Kemarin saya terjebak dalam dilemma tentang sebuah konsep yang sungguh merupakan misteri yang tetap asing dan sulit untuk ditebak kemana akan mengalir.
Ya, hanya menikmati sisa kehidupan yang tinggal menunggu akhir diujung perjalanan.
dua minggu terakhir ini ada segumpal darah yang menyeruak dari dalam kerongkongan saya, entah apa itu, yang pasti mungkin bukanlah sesuatu yang biasa.
tapi biarlah, biar semua binasa mungkin bersama jiwa yang semakin letih mencari persinggahan setelah menyusuri trotoar yang penuh dengan debu aspal dan materi.
Sekedar mengingat malam-malam yang penuh cahaya dan gemerlap kota tanpa jera.
Untuk semua yang terjebak dalam penjara pikiran...
Detik demi detik berdetak entah semakin cepat atau melambat…
pastinya hidup (secara sempit ya!!!) merupakan “suatu” masalah besar…
kenapa saya mengatakan “suatu” dan Bukan “sebuah”,,,
karena suatu Menurut saya adalah hal yang masih sulit untuk ditebak kemana arusnya…
seperti saya yang suatu waktu bisa menjadi aku,kamu,kau,,kami,kalian atau bahkan menjadi mereka yang juga saya ini bagain dari sebuah “massa”…
diotak ini banyak pula hal yang secara “massal” menjelali otak seperti orang yang antri minyak tanah ditengah kelangkaan akibat konversi ke bahan bakar gas…
bentuk kepala saya sebenarnya cukup kecil kalau dilihat dari badan saya yang cukup menjulang ke langit,,,
ya silahkan saja tertawa atau mencibir,,,
kira-kira mungkin mulai dari enam atau tujuh tahun kebelakang saya sering mendengar orang banyak berkata tentang saya saya mereka ada dibelakang saya atau ketika saya baru melewati mereka…
manusia sungguh sangat perhatian dalam kehidupan social pada manusia lainnya…
“busyet, tinggi banget nih orang”,,”masya’allah,, tinggi banget mas!!”
saya sih ga terlalu perduli…
nah pusingnya lagi saya ini termasuk temperampental dan suka moody kalo anak gaul sekarang bilang…
yang whatever people say lah,,,
heran juga sewaktu nonton Televisi,,,banyak acara plagiat yang muncul satu persatu…
media sekarang seperti hama
,,,mati satu tumbuh seribu,,,
alangkah baiknya kalau pemerintah menerapkan hal yang sama,,,
rakyat lapar mati satu tumbuh seribu…
aparat korup satu korup seribu,,,
diare muncul satu tumbuh seribu…
busung satu busung seribu…
ujung-ujungnya nanti ada satu nyawa harganya cuma seribu…
merdeka atau mati semestinya bisa gaung lagi suaranya zaman sekarang…
merdeka dari pemerintah???apa mungkin??
Kan presiden kita yang pilih,,,itu juga kalau pembaca Bukan golput…
Apa rela “dijajah” pemerintah??
Kalau rela, nanti banyak lagi yang mampus karena busung lapar,,diare dan rawan pangan,,
Kalau benar sudah merdeka buat apa lagi ngantri minyak tanah??/
Rakyat kecil saja masih miris,,,kasarnya boro-boro mau mikirin pilkada,pilgub,pilpres,,,wong perut sekarang aja ga ada jaminan dari pemerintah…
Zaman edan,,,Negeri edan,,,rakyat edan,,,saya juga jadi edan…
Siapa yang waras??
Lagi-lagi merdeka atau mati…
Sedikit revolusi mungkin perlu untuk negeri ini ya…
Mulai saja dari diri masing-masing,,,
lalu mulai dari keluarga,,,rt,,rw,,camat,,lurah,,kabupaten,,kota,,provinsi,,Negara…
cape
deh
!!! Prosesnya lama juga ya…
reformasi ujung-ujungnya bikin pusing juga
kan
,,,
banyak demo ga ada solusi,,,
Demokrasi cuma jadi tameng dibalik salam tempel para penikmat budaya instant…
Fiuuuh,,,,
Sungguh benar saya senang sekali menjadi orang Indonesia,,,
Banyak kekonyolan yang selalu muncul,,,itupun dalam interpretasi saya sendiri…
Ya mau apa lagi,,,wong semua juga udah edan…
Hari berakhir tanpa titik,, masih menyisakan banyak cerita untuk didengar dan dilihat…
hanya saja saat mata terpejam,,dunia menjadi lebih luas untuk dinikmati…
sedikit jernihkan pikiran dari ragu,,, mencoba menjadi lebih pasti sebelum mati…
memenggal distorsi realitas dalam secuil sajak kehidupan…
belajar dari kehidupan nyalakan pijar warna yang redup…
dengan senyawa cinta dan kedamaian yang tetap masih terlihat utopis…
belum terkikis bersama kesombongan dan persetan cannabismu…
kau katakan persetan pada diriku…
kawaan,,,biarkan jalan yang tentukan siapa yang akan meneguk manisnya seisi cawan…
Menghela nafas setelah kuhirup udara sedalam paru-paruku menampung…
jantungku masih saja berdetak tidak karuan,
menanti tarian jemari sang asmara menjentikan mimpi dan sadarkan kalau ini tidak nyata…
bodohnya,,,masih saja diam dan enggan berlari mengejar pucuk mawar yang menanti dalam gerbong tua…
menepikan jiwa pada sisi jalan yang belum juga usai kususuri…
menanamkan janji hingga jemariku tak lagi dapat menghitung,,,
puluhan janji yang tertanam membuat pikiranku terlalu rimbun dan entah kenapa juga bisa terlihat seperti si bodoh yang bingung memilih benar atau salah…
lalu aku teringat akan sepenggal suara nyanyian lama “perjalanan ini trasa sangat menyedihkan, sayang engkau tak duduk disampingku kawan”…
masih ada bangku kosong yang kuharap terisi sebelum aku mulai kembali tak terkendali…
tak terkenali oleh kalian dan mereka yang entah siapa selalu saja menilai dari otak yang kumuh… satu persatu setiap bagian dalam hidup kini semakin asing,,,
ya ,, mungkin aku terasing karena sikapku sendiri,,,
skeptis,,,
membunuh pertanyaan,tapi aku menjauhi sikap sinis,,,
sedikit sarkasme hanya sebagai penyedap bila otak kawanku itu mulai bebal atas kebenarannya sendiri…
stop,,,
mari kita kembali lagi pada konteks yang masih terbuka untuk apapun dan siapapun untuk membantah dan setuju…
lirikal yang tertulis tanpa arah ini adalah sebuah pilihan yang kubuat…
apa yang kulakukan hari ini adalah dari pilihan yang aku buat…
untaian alphabet a-z ini adalah teman setiaku yang selalu menjadi komposisi setaraf dengan harmoni dalam pikiran ku…
kembali pada sepenggal suara nyanyian lama tadi “perjalanan ini trasa sangat menyedihkan, sayang engkau tak duduk disampingku kawan”…
tak peduli kawan atau lawan,,toh semua kita ini sama pada hakikatnya manusia yang hidup dalam lumpur dosa atau hidup dalam kemewahan meneguk piala berisi air suci dari surga…
mengepal jemari untuk meluluhlantahkan istana yang terbangun sekian lama dengan tekun, keringat dan darah,,,peluh dan tangis,,,hampa dan iba…
sekejap saja hancur oleh ego kaum yang merasa benar…
yakin pada yang kubaca tentu terlalu naïf,,, yakin pada yang kulihat tapi ternyata hanya sekilas,,,
toh biasanya yang menang itu benar dan yang kalah itu salah…
nah sekarang kita putar balikkan,,kalian yang memilih ini benar atau salah…
karena hidup dan perjuangan itu bukan kerja bakti bung !!! …
apakah setuju kalau yang kalah belum tentu salah,,,
apakah setuju kalau yang menang belum tentu benar…
sebenarnya saya ini berusaha menjauhi agama dari konteks ini,karena rasanya saya yang “aku” ini tidak begitu paham,,
hanya saja saya lebih suka berfilsafat tentang hal yang mungkin menjadi kemakluman bagi sebagian orang…
oke,,,
masalahnya disini adalah benar atau salah itu relative,,,
tapi kita juga harus memiliki sebuah patokan yang tidak mudah dicabut…
tapi Bukan berarti pembenaran kita adalah kebenaran yang hakiki,,,
sekarang kembali menjadi bingung,,,
antara keberanian dan kebodohan itu beda tipis Bukan??
Saya tidak pernah setuju jika kekerasan dibalas dengan kekerasan,,,
Tapi ada teman saya yang bilang jika kekerasan kadang merupakan jalan terbaik ketika semua kemungkinan variasi diplomasi secara damai telah habis…
Tanpa merujuk pada kaum tertentu,,,saya hanya menunjukkan inilah kita,,manusia yang sesungguhnya…
Yang terkadang hidup diatas penderitaan orang lain…
Jangan katakan kalau aku ini orang pesimis,,, Saya hanya netral saja,,,tapi Bukan berarti tidak punya sikap…
Hanya saja saya ini pengecualian dari benar atau salah,,,
kalah atau menang tanpa mempertentangkan setan dan malaikat,,,
tapi saya Bukan tuhan…
Banyak dari kita yang terpenjara oleh jaman,,
kemajuan yang diutamakan adalah persamaan ideal dari persepsi atas suatu hal…
tidak ada yang mau ketinggalan sedikit saja tentang informasi yang menggerayangi akal sehat dengan kamuflase para kaum munafik yang bersembunyi balik layar kaca…
betapa naïf diri ini merindukan kemerdekaan atas jiwaku sendiri,,,
ketika aku dan mungkin juga kita terjebak dalam dilemma antara kesempatan dan dorongan atas materi duniawi…
aku tak perlukan doktrin dari manapun,,,Bukan seperti rekayasa anal alien oleh para skizofrenia…
saat kita merasa waras bisa jadi sebenarnya kita gila dan menjadi tidak nyata…
mengapa??karena perlu juga kita ketahui bahwasanya manusia tidak ada yang sempurna…
tapi sebelum kita mempertentangkan antara hitam dan putih,,atas dan bawah,,,kepala dan kaki,,,
sudah selayaknya kita harus mempunyai suatu keyakinan kuat terhadap hal yang akan benar-benar kita percaya…
sisifus mungkin memang yakin membawa batu keatas bukit,,,
namun kemudian batu itu menggelinding kembali kelembah…
lalu bagaimana kita mengakhiri hidup dan ujung nalar dengan filsafat murni dari dalam diri…
bagaimana kita bisa berakhir tanpa topeng dan mengakhiri hidup tanpa sia-sia…
temukan jalan kita masing-masing,,,
ya sebuah titik keruh diotakku mendominasi diri ini seperti pion dalam drama permainan monopoli…
aku mencoba melepaskan nalar dari religi karena pasti jika tercampur aku kelak akan hancur…
apakah baik menjadi pasif???
Tidak. Kelopak matahati dalam jiwaku masih enggan tertidur,,,
aku amat menikmati setiap jengkal dan setiap langkah kaki menapaki indahnya dunia…
Menikmati aurora dari dalam mimpi,,,mengecap keadilan sebagai suatu yang absurd,,,
Hukum yang serba abu-abu,,,kehancuran yang berwarna hitam…dan perjuangan yang berwarna merah…
Lalu warna apa lagi yang akan kita berikan pada arti hidup sepenuhnya???
Aku hanya di pejalan kaki yang masih menapaki jalur hampa,,,
mengisi kekosongan dengan riuh dalam kepala yang kelak mengajari aku menjadi seperti ini…
Aku adalah bayanganku,,,dan bayanganku adalah milikku,,,
Tak akan ada yang bisa membunuh sebuah kesesatan tanpa control ini,,,
Kesesatan yang kuanggap benar,,,benar yang kuanggap sesat dan salah yang kuanggap nyata…
Realitas yang selalu terhempas,,,rata dengan tanah,,,menjadi api arogansi manusia yang bersembunyi balik kesucian dan atas nama kebenarannya sendiri…
Aku tak ingin menyulut api,,,tapi tidak juga aku mau padamkan api yang membara…
Selalu ada kambing hitam yang terseret dan ini sangat mudah diprediksi,,,
Realitas adalah gerilyawan yang baru bisa tertawa setelah akhir cerita berujung dengan tersungkurnya si setan yang menurutnya patut dibasmi…
Realitas hanya menjadi pembenaran atas suatu kaum yang tidak akan berujung pangkal dengan masalah yang usai…
Konflik adalah pasti,,,seperti manusia yang pasti akan mati…
Aku lelah dengan pola yang ada dalam perkotaan,,,
dialektika menjadi parody dan wacana yang tak pasti kala sebagian dari kami menatap dunia dengan sebelah mata…
menari dengan tawa palsu dan kehampaan yang sebenarnya merajai dunia…
kita semua,,ya,,mungkin semua terjebak dalam hidup yang rumit…
masalah sebenarnya hanyalah seperti gumpalan buih sabun yang hanya muncul sekejap lalu pergi…
perjalanan kini semakin panas,dan aku si pejalan kaki merasakan lagi ampas neraka di trotoar dan sudut sempit kota yang kumuh…
menemukan diri terjebak dalam kubangan pasir hidup zaman dan menanti dunia untuk berubah…
haha,,betapa naifnya diriku ini…
tentu saja kita terus akan menikmati tekanan hidup yang semakin ganas,,,
bagai tumor yang menggerogoti jiwa-jiwa yang rentan dalam emosinya sendiri…
berharap untuk hidup bebas,,tapi ternyata malah mengecap manis pahitnya derita saat berjuang…
ada baiknya jika dalam hidup kita melihat sesuatu dari segala sisi,,sebelum meyakini apa yang akan kita percaya…
bahkan kalimat ini mungkin hanya teori dari sebuah alam yang tak pasti…
yang kutahu,,hidup Bukan hanya untuk sekedar bernafas…
indah alunan musik menemani gemerlap mendung sore ini…
menyematkan pikiranku sejenak dan mengirup nafas segar disertai pantulan diri dalam kamar…
bayangan yang setia menemaniku membuat diri ini percaya setiap manusia pasti memiliki sisi lain…
coba kau katakan padaku bagaimana cara menilai benar atau salah,,,
karena tidak ada benar atau salah,,,
yang ada hanya realita…
maka bisa kukatakan tak ada seorang manusia pun yang bisa menjadi sempurna dan realistis,, jika kalian tidak bisa menerima kontroversi dan persilangan perbedaan yang ada…
otakku lebih rumit dari rumus-rumus matematika,,,
mencoba membebaskan jiwa dan pikiran agar lebih jernih,,,
sebuah paradigma absurd yang kuhasilkan dari berpikir yang tanpa arah namun selalu mengarah pada suatu ujung pangkal suatu masalah,,,
terkadang aku bisa menjadi seorang anti social dan terkadang aku menikmati kehidupan dalam masyarakat…
jiwa ini bagai dua sisi mata uang dalam sebuah koin,,, atau bisa juga dikatakan bagai pedang,,,di satu sisi jiwaku menjadi tajam,,,
di sisi lain jiwaku menjadi pegangan bagi sang pencipta…
mengokang amarahku menjadi buih pikiran yang kelak akan hilang saat sukmaku terbang menikmati arti kebebasan yang sebenarnya…
tak perlu plato atau siapapun untuk mendoktrin otak ini,,,
karena hanya ada diri ini yang menari dalam setiap angan dan pikiran…
maka biarkan aku menyelami filosofi liar yang terlahir dari akar pikiranku sendiri…
Sore itu langit begitu cerah, senja di utara sama cantiknya dengan mimpi yang tersematkan…
