benar-benar terror dan menyesakkan dada”. Terlihat jelas bahwa hukuman mati sangat tidak manusiawi, apa lagi hukuman mati hanyalah pembunuhan yang dilegalkan. Hukum hanya bagian dari legitimasi pembunuhan. Masalahnya terlepas pada apa yang perjahat itu lakukan, tapi bagaimana bila legitimasi pembunuhan terjadi pada diri dan nyawa kita?

Menyatakan bahwa seseorang harus mutlak memutuskan hubungannya dengan masyarakat karena dia jahat sama artinya dengan mengatakan bahwa masyarakat secara mutlak baik, dan tidak seorangpun pada saat ini yang berpikiran waras percaya akan hal itu. Dalam hal ini terciptalah penjara sebagai tempat bagi para “pesakitan”, dikucilkan dari masyarakatnya. Penjara dianggap bisa menyelesaikan masalah. Kita lihat Guantanamo di Havana, penjara tertutup yang tidak diketahui kegiatannya.

Masyarakat kita ini benar-benar sedang sakit jiwa, merasa dirinya paling benar. Contohnya lihat saja golongan-golongan yang ada, ormas, halal dan haram, musyrik dan kafir. Orang yang percaya suara tuhan akan menyebut kafir mereka yang tidak mendengarnya. Pramoedya Ananta Toer di buang ke pulau Buru karena tulisannya yang sangat realis dan tuduhan Komunis karena menjadi tokoh LEKRA di bawah komado PKI, walaupun LEKRA tidak diintrvensi PKI. Hingga saya lebih suka menyebut diri pengidap skizoprenia, dan memang lebih baik mengalami amnesia daripada harus kehilangan kewarasan. Mungkin kita bisa lupa, tapi kita tetap akan selalu berpikir.

Camus mengutip perkataan Alphonse Karr: “Biarlah pembunuhan mulia segera dilakukan, karena ia tidak bermakna apa-apa lagi”. Ya. Pembunuhan mulia. Pembunuhan yang sah menurut logika hukum dan hak seseorang untuk mengatakan sesuatu tentang keadilan telah menghilangkan arti nyawa dan arti keberadaan manusia. Kalimat ini saya nilai merupakan ungkapan kecewa dan keputusasaan ketika hukum yang mengatasnamakan keadilan telah mereduksi keberadaan manusianya sendiri.

Dalam hubungannya dengan kejahatan, bagaimana mendefinisikan peradaban kita ini? Jawabannya sederhana: sudah 30 tahun ini (pada masa sekarang mungkin tebih dari 80 tahun sejak masa Camus) kejahatan penguasa lebih banyak daripada kejahatan individual. Yang terpenting bukanlah penguasa tetapi Indivudual. Bagiamana bisa penguasa berkata pertumbuhan ekonomi negara kita sudah lebih baik, sedangkan PHK marak terjadi, kemiskinan merebak. Lebih jahatnya lagi, di masa menjelang pemilu ini banyak uang penguasa yang keluar untuk membuat promosi dan tim sukses, padahal uang mereka sangat berguna bila digunakan untuk memakmurkan orang kecil di sekitar mereka. Mungkin penguasa kita lebih suka memulai sesuatu dari yang besar, daripada memulai sesuatu dari hal kecil.

Di Jepang pejabatnya kerap melakukan bunuh diri jika terlibat korupsi, hal ini Bukan sekedar bunuh diri biasa. Tapi dalam tradisi samurai, mereka akan merasa terhormat dengan mati bunuh diri sebagai bentuk tanggungjawab moralnya bukan karena rasa malu.

“Pelajaran dari tiang gantungan yang kita terima adalah hidup manusia tidak lagi dianggap mulia ketika membunuhnya menjadi berguna”. Seorang pembunuh berantai mungkin dalam masyarakat kita pantas dihukum mati, karena dinilai tidak sesuai dengan kebiasaan yang tertanam dalam masyarakat itu sendiri. Tapi dengan membunuh sang pembunuh kita tidak sedang menegakkan keadilan tetapi kita sedang melakukan pembunuhan lainnya. Pembunuhan dengan legitimasi.

Manusia menjadi tidak berguna saat hukum telah dianggap sempurna. Sebuah wacana anti otoritarian yang cukup komprehensif di tengah kehidupan yang tergambar dalam sepenggal lirik Homicide, “Ditengah hidup yang menyerupai rutan yang kehilangan sipir, mengepal jemari hari ini sesulit membongkar jaringan pembunuh Munir”. Sadar atau tidak kita sedang merakit neraka bagi diri kita sendiri.

Dan sungguh benar bila tulisan saya ini masih jauh dari sempurna.