Skak Mat, Bung!!! Pematahan Usaha Pematahan “Keyakinan”
dan yang Saya Yakini. 5-0
Sial. Pagi ini saya kembali meradang. Bahkan lebih parah dari sebelumnya.
Fasis tetaplah fasis, dan saya masih kurang paham apa itu fasis walaupun sudah baca buku Paul Wilkinson “New fascist” yang lama dipinjam teman saya dan belum kembali. Dari hasil debat kusir -selama sekitar satu setengah jam- dengan teman saya yang mengaku telah mematahkan keyakinan saya dengan segala macam hal yang dia anggap “benar”, justru logika yang saya tawarkan telah lebih jauh meninggalkan apa yang dia yakini dan kalau dia masih waras, mungkin dia akan sadar kalau keyakinannya itu telah saya patahkan dan saya buat hancur lebur.
Kali ini saya mencoba mengembalikan dan bermain dengan “keislaman” saya, mungkin menuju sufi. Entahlah, saya ini masih bodoh dan masih harus disebut bodoh agar saya termotivasi untuk mencari lebih banyak ilmu. Tapi teman saya sangat –amit-amit- lebih bodoh lagi. Aargh!!!
Akan saya sampaikan secara singkat saja, karena terlalu mulia rasanya saya menuliskan tentang debat kusir ini.
Mencoba memaknai Adam dan Hawa saja, maka itu merupakan pijakan pertama sebelum berkata manusia bergolong-golong. Manusia ini kan punya otak, dalam otak ada akal bukan?? Lalu apa gunanya akal kalau tidak dipakai??
Dulu adam tinggal di suatu tempat yang luar biasa sempurna dan terlengkapi segala macam kebutuhan, tapi ada satu hal yang dilarang di sentuh, yaitu buah kuldi. Muncul hawa sebagai representasi nafsu dan gairah dan kuriositas/keingintahuan yang meminta adam mengambilkan buah “terlarang” tersebut. Tuhan murka. Maka adam diturunkan ke bumi beserta hawa.
Bumi ini jelas adalah neraka, sebuah azab, hukuman bagi hambanya yang melanggar perintahnya. Tapi perilaku ini sekaligus merupakan sebuah aksi revolusioner pertama sejak keberadaan umat manusia. Yang bahkan sangat sederhana, “Adam memetik buah”.
Apakah mereka menikah? Siapa penghulunya? Tentu pertanyaan saya ini terkesan sangat bodoh bagi orang yang tertutup pemikirannya. Tetapi makna yang kita dapat dari perilaku adam adalah sebuah hal yang telah membedakan kita dengan binatang, yaitu akal dan pikiran.
Dalam segala kemewahan (sebut saja surga) dan apapun tersedia, sudah jelas tidak akan ada motivasi untuk melakukan apapun. Seperti pemberian nilai lebih atau komoditas mistis atas suatu merek dalam masyarakat sekarang. Maka otak menjadi sangat mubazir.
Kemudian. Di bumi mereka beranak pinak, saya masih kurang paham bagaimana bisa muncul ras kulit putih, melayu, tionghoa, negro dan lain-lain. Dari hal ini saja sudah jelas jika manusia akan muncul bergolong-golong. Lalu apa masalahnya?? Lalu dia bilang kalau dia tidak mau mengikuti orang kebanyakan, toh padahal dia juga telah mengikuti jalan orang kebanyakan dalam “kaum”nya. Dia melanjutkan bahwa siapa bilang adam itu manusia pertama? Saya juga tidak tahu. Dan lucunya, dia juga tidak tahu.
Seperti bertanya lebih mana telur atau ayam? Kemudian muncul teori evolusi Darwin di kepala saya. Apa memang dulu nenek moyang kita sebangsa monyet? Bahkan monyet masih lebih pintar dalam menjalani hidupnya.
Dalam fase hanya ada adam dan hawa saja, norma belum terbentuk, struktur masyarakat belum terbentuk, agamapun (mungkin belum ada, karena katanya Rasullulah membawa penerang dengan quran sebagai cahaya). Saya tekankan padanya bahwa saya tidak ragu satu apapun pada Al’Quran. Tetapi masalah muncul pada saat pemaknaan. Lagi-lagi itu gunanya akal bung!! Toh, anda juga bergolong-golong.
Teman saya berkata, lo yakin ga jadi penonton atau pelaku dalam dunia? Saya jawab tegas, “saya pelaku!!”. Saya sudah membebaskan diri dari agama, karena keyakinan hanya milik saya saja. Keyakinan anda ya terserah anda. Yahudi juga kan anak cucu adam dan hawa. Lalu apa masalahnya? Hanya persepi. Kalau inginkan perdamaian, maka lakukanlah perang dan pembantaian umat manusia, kemudian bunuh dirimu sendiri. Tapi sayang saya hanya bagian super kecil dari dunia.
Back to the point coy!! Lalu saya bilang, “maaf, buat saya, kamu itu masih bodoh! Seperti orang tingkat S3 mengajar tesis atau disertasi pada anak kelas 1 SD”. Terpaksa saya harus membawa-bawa syeh siti jenar, walaupun serat siti jenar masih butuh kritik dan pertanyaan dari kita (untuk yang sudah membaca). Dalam pandangan siti jenar, kehidupan ini adalah kematian, nanti setelah apa yang orang sebut “mati”, barulah manusia hidup dalam kehidupan abadi. Syariat islam belum terjadi di dunia kematian, tapi di dunia kehidupan nanti, yang orang sebut sebagai kematian.
Dia bertanya lagi, “apa kamu yakin bahwa ajaran siti jenar dan pandangan kamu benar?”. Saya jawab, “saya tidak melegitimasi, tidak berkata pembenaran tentang ajaran yang ada, karena kalau saya sudah berkata “benar”, maka saya sudah tidak lagi berpikir, dan sungguh sangat percuma tuhan menciptakan akal bung!”. Bukankah kita di perintah untuk, “iqro” yang berarti “baca”. Bukankah itu berarti membaca adalah perintah. Berilmu juga berarti merupakan perintah. Kalau tidak berilmu berarti tidak menjalankan perintah. Dosa? Entahlah. Tuhan pun masih merupakan misteri.
Disini dia berkata sangat fatal dan terjadi pembalikan pematahan keyakinan. “semua orang itu tidak mengerti!”. Lalu saya berkata, “kalau semua orang tidak mengerti maka, kamu juga tidak mengerti donk? Lalu untuk apa kita diskusi sekarang? Saya lebih setuju kalau kamu mengubah kalimat tadi dengan –orang jaman sekarang jarang yang mengerti-”. Kalau dia masih memegang teguh kalimat pertamanya, maka orang yang mengajari dia pertama kali tentang “agama” dan “keagamaan” itu pun tidak mengerti, seperti orang pander belajar melihat gajah dari orang buta.
Kesimpulannya kemudian dia berkata, “Kalau saya lanjutkan, saya takut mematahkan keyakinan anda!”. Saya menjawab lagi, “justru terbalik kawan, saya yang mematahkan keyakinan anda!”. Sayang kemudian telepon terputus, dan sayangnya juga pulsa saya habis, jadi tidak bisa lagi sms seorang gadis yang sedang beranjak dewasa yang marah karena smsnya tidak saya balas. Dan parahnya lagi dia sudah punya kekasih hati hahaha…. Sial!!
Dan nyamuk masih bergelut dengan kibasan tangan saya. Sayangnya saya bukan penggebuk nyamuk, dan bukan pula pemukul lalat-lalat pasar. (sedikit mengutip Nietzsche --kalau boleh hahahaha…)…
NB: Ayo ah curhat… sudah lama ga curhat nih!!! Tag donk kalo pada punya tulisan hehehe… Asu, guguk, anjiing…
Apa ini termasuk subversive? Tabu? Atau apalah namanya?
Yang saya yakin, tuhan itu tidak bodoh. Dan dia sangat suka untuk bergurau. Jika tidak, mana mungkin percakapan seperti ini terjadi.
Maaf, tanpa bermaksud menyinggung hal-hal SARA. Tapi ini butuh perenungan kawan!!!
Sebuah Kehidupan Nyata: Membongkar kerangka moralitas, kebinatangan dan kebusukan!!!
Senin 23.22-00.55.
Hingga malam perenungan ini datang, saya telah banyak mengkonsumsi ratusan teks dalam halaman-halaman dari beragam buku-buku, artikel, puisi, prosa, literatus ideologi hingga daftar isi kandungan sebuah produk sabun, odol dan shampoo.
Kita sering berfikir kalau kita ini pintar. Sungguh kita memang sering brsembunyi dan bermain dengan kemunafikan. Bergantian mengenakan topeng yang berbeda setiap hari.
Langit masih di atas kita kawan!! Bumi juga masih kita pijak. Saya ini hanya binatang yang terpuruk di trotoar. Ya, manusia memang binatang. Terkadang manusia menjadi seperti Tumbuhan, karena memang banyak bulu yang tumbuh ditubuh kita, belum lagi pertumbuhan bagian tubuh yang lain akibat hormon.
Sebagian dari kita tumbuh lebih cepat dari yang lainnya.
Teman saya sangat canggung dengan Pembina skripsinya, karena dia memandang kalau sang dosen pembimbingnya itu lebih pintar darinya. Saya katakan padanya, “Semua orang itu pintar. Sama saja. Dia lebih pintar karena dia telah mendapat banyak ilmu daripada kita. Bahkan tanpa sekolahpun kita bisa sepintar dia andai saja kita mau membaca dan menggali, mencari tahu ada apa saja sih di dunia ini”.
Dia merenungkan perkataan saya. Sayapun tak kalah bingung. Darimana kebijaksanaan itu datang? Sedangkan saya tidak pernah berada dalam situasi yang dia hadapi. Ya Itulah manusia. Itulah keajaiban hidup. Akal!!
Kita semua memang sangat bangsat. Manipulatif. Kau juga bangsat kawan, sama seperti saya. Hanya saja mungkin kebangsatan kita berbeda sebab musababnya.
Kebangsatan saya adalah seringnya saya mengganggu hidup orang. Mengajak diskusi tentang sesuatu yang tak pernah mereka pedulikan, bakhkan mengulik masa lalu yang pahit sekalipun saya tega. Hiraukan saja saya. Annoying. Memang sungguh mengganggu. Menyebalkan. Tapi saya senang dan bahagia menjadi si bangsat ini. Karena mungkin dari diskusi itu pikiran saya malah menjadi sederhana. Toh dunia dan kehidupan ternyata berjalan baik-baik saja, tidak serumit dalam kepala saya. Memang akan sangat rumit jika kita terlalu berlebihan merencanakan sesuatu tanpa realisasi. Sebuah representasi jika manusia ini sangat rapuh dan linglung kadangkala.
Ya biarkan saja setiap orang memilih jalan hidupnya. Saya tidak berjalan di lintas kiri maupun kanan. Di tengah juga saya masih ragu, semua terlihat abu-abu. Saya tidak pernah mengklaim diri yang paling sempurna dan paling memiliki kebenaran. Karena kebenaran tunggal yang absolute itu hanya milik sendiri. Dialektika kebenaran dan keadilan tidak akan menemukan titit temu, karena realitas itu subyektif. Kalau kata Hadi di profile Facebooknya, Religion: Deeply Personal. Bravo kawan!!!
Saya tidak ingin ketika mati nanti saya dikenang sebagai orang yang mulia. Karena seperti sudah saya katakan tadi, saya ini hina, kotor, nyaris tidak bermartabat. Nanti juga kalian tahu. Tapi saya tidak hanya membongkar borok sendiri, melainkan (mungkin) borok kalian juga haha… Masih bernyali
Laki-laki. Dajal dan onani. Oral, anal, menjadi alat masturbasi. Siapa yang belum pernah melakukannya? Itu baru dosa besar. Jahanam kalian.
Sebidang kotak hitam menatapku. Saya dan kotak itu saling menajamkan pandangan. Dalam genggaman saya ada sebuah remote untuk mengendalikan mana yang ingin saya lihat. Kami saling menghipnotis. Tapi dayanya lebih kuat dari yang saya punya. Dia memang sumber segala sesuatu. Namun kurang ajarnya, dia tidak memiliki lembar kedua. Hanya selembar narasi yang dia muntahkan dan dia paksakan untuk saya terima dan saya lahap. Mentah-mentah siap atau tidak harus saya lahap. Jahatnya lagi, dia membawa oleh-oleh ratusan pencitraan produk, yang bergentayangan seperti hantu, pada jam tayang utama. Saya jadi rindu sinetron jadul berjudul “Noktah Merah Perkawinan” yang dibintangi Cok Simbara, atau “Tersanjung” yang fenomenal.
Dimanakah hasrat saya? Dia hampir selalu diam dan menangis, terpuruk di ujung lorong ditengah cahaya kegelapan. Kata embah saya Albert Camus, orang yang kuat itu tidak takut untuk meneteskan air mata. Tapi karena sering menangis dan mengeluh saya justru dibilang cengeng. Siapa yang salah? Mana yang benar? Masyarakat memang tidak tahu apa-apa tentan saya. Mereka menjadi hakim dan terkadang menjadi tuhan.
Sungguh kebebalan itu entah berasal darimana sumbunya. Ingin rasanya menjadi arsonist, saya bakar setiap pemukiman, dan setiap orang, kakek-nenek, pria-wanita, anak-balita, bahkan saya bakar juga orang tua saya. Kemudian saya bakar diri saya sendiri. Kalian lebih baik mulai waspada.
Saya disebut kafir, musyrik oleh mereka. Siapa mereka? Jelmaan tuhan? Hah, persetan. Saya adalah hamba bagi diri saya sekaligus tuan (Bukan Tuhan) bagi diri saya sendiri.
Persahabatan dan pertemanan itu selalu berdasarkan kepentingan kata Reza teman satu grup, (mungkin Boy Band) debat dan diskusi saya. Benar juga koq. Lagi-lagi embah saya Albert Camus mengatakan jika kita ini sebenarnya memperbudak teman dan sahabat kita. Kita meraih sesuatu dengan cemerlang dimana teman kita hanya menjadi penonton. Mereka hanya sekedar pemenuh hasrat bagi kita. Misalkan: Ketika saya sedang kesepian, saya selalu mencari teman untuk bercerita tentang apapun dimana saya selalu menjadi Pusat pembicaraan. Ya, mereka hanya pemenuh hasrat. Baru tahu
Dalam melihat kesalahan fatal. Kadang kita bisa memaafkan seseorang atas kesalahannya. Memang benar. Tapi dalam masyarakat kita justru banyak yang mampu memaafkan tapi belum tentu bisa melupakan kesalahan seseorang tersebut. Dendam kesumat? Saya juga sering seperti itu. Tidak baiklah bagi kesehatan mental, dilihat dari sudut pandang psikologis.
Apalagi jika kita bicara tentang cinta. Sebuah omong kosong besar. Narasi kepalsuan. Di masa sekarang arti cinta telah tereduksi menjadi setitik atom, Bukan semakin bermakna, tapi semakin nyaris tak bermakna lagi. Romeo dan Juliet harusnya menjadi cermin, tapi kini menjadi komodita. Kalau kamu cinta pasangan kamu, maka kamu harus mau melakukan apapun, misal: membelikan berlian, perhiasan. Saat ini memang cinta harus penuh modal. Romantisme mati di hajar oleh realisme. Memang dalam masa seperti ini mutlak kita harus melakukan kompromi, namun tanpa menjual jiwa kita. Cinta itu perasaan, tapi dengan eksistensi sebagai manusia, kita butuh makan, Bukan butuh cinta untuk hidup. Ah, entahlah.
Saya
Saya sangat menghargai perempuan. Tapi perempuan hanya wadah eksploitasi hasrat binatang para lelaki saja. Cabul. Ya kita semua cabul. Pasti ada diantara kalian yang menolak untuk mengaku. Haha… coba saja saat kalian menikah dan menikmati malam pertama, atau saat kalian menikmati apa yang disebut sebagai perzinahan dalam konteks agama, atau saat kalian menggerayangi tubuh perempuan-perempuan kalian. Betapa empuknya payudara itu Bukan? Masih ingat perempuan mana yang kalian sentuh pertama kali? Indah rasanya saat pertama kali menemukan puting atau menyusuri bulu-bulu lebat diantara Vagina. Kemudian wanita itu mulai membuka retsleting celana kita, memainkan persneling, menjilat dan bahkan melakukan hal-hal yang ajaib. Kadang mendesah, atau mendapati celana dalam kita basah. Ini Bukan bicara porno, asusila, atau kata-kata tak bermoral. Saya hanya menulis secara lugas, blak-blakkan saja. Tak perlu malu. Toh kita memang biadab hahahaha… Orang tua kita juga melakukannya. Kalau tidak begitu bagaimana mungkin kita terlahir.
Justru moral itu adalah kemunafikan. Wong dibelakang moral itu kita sering berfantasi dalam kepala kita
Hidup ini memang panggung sandiwara. Kita memang lakon yang sungguh sialan mampu menipu banyak orang. Kita selalu menampilkan diri sebagai pribadi yang baik di luar, secara fisik, menggunakan kata-kata yang baik seakan-akan kita ini orang paling beradab dan terpelajar. Dahsyat. Betapa naifnya. Sungguh penipu, pendusta. Laknat!!
Masih jauh lebih mulia seorang maling ayam yang ketahuan mencuri, diarak masa, dihantam hingga babak belur, kemudian disiram minyak tanah dan dibakar hidup-hidup. Pembakar itu yang biadab. Pencuri itu justru orang yang sangat jujur, mengapa dia mencuri? Ya mungkin dia jarang makan daging, dan sehari sebelum pencurian itu terjadi anaknya yang berusia 6 tahun ingin merasakan nikmatnya Mc.D atau KFC tapi si ayah tidak punya uang hingga akhirnya mencuri ayam dan membuat ayam Mc.d/KFC home made. Masyarakat menganggap dirinya beradab ketika mereka membakar maling. Ketotolan yang bermuara pada akal yang tak pernah digunakan.
Untuk membuat kue tart atau brownies, kita tidak perlu menggunakan akal, cukup saja membaca daftar resep dan kemudian menyatukan bahan yang ada. Justru yang memakai akalnya adalah yang pertama kali menciptakan resep itu.
Seperti pelajaran yang kita ambil, mungkin, dari berbagai literature, doktrin hingga ideology yang rumit dan yang hanya bisa memecah belah saja kerjanya. Kita ini plagiat, percaya atau tidak terserah pada kalian. Maka coba gunakan akal!! Persatuan tidak berakar dari keberagaman.
Puas rasanya menertawai diri sendiri. Maaf bila diantara kalian ada yang tersinggung, itu mungkin karena kalian tidak dapat menerima kebinatangan dalam diri kalian sendiri.
Saya sempat tersentil dengan saudara Moko pada notesnya. Ya karena saya tersentil, berarti saya sulit menerima realita yang ada. Kita memang hidup saling tergantung satu sama lainnya. Ya kalau dalam pelajaran sosiologi atau antropologi juga kita telah diajarkan kalau manusia adalah makhluk social. Bersimbiosa, beradaptasi dan kadang juga saling meniru, imitasi. Tidak ada lagi yang asli. Untuk apa berjuang menjadi sesuatu yang asli dan baru jika disekitar kita telah penuh dengan imitasi? Kepuasan jiwa jawabnya? Absurd sekali yang kalian katakan kawan!! Sedangkan kita sering mengidolakan seseorang bahkan tuhan sekalipun. Tak perlu lagi malu menjadi imitasi, toh itu hanya kegiatan meniru, Bukan sesuatu yang palsu. Justru kepalsuan itu jika saya, kalian dan juga mereka merasa sebagai orang yang paling suci di dunia.
Tapi percaya atau tidak, tulisan saya ini asli saya yang membuat. Tapi isinya? Tak perlu dipertanyakan lagi, sebut saja ini hasil saduran atau resensi dari seluruh pengaruh teks yang pernah saya baca seumur hidup saya.
Fase norak sering juga saya alami. Ajaibnya sampai saat ini saya masih norak.
Senang saat mendapat wacana baru, padalah saya masih kurang mengerti apa yang dibicarakan dalam wacana itu. Otak ini hanya berisi sampah masa lalu yang terbawa melalui teks yang sialnya isi, makna dalam teks-teks dari beberapa pengarang “si biang sial” itu masih sangat relevan untuk menjadi perdebatan.
Manusia itu bunglon, kadang menjadi buaya.
Nikmatnya meracau dimalam hari ini.
Tapi bukankah hal-hal yang saya tuliskan bisa kalian dapatkan dalam diri kalian sendiri?
Haha… Silahkan saja jika kalian ingin membalas dan menghantam kebinatangan, kebiadaban, kebangsatan, kedunguan, ketidakberadaban, serta ketiadaan moral dalam diri saya ini. Toh, kita semua memilikinya jauh didalam diri yang muncul dipermukaan social. Bangga juga menjadi seorang skizoprenia. Narcissus mati ditangan orang-orang seperti saya. Mencoba bersahabat dengan Caligula sang maniak. Tapi saya lebih suka menemani Sisifus ke puncak bukit sebelum kemudian ajal menjemput. Mampus saja!!!
Masih berharap menjadi seorang arsonist. Mulai mengumpulkan mesiu, sumbu dan wadah hingga saya rangkai dalam kalimat yang berubah menjadi ranjau.
Sebuah karya meracau yang menakjubkan Bukan? Semoga saja.
Silahkan bantah!!!
Jakarta sore itu terlihat murung. Langit selatan tampak kelabu. Hari ini seakan kembali menghanyutkan jiwaku untuk terbangun dari lelap mimpi indah selama satu bulan belakangan. Di peron Stasiun UI aku menunggu kereta menuju Bogor bersama kedua temanku yang sibuk berdiskusi, sedangkan aku sibuk membuka lembar demi lembar buku “Pengakuan”, bukan suatu kebetulan saat lewat di salah satu toko buku di samping stasiun UI aku menemukan buku kumpulan cerita pendek Anton Chekov seorang cerpenis dari Rusia yang karyanya dinilai fenomenal oleh beberapa orang.
”Tik.. tik... tik...” Perlahan hujan menitik. Gerimis. Di peron menuju Jakarta terlihat sekumpulan mahasiswi menertawakanku, mereka memandang aneh. Tidak ada salahnya bila kita membuang sampah pada tempatnya, walaupun sampah itu kecil dan tempat sampah berada sekitar limabelas langkah saja.
”Jalur satu dari utara akan segera masuk KRL Ekonomi AC tujuan akhir Bogor dengan harga karcis Rp. 5.500, sedangkan KRL Ekonomi Biasa tujuan akhir Bogor berangkat Juanda karena mengalami gangguan.”.
Pengeras suara menyampaikan informasi dari petugas stasiun. Terlihat wajah-wajah kecewa, tetapi ada beberapa yang menukarkan tiketnya dengan tiket Ekonomi AC.
Kereta yang akan ku tumpangi pun datang. Perlahan melaju, melaju dan meninggalkan stasiun, menuju perhentian-perhentian berikutnya. Penumpang naik dan turun, turun dan naik di stasiun berikutnya. Aku memandangi langit dari kaca jendela kereta, ya, kereta ini berjalan sangat cepat, sama cepatnya dengan perkembangan zaman sekarang ini. Aku melihat rumah-rumah berdesakan, banyak lingkungan kumuh di pinggir rel.
”Brak!”
“Astagfirullah”. Nyaris seluruh penumpang di gerbong terperanjat.
Ternyata sebuah lemparan batu mengenai gerbong kereta, kejadian yang lumrah.
”Aku melihatnya. Ya, aku melihatnya.”
Anak-anak itu tertawa bahagia melempari gerbong, kadang dengan batu, tanah dan bahkan temanku pernah tersiram air comberan.
”Tapi sudahlah, lupakan saja!!”, aku bergumam dalam hati.
Lelah rasanya menatap langit yang katanya tak berujung itu. Untuk membunuh penat aku melanjutkan membaca buku, sambil mengingat kejadian kecil di stasiun tadi.
“Haha…” aku tertawa dalam hati.
Pada malam harinya aku memejamkan mata sejenak untuk sekedar mendedikasikan sedikit waktu menulis catatan kecil realitas bagi anak kecil yang tadi sore menyanyikan lagu ceria dengan botol plastic berisi beras sebagai alat musik.
Bersama nyanyian itu dia membagikan amplop kepada beberapa orang di barisan kursi peron yang berisi alasan dia mengamen. Ya, dia mengamen untuk biaya sekolah dan sekedar untuk membantu orang tuanya. Sekelebat lalu aku teringat sepenggal bait lagu Iwan Fals,
“Anak sekecil itu berkelahi dengan waktu, demi satu impian yang kerap ganggu tidurmu!”.
Dalam sebuah pandangan lain, beberapa orang mungkin menganggap orang tua anak kecil itu mengeksploitasi jiwa yang masih polos dan lugu. Tetapi itu adalah wajah carut-marut kehidupan kita dengan kemiskinan sebagai topeng yang mereka kenakan.
“Oh, bukan, bukan, tapi bukan itu, bukan kemiskinan yang mereka gunakan sebagai topeng, tapi kemiskinan menggunakan mereka sebagai topeng.”, suara dalam kepalaku berusaha meluruskan.
Sayangnya, hanya sedikit yang masih bisa melihat makna balik topeng itu.
Hmmm… Beberapa minggu lalu aku berkirim surat lewat alam maya dengan seorang wanita yang seumuran dengan ku, dia adalah salah satu calon anggota wakil rakyat di daerah, sebut saja daerah “antah berantah”.
“Mengapa kau mau menjadi wakil rakyat?”, tanyaku.
“Ya karena aku ingin mengetahui cara kerja wakil rakyat, dan semoga kalau terpilih aku bisa membantu orang banyak dan menyuarakan harapan mereka!”, balasnya kemudian.
Sebuah jawaban yang amat klise menurutku.
Saat ini mungkin memang segala sesuatu sudah dinilai hanya berdasarkan keuntungan, kekuasaan, pamrih, dan segala macam jenis perhitungan lainnya. Bahkan untuk menolong orang susah saja banyak yang merasa harus menjadi orang kaya terlebih dahulu. Bicara tentang kesejahteraan, bagaimana mungkin bisa terwujud jika mentalitas yang ada tersusun dari uang recehan.
Temanku berkata dalam lirik lagunya,
”Bicara tentang perubahan, tapi kontribusi apa yang sudah kau lakukan untuk hidupmu sendiri kawan?”.
Jika saja puluhan raja-raja itu bersedia mengeluarkan seluruh pundi-pundi emas dan mengikhlaskan upeti yang mereka dapatkan, tentunya sudah tidak diperlukan lagi kata “kemiskinan” dalam setiap bahasa di dunia, dan kemudian kata “kesejahteraan” menjadi absurd ditengah kesetaraan. Hingga tak ada lagi budak yang menghamba pada tuan tanah. Tapi nyatanya, masih banyak tuan tanah yang takut akan kehilangan harta, padahal dalam hati kecil mereka terkadang merasa iba saat melihat hamba-hamba lain yang menanti iba di pinggir jalan.
Sungguh dunia yang membingungkan.
Ini hanya bagian kecil dari apa yang aku diskusikan bersama beberapa sahabat, hal demikian adalah sesuatu yang lucu, kehidupan ini memang merupakan sebuah panggung parody dimana setiap pelakon memainkan peran sebagai orang yang mengutamakan kedigdayaan sebagai raja atas dunia dan seisinya, sehingga seakan-akan orang yang tak berdaya hanya diperlakukan sebagai penikmat sisa-sisa kemakmuran.
“Aku ingin hidup seribu tahun lagi”, Chairil Anwar berteriak dalam karyanya.
Demikian pula teriakan dalam hati kecilku,
“Aku ingin hidup seribu tahun lagi, agar aku dapat melihat sampai kapan kebodohan ini menjejali otak mereka!”.
Tapi maaf, ini bukan sikap, melainkan sebuah pilihan. Ini juga bukan bisikan, tapi ini adalah cerita rakyat.
Rasanya aku seperti berjalan dalam lorong gelap yang berujung pada belokan buntu.
“Oh, tidak, bukan hanya belokan ini saja, tapi belokan itu dan yang di sana, itu juga sama, buntu.”, suara dalam kepalaku kembali meluruskan.
Setiap hari para pelacur menjajakan diri dipinggir jalan, menjanjikan terpuaskannya hasrat para hidung belang. Berbagai dandanan mereka kenakan, mulai dari yang sederhana hingga yang wajah aslinya tak terlihat lagi, mulai dari yang muda hingga yang sudah berumur, dari yang kurus, sintal hingga yang gemuk tak berbentuk. Kendaraan yang kulihat melintas seakan bagai tongkat dalam perlombaan lari marathon yang berpindah dari satu tangan ke tangan lain, begitu pula, berpindah dari yang tua ke yang muda, dari yang gemuk ke yang sintal.
Tunggu dulu. Dari kejauhan terdengar raungan sirene polisi moral. Jalanan yang remang itu sekejap menjadi semakin riuh.
”Brak, bruk, prak, prok, plak, plak, prak, prok, bruk.”
Beberapa jatuh dan tertangkap, sedangkan puluhan langkah seribu menggema.
“Haha, sungguh sial mereka! Mereka itu manusia-manusia sial! Sial karena menjadi pelacur, sial karena menjadi polisi moral, sial karena mereka hidup dalam jaman yang sungguh-sungguh membuat mereka sial. Sial mereka karena mengutuk kesialan masing-masing, sedangkan mereka masih akan jauh lebih sial lagi jika belum juga sadar kalau ternyata mereka sama-sama sial.”, suara-suara dalam kepalaku berbisik tak karuan.
Ya. Malam ini udara dingin dan nyamuk berlomba membelai tubuhku yang kering kerontang. Lalu aku berfikir dan bergumam dalam hati,
“Lebih baik mengalami amnesia daripada harus kehilangan kewarasan!”.
Dan sungguh benar bila tulisan saya ini masih jauh dari sempurna.
Kemarin saya terjebak dalam dilemma tentang sebuah konsep yang sungguh merupakan misteri yang tetap asing dan sulit untuk ditebak kemana akan mengalir.
Ya, hanya menikmati sisa kehidupan yang tinggal menunggu akhir diujung perjalanan.
dua minggu terakhir ini ada segumpal darah yang menyeruak dari dalam kerongkongan saya, entah apa itu, yang pasti mungkin bukanlah sesuatu yang biasa.
tapi biarlah, biar semua binasa mungkin bersama jiwa yang semakin letih mencari persinggahan setelah menyusuri trotoar yang penuh dengan debu aspal dan materi.
Sekedar mengingat malam-malam yang penuh cahaya dan gemerlap kota tanpa jera.
Untuk semua yang terjebak dalam penjara pikiran...
Detik demi detik berdetak entah semakin cepat atau melambat…
pastinya hidup (secara sempit ya!!!) merupakan “suatu” masalah besar…
kenapa saya mengatakan “suatu” dan Bukan “sebuah”,,,
karena suatu Menurut saya adalah hal yang masih sulit untuk ditebak kemana arusnya…
seperti saya yang suatu waktu bisa menjadi aku,kamu,kau,,kami,kalian atau bahkan menjadi mereka yang juga saya ini bagain dari sebuah “massa”…
diotak ini banyak pula hal yang secara “massal” menjelali otak seperti orang yang antri minyak tanah ditengah kelangkaan akibat konversi ke bahan bakar gas…
bentuk kepala saya sebenarnya cukup kecil kalau dilihat dari badan saya yang cukup menjulang ke langit,,,
ya silahkan saja tertawa atau mencibir,,,
kira-kira mungkin mulai dari enam atau tujuh tahun kebelakang saya sering mendengar orang banyak berkata tentang saya saya mereka ada dibelakang saya atau ketika saya baru melewati mereka…
manusia sungguh sangat perhatian dalam kehidupan social pada manusia lainnya…
“busyet, tinggi banget nih orang”,,”masya’allah,, tinggi banget mas!!”
saya sih ga terlalu perduli…
nah pusingnya lagi saya ini termasuk temperampental dan suka moody kalo anak gaul sekarang bilang…
yang whatever people say lah,,,
heran juga sewaktu nonton Televisi,,,banyak acara plagiat yang muncul satu persatu…
media sekarang seperti hama
,,,mati satu tumbuh seribu,,,
alangkah baiknya kalau pemerintah menerapkan hal yang sama,,,
rakyat lapar mati satu tumbuh seribu…
aparat korup satu korup seribu,,,
diare muncul satu tumbuh seribu…
busung satu busung seribu…
ujung-ujungnya nanti ada satu nyawa harganya cuma seribu…
merdeka atau mati semestinya bisa gaung lagi suaranya zaman sekarang…
merdeka dari pemerintah???apa mungkin??
Kan presiden kita yang pilih,,,itu juga kalau pembaca Bukan golput…
Apa rela “dijajah” pemerintah??
Kalau rela, nanti banyak lagi yang mampus karena busung lapar,,diare dan rawan pangan,,
Kalau benar sudah merdeka buat apa lagi ngantri minyak tanah??/
Rakyat kecil saja masih miris,,,kasarnya boro-boro mau mikirin pilkada,pilgub,pilpres,,,wong perut sekarang aja ga ada jaminan dari pemerintah…
Zaman edan,,,Negeri edan,,,rakyat edan,,,saya juga jadi edan…
Siapa yang waras??
Lagi-lagi merdeka atau mati…
Sedikit revolusi mungkin perlu untuk negeri ini ya…
Mulai saja dari diri masing-masing,,,
lalu mulai dari keluarga,,,rt,,rw,,camat,,lurah,,kabupaten,,kota,,provinsi,,Negara…
cape
deh
!!! Prosesnya lama juga ya…
reformasi ujung-ujungnya bikin pusing juga
kan
,,,
banyak demo ga ada solusi,,,
Demokrasi cuma jadi tameng dibalik salam tempel para penikmat budaya instant…
Fiuuuh,,,,
Sungguh benar saya senang sekali menjadi orang Indonesia,,,
Banyak kekonyolan yang selalu muncul,,,itupun dalam interpretasi saya sendiri…
Ya mau apa lagi,,,wong semua juga udah edan…
Hari berakhir tanpa titik,, masih menyisakan banyak cerita untuk didengar dan dilihat…
hanya saja saat mata terpejam,,dunia menjadi lebih luas untuk dinikmati…
sedikit jernihkan pikiran dari ragu,,, mencoba menjadi lebih pasti sebelum mati…
memenggal distorsi realitas dalam secuil sajak kehidupan…
belajar dari kehidupan nyalakan pijar warna yang redup…
dengan senyawa cinta dan kedamaian yang tetap masih terlihat utopis…
belum terkikis bersama kesombongan dan persetan cannabismu…
kau katakan persetan pada diriku…
kawaan,,,biarkan jalan yang tentukan siapa yang akan meneguk manisnya seisi cawan…
